Tangisku deras turunnya. Bahagiaku singkat sekali dimiliki. Namun, aku bisa apa lagi selain menerimanya. Aku mencintainya. Aku pun tahu Al seperti apa sebelum dirinya bertemu dan hidup bersamaku. Dia banyak benar dalam berbagai hal, entah mengapa otak cerdasnya itu justru menganggap salah perasaan nyamannya terhadapku. Ini sungguh tak adil sekali. Sebelum tahu perasaannya aku siap diceriakan, tapi setelah tahu ... Tak bisa. Aku tak ingin berdiam diri. Al suamiku, aku harus menyadarkannya akan kebahagiaan kami yang paripurna saat bersama. Al harus tahu dan merasakannya sendiri. Aku bangkit dari nelangsa, kemudian berganti pakaian. Tak lama keluar dari kamar aku bisa menemukan sosoknya yang sedang bersama seorang perempuan. Dari belakang teman bicara Al tampak cantik, postur tubuhnya coco

