Tujuh 2

1320 Words

Tidurku nyaman. Nyenyak sekali, sampai ponselku berdering, mengganggu kedamaian yang ada. Aku sebal, tapi tetap meraba sekitar dan akhirnya meraih benda itu. Tampilan ikon telepon menunjukkan nama Chana yang terpampang, jelas pada layar menyala. "Assalamu'alaikum, Bu." Sapaku setengah hati. "Wa’alaikumussalam. Qi, kalian belum bangun?" "Ini udah bangun," jawabku malas, masih lesu. "Baru bangun 'kan?" Aku menjauhkan ponsel sesaat hanya untuk melihat waktu. Pukul 4.47 pagi. "Ada apa Bu nelepon pagi-pagi begini?" Aku tahu kebiasaan Chana mengganggu putranya, yang setiap akan masuk waktu salat selalu mengingatkan lewat panggilan. Namun, aku bukan Al. Pasti ada hal lain yang mendesak sehingga Chana meneleponku. Sepertinya Chana juga sudah lama terjaga dari tidurnya. Tak ada bekas serak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD