Aku menolak diajak makan siang, tapi bersikap baik menemaninya makan karena ingin mempertegas bahwa aku tak berharap dia kembali sama sekali. Namun, setiap laki-laki sepertinya punya sisi menakutkan mereka yang bisa sesuka hati ditunjukkan untuk memenangkan ego diri. Senyuman kemenangan tergambar di wajah Pak Dodo. “Dengar-dengar Pak El kerja di sini juga.” “Iya,” jawabku tak ramah. “Dulu Bu Qiya juga cinta Pak El, tapi berubah ‘kan. Saya gak masalah sekarang Ibu cinta sama Pak Al, toh akhirnya Ibu juga akan balik ke saya. Saran saya, Bu ... cintailah laki-laki yang mencintai Ibu, saya. Perempuan itu harus dicintai bukan mengejar laki-laki, mencintai.” Aku ingin mengumpat dan memaki, tapi kami sedang di lobby. Dia tamu dan ada mata rekan satu hotel yang mengenalku di sekitar sini. Sung

