Aku mendengarkan ceramah Mbak Hira hingga pukul setengah enam sore. Sedikit banyak aku mulai memahami kaidah syariat tentang rujuk dan talak. “Qi ...” “Ya?” “Pulang gih, udah jam segini. Mbak harus layanin Mas Hamka. Daripada Mbak di talak juga, kan gak lucu, kalo kita sama-sama diceraikan,” jelasnya senyum-senyum tak jelas. “Aku diusir?” “Iya.” Mbak Hira menampilkan cengiran lebar lalu berbisik, “Kayaknya Al cukup paham agama, Qi. Dia gak nalak kamu waktu haid, gak nalak kamu langsung talak tiga sekaligus, dan masih ngasih tempat tinggal sesuai syariat. Itu ... udah kesempatan yang bagus untuk berbenah diri. Mbak sebenarnya gak percaya seratus persen kamu gak salah apa-apa, tapi ... ya udah, itu masalah kalian. Baiknya balikan sih, bilang aja sama dia, nikah itu bukan cuma cinta ...

