Pukul empat sore, dimana saat biasanya para pekerja yang sudah lelah dan kusut wajah menampilkan senyuman karena berakhirnya delapan jam kerja. Biasanya aku juga begitu, tapi tidak sore ini. Saat ini, saat yang tepat untukku merasa khawatir. Al mungkin sudah menungguku dengan pisau di lidahnya untuk menikamku dengan banyak sekali kalimat gerutuan. Rasanya aku tak ingin menemuinya, tidak juga Chana. Oh, besok harusnya hari liburku! "Kenapa, Qi?" Aku menghela napas saja sebagai jawaban untuk tanya Wati. "Aneh lho kamu. Aku malah menunggu momen libur buat bareng-bareng sama suami," timpal Siti. "Kamu nikah karena terpaksa ya?" "Atau dijodohkan?" "Atau karena wasiat semacamnya?" Tanya Wati dan Siti menghujaniku tanpa jeda. Masih banyak lagi tanya lain dari mereka yang tak kumasukkan ke

