Perempuan Pengganggu

1017 Words
“MAAAAS! MAAAAS! BANGUUUN!” Langit masih terombang-ambing di lautan mimpi ketika sebuah suara menggema di telinganya, lalu mengguncang tubuhnya tanpa ampun, hingga ia terbalik telentang di atas kasur. Sosok itu lagi. Seringai kejam dari makhluk satu darahnya—Mentari, si pengacau mimpi. “BANGUUUUN!” Langit membuka sedikit kelopak matanya yang berat. “Duh, De. Ini kan LIBUR,” gerutunya, suara serak bercampur kantuk. “Ada cewek cantik nyariiiin!” jerit Mentari lagi, suaranya melengking. “Aduuuh! Ya udah, ambil aja makanannya. Biasanya juga langsung balik!” Langit kembali mengempaskan tubuhnya ke kasur, berusaha meraih selimut dan tidur lagi. “Bukan Kak Via! Makanya banguuun!” Tanpa ampun, Mentari menarik lengan Langit hingga tubuhnya terpaksa berbalik lagi. Namun Langit tetap tak peduli. Ia sama sekali tak percaya pada rayuan adiknya. Bukan sekali dua kali Mentari membangunkannya di hari libur hanya karena teman-teman perempuannya ingin kenalan. Dasar abg ganjen, gerutunya dalam hati. “MALIA!” Nama itu memaksa otak Langit bekerja keras. Terasa familiar. Ia menggali ingatan. Sesaat kemudian, matanya terbuka lebar, alisnya terangkat tinggi. Hah?! Perempuan itu lagi? “MALIA?!” Langit bangkit seketika, duduk tegap di atas kasur. Mentari mengangguk cepat, senyum puas merekah di bibirnya. “Di sini? Di rumah ini?” tanya Langit, masih tak percaya. Mentari kembali mengangguk, jelas menikmati kepanikan sang kakak. Langit mengusap wajahnya, mencoba memastikan ini bukan mimpi buruk. Ya Tuhan, kenapa Kau datangkan makhluk pengganggu itu lagi ke hidupku? batinnya. Setelah membasuh wajah dengan air dingin, Langit menyeret langkah ke ruang tamu. “Hai.” Langit tertegun. Malia di sana dengan senyum manis yang entah mengapa terasa berbeda. Lebih segar. Lebih hidup. Kenapa sekarang dia semanis ini? Namun kekaguman itu hanya singgah sesaat. Langit buru-buru menyadarkan diri. Ia duduk di samping Mentari. “Ada perlu apa?” tanyanya singkat, tanpa basa-basi. “Aku habis olahraga, terus langsung mampir ke sini. Sekalian bawain sarapan,” jawab Malia, seolah tahu isi kepala Langit. Langit menanggapinya dengan dingin. Hingga sebuah injakan keras di kakinya membuatnya tersentak. Mentari melotot tajam, memberi peringatan. “Makasih ya, Kak, udah repot-repot,” ujar Mentari manis, sambil melirik Langit yang meringis mengusap jempol kakinya. Di atas meja, empat gelas karton kopi panas mengepulkan aroma harum. Di sampingnya, sebuah dus pastry dari merek ternama tampak menggoda. “Aku nggak tahu di sini ada berapa orang, jadi semoga kopinya cukup,” ucap Malia, tatapannya menyapu ruangan. “Oh, malah kelebihan kok, Kak. Kita cuma berdua aja di sini,” sahut Mentari cekatan sambil mengambil satu gelas dan menyodorkannya ke depan wajah Langit. “Nih. Biar bangun.” “Kamu ke sini cuma buat ngasih ini?” Langit akhirnya bicara, nadanya datar. Malia mengangguk. “Repot amat. Kan bisa ojol,” lanjut Langit acuh. Namun, ia kembali meringis ketika lagi-lagi Mentari menghujam jempol kakinya. “Oke… makasih. Buat semuanya,” ucap Langit, menahan kesal pada adiknya. “Aku juga mau… ngundang kamu,” ujar Malia ragu, seakan menimbang keberanian. “Mama sama Papa mau ketemu kamu.” “HAH?!” Langit hampir tersedak kopi. “Wait... wait... Kamu minta aku melamar kamu?” “Ih, Mas! Dengerin dulu! Kegeeran banget!” Mentari mencubit tangan Langit. “Aduh! Sakit, De! Dari tadi KDRT mulu!” omel Langit. Malia tak kuasa menahan tawa melihat pertengkaran kecil itu. “Papa sama Mama cuma mau kenalan. Mau ngucapin terima kasih karena kamu udah nyelamatin aku,” lanjutnya, senyumnya meredup. Mentari menatap Malia penasaran. “Nyelamatin? Emangnya Kakak kenapa?” "De..." Langit melotot, memberi isyarat pada Mentari untuk pergi. “Aku ke belakang dulu ya, Kak,” pamit Mentari, mengerti bahwa ada saat-saat kakaknya itu tak ingin berbagi cerita dengannya. “Oh? Bukannya kamu yang cerita ke orang-orang kalau kamu yang nyelamatin aku?” sindir Langit. Malia tertunduk. “Maaf, aku cuma—” “Kamu sering bohong, ya?” potong Langit sinis. Malia tak membalas. Ia hanya menatap penuh harap. “Apa kamu bisa?” “Nggak,” jawab Langit tanpa ragu. Wajah Malia meredup. “Nggak semua kemauan kamu harus dituruti orang lain, Princess Malia," sambung Langit. “Tapi permintaan orang tuaku. Please...” “Pokoknya nggak," ucap Langit, final. “Alasannya?” “Aku punya hak buat nolak. Nggak ada aturan aku harus nurutin semua maumu.” Langit menyilangkan tangan, sikapnya defensif. Malia menunduk, bahunya meluruh. Jemarinya saling meremas gugup. Langit menyesap kopi, mengamati wajah itu. Ia bertanya-tanya, apa lagi yang akan dilakukan gadis itu. Menunggu sampai ia menyerah? Tidak. Kali ini tidak. Namun melihat kekecewaan yang teramat jelas di wajah gadis itu, hati Langit melunak. “Oke, gini aja,” ucapnya lebih tenang. “Kamu bilang ke Papa Mama kamu kalau aku udah lupain kejadian itu. Kalau Tuhan masih mau kamu hidup, pasti akan ada siapa pun yang menyelamatkanmu. Jadi, itu bukan hal luar biasa. Nggak perlu dibesar-besarkan.” Malia akhirnya menyerah. Ia pulang dengan langkah berat. Langit menghela napas lega ketika mobil Malia meninggalkan rumahnya. Mentari muncul dari dalam kamar. “Siapa sih, Mas? Gebetan baru ya?” Langit menggeleng. “Musuh.” “Musuh kok, bawain sarapan? Orang kantor, ya?" “Iya. Kita sering berantem.” “Berantem itu tanda cinta, loh..." Mentari mengerling usil. "Kak Malia kelihatannya baik. Cantik. Tajir pula. Masa sih, Mas enggak tertarik? "Loh, bukannya kamu fans garis kerasnya Devia?" Langit mengangkat alisnya. "Aku sih, siapa aja yang lebih menguntungkan." Langit mendengus. “Dasar abg matre.” Ia mengacak rambut Mentari lalu masuk ke kamar dan mengunci pintu. Tapi Mentari belum berhenti. “MAAAS! AKU MERSETUI HUBUNGAN MAS LANG SAMA KAK MALIA!” Teriakan itu berhenti setelah Langit melempar bantal ke pintu. Di atas tempat tidur, Langit merenung. Ia tak habis pikir. Mengapa gadis itu repot sekali mendatangi rumahnya yang sempit hanya untuk mengantarkan sarapan? Apa sebenarnya maunya? Jangan-jangan... Ah! Tidak mungkin! Tidak boleh terjadi. Langit mengusap wajahnya, membuang pikiran itu. Ia lalu berusaha memejamkan mata, namun kafein yang diminumnya tadi mengusir rasa kantuknya. Akhirnya Langit bangkit dari tempat tidur. Kepalanya terlalu penuh untuk kembali tidur. Ia butuh bergerak, butuh udara, butuh menjernihkan pikiran. Dari balik pintu kamar Mentari yang tertutup rapat, musik keras terdengar menggelegar. Langit mengeluarkan sepedanya, lalu mengayuh perlahan meninggalkan rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD