Perempuan Itu Bernama Malia

1320 Words
Suara klakson mobil yang melengking nyaring membuat Langit langsung melesat keluar dari dalam rumah. Ia melompat masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya. "Sori, Mas Bim, ngerepotin!" ucapnya pada pria di balik kemudi. "Emang lu beneran udah enggak apa-apa?" Bima melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan. "Udah. Dari semalam juga enggak kenapa-kenapa. Cuma pingsan sebentar," sahut Langit. Tangannya diam-diam memegangi kepala yang masih berdenyut. Ia memang memaksakan diri masuk kerja. Tak tega membiarkan Mas Bima sendirian di kafe-apalagi hari Jumat selalu jadi puncak keramaian. "Hai, Via!" Tiba-tiba Langit menurunkan kaca mobil. Pandangannya menangkap sosok Devia yang sedang menyirami tanaman di halaman rumahnya. Ia melambaikan tangan, menebar senyum termanisnya-teringat pesan Mentari untuk membalas kebaikan gadis itu. Devia tampak terkejut, rona merah tipis langsung menjalar di pipinya. "Memangnya dia masih suka kasih donasi makanan?" tanya Bima, melirik Langit yang hanya membalas dengan cengiran. Bima menggeleng pelan. "Habis kebentur, otak lu malah tambah ngaco. Lagian, ngapain sih semalam pakai naik-naik pagar segala?" Langit melongo. "Siapa yang manjat tembok? Iseng amat gue." "Lah, kata Pak Satpam, cewek itu bilang lu yang manjat. Terus pas lompat, nimpa dia." Kini Langit yang menghela napas kesal. Sambil menahan pusing, ia pun menceritakan kronologi kejadian semalam. Bima tergelak. Tawanya memenuhi kabin mobil. "Lu tahu enggak siapa cewek itu sebenarnya?" tanyanya, ekspresinya mendadak serius. Langit menggeleng. "Enggak perlu tahu. Buat apa?" "Anaknya Pak Subagja." Langit terperanjat. "Yang punya Gedung Bagja Tower? Masa sih? Kok gue enggak pernah lihat?" "Mungkin baru pulang dari luar negeri. Ketiga anaknya kuliah di luar semua." "Terus kenapa dia stres sampai mau bunuh diri?" tanya Langit, rasa penasarannya mulai muncul. Bima menggeleng. "Gue juga enggak tahu." "Hidup orang kaya memang complicated," gumam Langit, memalingkan wajahnya kembali ke jalanan macet di hadapannya. Bima tersenyum tipis. "Jangankan dia. Hidup lu aja complicated," sahutnya, menatap kemacetan dengan gusar. Langit tak menanggapi. Pandangannya tetap lurus ke depan, menembus barisan kendaraan yang merayap lambat. Bima memang tahu. Tentang malam-malam panjang di jalanan, tentang kepalan tangan yang dulu lebih sering berbicara daripada mulutnya. Tentang dunia yang pernah ia tinggalkan-namun menyisakan satu hal yang tak pernah padam: keberanian. Keberanian itulah yang menyelamatkan gadis itu. Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan lobi Gedung Bagja Tower. "Gue belanja dulu. Sebelum makan siang udah balik," kata Bima. "Siap, Mas!" Langit mengangguk, menenteng boks roti dari kursi belakang dan bergegas masuk ke gedung. "Pagi, Mas Langit!" Pak Riswan menyambutnya ramah. "Hari ini tugas pagi, Pak?" "Iya, Mas. Maaf nih, enggak bisa bantuin dulu." "Enggak apa-apa, Pak." Langit menahan kekecewaan. Ia memang berharap bisa dibantu-ia sudah terlambat setengah jam membuka kafe. Dua puluh menit kemudian, kafe akhirnya siap. Dengan napas masih ngos-ngosan, Langit membalikkan tanda OPEN di pintu kaca. Namun, jantungnya mendadak berdebar. Seorang wanita berdiri tepat di depan pintu, tersenyum. Langit terpaku, lalu melangkah mundur saat wanita itu mendorong pintu dan melangkah masuk. "Selamat pagi, Mas Langit!" Sapanya dengan wajah berseri. Tak ada lagi air mata, tak ada lagi tatapan putus asa. Dia seolah bukan wanita yang ia selamatkan tadi malam. Seperti baru disadarkan, Langit dengan cepat berlari ke pintu belakang, menguncinya rapat, lalu memasukkan kunci itu ke dalam saku celananya. Senyum wanita itu lenyap. "Lo pikir gue mau bunuh diri lagi?!" ucapnya kesal, suaranya sedikit meninggi. "Lah, terus mau ngapain ke sini?" Sungut Langit. Ia berdiri tepat di depannya dengan tangan terlipat di d**a, seolah ingin menghalanginya pergi ke teras belakang. "Nih! Semalam Jaket lo ketinggalan di mobil." Wanita itu mengulurkan sebuah bungkusan plastik pada Langit. "Thanks!" Sahut Langit singkat, mengambil bungkusan itu, namun tetap pada posisi waspada. Tapi wanita itu masih belum beranjak pergi. Dia masih berdiri memandangi Langit, tatapannya sulit diartikan. "Terus? Mau ngapain lagi?" tanya Langit galak. Sungguh, ia masih kesal dengan kejadian tadi malam. Gara-gara dia kepalanya sakit semalaman sampai tak bisa tidur. "Gue mau minta maaf!" Wanita itu mengulurkan tangannya. Dengan malas, Langit membalas uluran tangannya, sentuhan mereka singkat. "Oke! Gue maafin. Sekarang lu bisa pergi. Gue mau kerja!" Langit masuk ke dalam konter, berusaha mengakhiri interaksi. "Gue mau di sini lama juga enggak masalah, kan? Ini kan kafe umum?" Langit menghela napas panjang, berusaha menahan kesabarannya yang setipis kertas. "Terserah," sahutnya pasrah. Namun, mendadak kepalanya pusing. Ia memegangi kepalanya sambil meringis. "Kamu enggak apa-apa?" Wanita itu memandangi Langit dengan cemas. Ia maju selangkah. "Tadi sih baik-baik aja sebelu lo datang. Sekarang kambuh lagi," tuduh Langit. "Gue antar ke dokter, ya?" Wanita itu terlihat semakin cemas, tangannya terangkat, ingin membantu. "Gue udah bilang dari semalam, enggak perlu! Nih, gue udah beli obat." Langit, menunjukkan sebutir permen yang diambilnya dari laci konter dan menyelipkannya ke mulut. "Sekarang lu mau ngapain lagi?" Tanya Langit, melihat wanita itu masih berdiri di depannya. "Pesan kopi." "Kopi apa?" "Terserah!" Langit membuatkan secangkir kopi latte panas untuknya. "Oh iya, kita kan, belum kenalan?" Wanita itu kembali mengulurkan tangannya pada Langit. "Lu kan, udah tahu nama gue?!" sahut Langit lagi acuh. Wanita itu menarik tangannya kembali, lalu membawa kopinya ke sudut yang tak terlihat. Diam-diam Langit memperhatikan. Kekhawatiran menyelinap. Ia memeriksa saku celananya, memastikan kunci teras belakang masih di sana. Beberapa saat kemudian, satu per satu pengunjung kafe berdatangan. Kesibukan membawanya melupakan gadis itu. Hingga akhirnya Bima datang. "Ramai, enggak?" tanya Bima, meletakkan dua kantong belanjaan di meja. "Lumayan, Mas. Baru pada bubar." "Terus itu siapa?" Bima menunjuk ke sudut ruangan. Ke meja yang tertutup pohon hias. Langit tersadar. Gadis itu masih di sana. "Yang semalam itu. Dari pagi dia di sini. Enggak tahu mau ngapain?" sungutnya. "Loh, dia kan lagi ngopi?" Bima menatap Langit, merasa aneh. "Jangan bilang kalau dia lagi nungguin lu?" Bima menyipitkan matanya, curiga. "Tadi dia minta maaf sama gue, dan udah gue maafin." "Terus...?" "Ya, udah gitu aja," sahut Langit, merasa tak ada yang perlu dijelaskan lagi. "Lu pasti cuekin dia?" Langit memalingkan wajah, menghindari tatapan Bima. "Lu masih ingat kan, Lang, dia itu siapa?" Bima mencoba mengingatkan. "Tapi gue enggak tahu dia maunya apa, Mas." Langit menjawab malas. "Dari dulu kelakuan lu enggak pernah berubah. Lu sering banget cuekin pelanggan cewek sampai-sampai mereka malas datang ke sini lagi." "Gue kan enggak punya waktu buat melayani cewek-cewek centil itu," sungut Langit, membela diri. Bima menahan senyumnya. Ia tahu Langit tidak suka dengan pelanggan-pelanggan wanita yang kerap menggodanya di kafe. "Tapi itu kan bagian dari marketing juga, Lang. Kalau lu bisa sedikit ramah sama mereka, omzet kita bakalan cepat naik." "Tapi dia itu ribet!" Langit bersikeras. Bima menggeleng. "Enggak bisa! Ini tuh, anaknya Pak Subagja. Sekarang lu samperin dia. Duduk lima menit. Atau lu mau gue pecat?" ancamnya, tegas. "Hah?" Langit terbelalak. "Lu mau dia lapor ke bapaknya karena lu cuekin, terus kita enggak bisa sewa tempat di sini lagi?" Bima memperjelas ancamannya. "Ya, kali segitunya?" gerutu Langit, tak percaya. "Dia itu lagi depresi, Lang. Dia bisa melakukan apa aja yang enggak terduga." Langit akhirnya menyerah. Dengan langkah berat ia menghampiri gadis itu. Ah! Mas Bima lebay banget, gerutunya dalam hati. Gadis itu menyambut Langit dengan senyum lebar. Tapi Langit melihatnya seperti ejekan. "Malia!" Wanita itu mengulurkan tangannya. Langit menyambut dingin. Ia menarik kursi sedikit menjauh, lalu duduk dengan canggung. "Aku mau bilang terima kasih karena kamu udah nyelamatin aku. Dan sekali lagi aku minta maaf karena udah bikin kamu jadi sakit kepala," ucap Malia tulus, sorot matanya melembut. Langit mengangguk. "Oke. Permintaan maaf diterima! Masalah selesai!" sahutnya dengan wajah yang masih dingin. "Hmm... aku boleh gak jadi teman kamu?" Malia menatap Langit dengan secercah harapan di matanya. Langit balik menatap gadis itu dengan bingung. Digaruknya kepalanya yang tak gatal. Perasaan gue yang kebentur? gumamnya. Buat apa gadis seperti dia ingin berteman dengannya? Namun ia tak berani menolak. Wajah gadis itu berubah cerah. "Aku minta nomor hape kamu." Ia mengulurkan ponselnya. Langit mengangkat kedua alisnya. Nomor hape? Ah! Dasar cewek ribet! Langit ingin menolak, tapi menyadari Bima mengawasinya, akhirnya ia menyerah. "Oke! Sekarang udah semuanya, saya mau istirahat dulu," ucapnya, seraya mengembalikan ponsel dan beranjak pergi. Dari balik punggung Langit, Malia memandanginya dengan senyum yang lebar dan mata yang berbinar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD