Langit menatap kotak makanan di atas meja makan. Secarik kertas kecil bertulisan tangan Mentari menempel rapi di atasnya: “Dari Kak Malia.”
Ia buru-buru membukanya—dua sandwich besar terlihat sangat menggugah selera.
Langit tersenyum kecil. Ia teringat “gencatan senjata” yang mereka sepakati: ia tidak boleh menolak apa pun yang diberikan Malia. Mereka sudah berjanji untuk saling menghargai. Malia bahkan sudah menepati janjinya dengan tidak mengganggu pekerjaannya di kafe.
Hanya satu permintaan Malia yang masih sulit ia lakukan: menjauhi Devia dan menolak semua pemberiannya.
Bagaimana bisa? Devia justru semakin sering muncul ke rumah, kadang mengantar makanan, kadang menemani Mentari yang kesepian. Langit tak tega menolak kedatangan gadis itu.
Ah, Malia memang selalu saja bikin repot…
Langit buru-buru menghabiskan sandwich itu, takut Devia tiba-tiba muncul membawa sarapan yang tidak mungkin ia tolak.
…
Langit tiba di kafe lebih pagi dari biasanya. Saat hendak masuk elevator, Pak Riswan setengah berlari menghampirinya.
“Tumben pagi banget, Mas?” sapanya dengan senyumannya yang khas.
“Iya nih, lagi rajin.” Langit terkekeh kecil. “Udah selesai tugas, Pak?”
“Udah. Tinggal nunggu pergantian jaga?” Jawab Pak Riswan dengan senyum yang tak pudar. Senyum yang membuat Langit sering berpikir, sepertinya hidup pria itu bebas dari masalah. Kontras sekali dengan dirinya.
Begitu sampai di kafe, Pak Riswan kembali bertanya, “Mas Langit sekarang terima delivery juga ya?”
Langit mengangguk. “Cuma dari kantor-kantor sini aja, Pak. Itu juga kalau kafe lagi enggak rame.”
“Ooh... pantas penggemar Mas Langit makin banyak,” goda Pak Riswan sambil menurunkan kursi-kursi dari atas meja.
“Ah, pelanggan biasa, Pak,” elak Langit.
“Lho, cewek-cewek itu datang ke sini kan cuma mau lihat Mas Langit.” Pak Riswan menyeringai nakal.
Langit hanya tersenyum tipis. Percuma membantah.
“Kafe ini kebanyakan pembelinya cewek-cewek muda. Kalau saya yang layanin bisa sepi. Kurang ganteng,” lanjut Pak Riswan terkekeh.
Langit ikut tertawa. “Pak Riswan bisa aja," sahutnya, sambil menyodorkan secangkir kopi hitam yang baru dibuatnya pada pria itu.
Pak Riswan meneguk kopinya. “Tapi jaman sekarang itu cewek-cewek sukanya sama cowok kayak Mas Langit gini. Acak-acakan tapi ganteng. Mbak Malia aja sampai jatuh cinta.” Ia terkekeh.
Langit hampir saja tersedak kopi yang diminumnya mendengar ocehannya.
Pak Riswan tergelak puas. “Udah Mas, ngaku aja. Satu gedung ini tahu semua. Mbak Malia kelihatan banget sukanya.”
Langit memilih diam, tak menanggapi lagi. Ia fokus menyiapkan pesanan delivery yang sudah masuk sejak semalam.
“Katanya sering ke rumah ya, Mas?” tanya Pak Riswan, belum puas mengorek informasi.
Langit mengernyit. Tahu darimana? “Kadang-kadang aja, Pak. Kalau ada perlu," jawabnya singkat. Berharap Pak Riwan tak lagi bertanya.
Pak Riswan mengangguk-angguk. "Cowoknya Mbak Malia yang dulu juga penampilannya kayak Mas Langit begini. Ganteng tapi berantakan. Orang bilang itu, Bad boy.”
Langit langsung menoleh. Rasa penasarannya terusik. “Oh ya?”
“Urakan, Mas,” lanjut Pak Riswan. “Pak Subagja saja sampai nggak suka. Padahal kelihatannya orang kaya. Mobilnya aja bagus. Saking gak sukanya, Mbak Malia sampai disuruh putus. Makanya dia dikirim ke luar negeri biar gak ketemu lagi.”
Langit terdiam, mencerna informasi mengejutkan itu. “Pak Riswan tahu dari mana?”
“Dari supirnya. Dia sering cerita.”
Ah, pantas saja Pak Riswan tahu Malia sering ke rumah, gumam Langit dalam hati.
“Kalau Mas Bima itu penggemarnya kebanyakan ibu-ibu ya, Mas?” Pak Riswan mendadak ganti topik.
Langit tertawa kecil. Sudah rahasia umum ibu-ibu kantor menyukai Mas Bima, meski Bima tak pernah menanggapi serius.
“Mas Bima itu kayak Bima di pewayangan. Tinggi besar. Tapi pendiam. Orang bilang, gayanya cool," ujar Pak Riswan, sambil kembali meneguk kopinya yang hampir habis.
Tapi Langit sudah tak fokus. Pikirannya dipenuhi oleh Malia—bad boy, putus paksa, dikirim ke luar negeri. Benarkah depresi Malia bermula dari itu?
Sebuah teka-teki baru muncul.
“Mas Langit mau antar pesanan? Saya bantuin sekalian mau ke pos,” tawar Pak Riswan, mengagetkan Langit.
“Boleh Pak!” Langit mengangguk.
---
Pengunjung terakhir baru saja keluar. Mas Bima sudah pergi makan siang. Langit duduk di kursi, menghela napas panjang. Hari ini sangat melelahkan.
Pintu kafe tiba-tiba terbuka.
Pak Subagja melangkah masuk dengan tenang. Ekspresi wajahnya berbeda—ada kelegaan, namun tampak memendam sesuatu.
“Apa kabar, Langit?” sapanya hangat.
Langit berdiri kaku. Jantungnya berdetak cepat. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang penting. Pria itu tak pernah sengaja datang ke kafe tanpa alasan. “Saya buatkan kopi, Pak?”
“Tidak usah. Saya cuma sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan sama kamu."
Hening menurun. Langit kembali ke kursinya. Degup jantung semakin kencang saat Pak Subagja duduk di depannya, menatapnya.
“Langit…” Suara pria itu pelan dan dalam. “Saya mau berterima kasih sama kamu. Berkat kamu, Malia tidak perlu menjalankan terapi lagi. Kata dokter, kondisinya sudah membaik.”
Senyum lega muncul di wajah Langit.
Akhirnya… sebentar lagi selesai…
“Sekarang dia lebih bersemangat. Bahkan tadi pagi dia bangun pagi sekali, membuatkan sarapan untukmu.”
Langit tersipu kecil, teringat kiriman sandwich tadi.
Namun senyum Pak Subagja perlahan memudar. “Tapi… saya mau meminta tolong kamu sekali lagi.”
Degup jantung Langit melonjak.
“Tolong apa, Pak?” suaranya nyaris berbisik.
“Tolong temani Malia sampai dia benar-benar kuat. Sampai siap untuk kamu tinggalkan.”
Langit terdiam. Rasa lega yang tadi sempat muncul menguap begitu saja.
“Sampai… kapan, Pak?”
“Beberapa bulan saja,” jawab Pak Subagja lembut. “Sampai dia mandiri, dan siap gabung perusahaan. Saya percaya cuma kamu yang bisa membimbingnya. Kalau saya yang bicara, dia selalu menolak. Memberontak. Cuma dia satu-satunya harapan kami." Nada suaranya terdengar getir.
Langit mengusap tengkuknya, bingung. Rupanya kontraknya belum selesai. Bahkan kini semakin berat. Pantas saja ia membayarnya sangat besar.
“Saya tahu saya tidak berhak memaksa,” lanjut Pak Subagja. “Tapi sebagai seorang ayah… saya memohon bantuanmu.” Tatapannya penuh harap—tatapan yang tak bisa ditolak.
Tanpa sadar, Langit mengangguk.
Pak Subagja tersenyum lega, suaranya bergetar. “Terima kasih, Nak. Anggap saya seperti orang tuamu sendiri. Kita saling bantu. Saya juga akan bantu kamu. Saya tahu kamu membiayai adikmu… biar saya bantu.”
Langit menggeleng cepat. “Tidak usah, Pak. Bapak sudah cukup membayar saya."
“Tolong jangan ditolak. Ini demi Mentari. Biaya kuliah itu mahal. Biar saya membantumu."
Langit terdiam, sebelum akhirnya mengangguk. Demi Mentari… bisiknya di hati.
Pak Subagja tersenyum lebar. “Terima kasih, Langit. Terima kasih." Matanya berkaca-kaca.
Dan kini Langit kembali harus menerima takdirnya—masuk lagi ke pusaran hidup Malia. Hidup yang tak pernah tenang, tak pernah sederhana, selalu penuh kejutan dan drama.