“Selamat pagi!”
Suara nyaring Malia memecah suasana kafe. Beberapa kepala spontan menoleh, dan dalam hitungan detik perhatian tertuju pada sosok gadis itu.
Bima terkekeh kecil sambil menyapa balik. “Pagi!”
“Aku bawain makan siang buat Mas Bima.”
Malia menyodorkan sebuah paper bag dengan elegan, seperti menyerahkan hadiah istimewa.
“Buat saya aja?” Bima mengangkat alis, lalu melirik ke arah Langit yang masih sibuk meracik kopi di balik konter. Nada suaranya menggoda.
Malia mengangguk manis. “Aku mau ajak Langit makan siang. Berdua.”
Senyumnya samar, tapi sarat arti.
“Oke. Makasih banyak.” Bima menerima paper bag itu sambil tersenyum geli. “Minum dulu?”
Malia menggeleng halus, lalu berjalan ringan mencari tempat duduk. Ia tak peduli pada tatapan orang-orang. Ia justru tampak menikmatinya—menjadi pusat perhatian.
Di konter, Langit melirik jam di pergelangan tangan. Sudah waktunya istirahat. Kafe mulai lengang. Ia melepas apron dan menghampiri Malia yang duduk sambil menggoyang-goyangkan kaki, seperti anak kecil yang tak sabar diajak bermain.
“Mau makan di mana?” tanyanya letih.
“Di kantin!” seru Malia antusias. Ia langsung menarik tangan Langit keluar.
Langit berhenti mendadak, menatapnya tajam.
“Loh, kamu bilang mau makan nasi Padang?”
“Kan di kantin ada makanan Padang.”
Jawaban polos itu membuat Langit memejamkan mata kuat-kuat. Malia memang jagonya memelintir kata. Yang ia bayangkan tadi restoran Padang di luar gedung, bukan kantin kantor yang dipenuhi ratusan manusia.
“Kenapa harus di kantin, Mal? Kamu kan tahu di sana ramai banget.”
Malia menatapnya, pura-pura tak mengerti. “Iya. Terus kenapa?”
Langit hampir tak percaya. Jelas Malia paham maksudnya. Jam makan siang di Bagja Tower adalah waktu paling ramai. Dan akhir-akhir ini, mereka sedang jadi bahan gosip. Apakah Malia sengaja ingin memamerkan hubungan mereka yang masih abu-abu itu?
Ia menggeleng frustasi. Baru tiga hari berdamai, kepalanya sudah pening lagi.
“Kenapa?” tanya Malia, memperhatikannya sejak tadi.
“Enggak,” jawab Langit singkat. Percuma berdebat.
Lagipula, ia sudah menerima bayaran. Seratus juta mungkin kecil bagi mereka, tapi terlalu besar untuk menolak permintaan apa pun—apalagi hanya makan siang.
Dan benar saja.
Begitu mereka memasuki kantin, suasana langsung berubah. Seolah ada sorot lampu yang tiba-tiba mengarah ke mereka. Bisik-bisik terdengar. Beberapa pasang mata terang-terangan menatap.
Langit ingin menenggelamkan kepalanya ke meja. Ia benci jadi sorotan. Benci jadi bahan diskusi. Apalagi sebagian dari mereka adalah pelanggan Cafe Dewa. Pasti mereka menganggapnya laki-laki materalistis.
Ironisnya—itulah kenyataannya.
Sementara Malia justru tampak bahagia. Ia menyapa orang-orang dengan ramah, menggandeng tangan Langit erat, memesankan makanan, lalu menariknya ke tengah kerumunan paling mencolok. Seolah sengaja menempatkan mereka di atas panggung.
“Gimana? Kafe udah mulai ramai lagi?” tanyanya ceria setelah duduk.
“Lumayan,” jawab Langit datar.
“Sejak kamu mulai merayu pelanggan lagi?” goda Malia.
Langit memutar bola mata.
“Mal, tolong… Jangan mulai lagi. Kamu udah janji enggak ikut campur kerjaanku.”
Malia mengerucutkan bibir, terpaksa mengalah—meski jelas tak suka.
Kini Langit paham. Semua ini soal cemburu. Malia tampak menerima, tapi sebenarnya ia hanya sedang menahannya. Dan hari ini, ia sengaja memamerkan mereka—memberi tahu semua orang bahwa hubungan mereka spesial. Ini adalah rencananya.
“Habis ini mau ke mana?” tanya Langit.
“Nungguin kamu.”
“Di kafe?” Alis Langit terangkat.
Malia mengangguk.
“Mal… kamu kan udah janji,” keluh Langit putus asa.
“Oke!” sahutnya cepat. “Aku tunggu di kantor Papa. Tapi sekali-sekali aku nengokin.”
“Terserah.” Langit menyerah total.
Malia tersenyum kecil. Entah kenapa, melihat Langit kesal justru menyenangkannya.
Saat makanan datang, Langit dengan cepat menghabiskannya. Ia ingin segera keluar dari kantin. Namun matanya tertumbuk pada piring Malia yang hampir utuh.
“Kamu gak makan?” tanyanya keheranan.
“Aku udah kenyang. Tadi sarapan banyak.” Malia mengusap-usap perutnya.
Langit terpaku. Lalu menghela napas panjang. Sangat panjang.
“Kalau gitu, kenapa ngajak aku makan di sini?”
Malia menunjuknya, seperti seorang ibu yang menasihati anaknya.
“Karena kamu malas makan. Kalau enggak aku ajak, kamu pasti cuma makan roti. Iya, kan?”
Langit menutup wajah dengan telapak tangan. Jelas sudah—Malia memang tak berniat makan. Ia hanya ingin memamerkan kebersamaan mereka.
“Udah. Ayo balik.”
Ia menarik tangan Malia, mengantarnya sampai ke kantor Pak Subagja, memastikan gadis itu benar-benar diam di sana. Baru setelah itu ia kembali ke kafe dengan napas panjang—merasakan kelelahan mental yang dalam.
“Loh, cepet amat?” Bima heran. “Malia ke mana?”
“Di kantor Papanya.”
“By the way…” Bima mengulurkan ponsel kafe. “Lu rame banget di chat. Pada nanyain status lu sama Malia."
Langit memejamkan mata frustasi. Drama Malia sukses. Kini semua warga Bagja Tower tahu hubungan mereka.
“Makanya update status: Malia’s Boyfriend,” canda Bima.
“Seneng banget lu, Mas liat gue menderita."
“Kan lu yang pamer.”
“Dia yang narik gue! Sumpah!”
Bima terbahak, lalu mendadak serius.
“Lang, cewek kalau udah segitunya biasanya beneran cinta.”
Langit bersandar lesu.
“Gue bisa mati stres kalau beneran jadian sama dia.”
“Enggak apa-apa stres dikit asal masa depan cerah. Calon pewaris Bagja Company.”
Langit menatap Bima tak percaya. “Sumpah, Mas. Pikiran lu sama kayak adek gue—matre.”
Bima terkekeh. “Itu bukan matre. Tapi Realistis.”
Langit mendengus. “Gue bingung. Dia berubah-ubah terus. Kadang baik, kadang manis banget… tapi lebih sering bikin gue capek.”
“Mungkin karena dia bingung sama lu.”
“Bingung?” Alis Langit terangkat.
“Dia masih merasa insecure. Enggak tahu gimana caranya bikin lu punya perasaan yang sama. Makanya drama terus, cari perhatian."
“Malas gue bahas insecure.” Langit menghela napas lelah.
“Tapi lu enggak bisa lari terus. Lu mesti jelas, hubungan itu mau lu bawa ke mana?"
“Enggak tahu, Mas. Gue takut…”
“Takut dia enggak bisa nerima masa lalu lu?”
Langit mengangguk.
“Masa lalu itu milik semua orang, Lang.”
“Tapi enggak semua orang punya masa lalu kelam kayak gue,” ucap Langit lirih. “Mantan anak geng, drop out, yatim piatu, hidup pas-pasan. Orang tajir kayak keluarga dia mana mau nerima cowok kayak gue.” Langit tertunduk, lalu melanjutkan. “Kalau itu terjadi sama Mentari… gue juga bakal nolak.”
Bima menatapnya lama.
“Lu gak perlu jadi yang terbaik. Cukup jadi yang berusaha.”
Jeda panjang. Bima membiarkan Langit merenung.
“Gue harus ngapain, Mas?” tanya Langit akhirnya.
“Mulai aja dari satu langkah kecil. Dari yang paling gampang.
Langit kembali diam. Tapi kali ini, keraguan di wajahnya perlahan bergeser—mungkin ia memang harus mencoba melangkah, meski setapak.