Langit tertegun, matanya tak beranjak dari sosok Malia yang berdiri di hadapannya. Ada sesuatu yang berbeda. Sangat berbeda. Dengan setelan kerja serba hitam yang elegan, tas laptop di tangan, sepatu hak tinggi yang memancarkan kepercayaan diri, dan rambut yang diikat rapi, Malia terlihat seperti wanita dewasa yang matang dan mandiri.
Ia tampak seperti versi baru yang belum pernah ia kenali. Bukan Malia yang selama ini ia hadapi—Gadis manja yang haus perhatian.
Malia tersipu ketika tatapan Langit tak kunjung berpaling. “Kenapa? Kaget, ya?” tanyanya, senyum tipis mengulas bibirnya.
“Kamu… mulai kerja?” Langit akhirnya bersuara, suaranya terdengar nyaris tak percaya.
Malia mengangguk pelan. “Bantu Papa,” jawabnya singkat.
Jawaban itu saja sudah cukup membuat pertanyaan saling berebut tempat dalam kepala Langit. Bagaimana bisa seseorang berubah sedrastis ini hanya dalam semalam? Baru kemarin Malia merajuk karena tak diizinkan mengikuti kelas melukis. Dan hari ini—tiba-tiba dia memutuskan untuk mulai bekerja.
Tidak masuk akal, batin Langit. Malia memang penuh kejutan, tetapi kali ini kejutannya sungguh luar biasa.
“Ehm!”
Malia berdeham kecil, membuyarkan lamunan Langit. “Oh! Maaf, aku… maksudku, kamu mau kopi?” tanyanya, mendadak kikuk.
“Coffee latte. Take away,” jawab Malia, nadanya tenang—profesional seperti penampilannya.
Langit mengangguk, lalu kembali bertanya dengan ragu. “Hmm… mumpung masih sepi, kamu mau ngopi bareng aku?” Ia merasa bodoh seketika. Kenapa juga tiba-tiba ia jadi tidak percaya diri?
Malia tampak heran dengan ajakan itu—karena biasanya Langit tidak suka diganggu pagi-pagi begini. Namun ia mengangguk juga, tersenyum tipis lalu duduk dengan anggun di meja favoritnya.
Tak lama, Langit datang membawa dua cangkir kopi. Tatapannya tak lepas dari Malia. Dengan penampilannya saat ini, tak seorang pun akan mengira gadis itu pernah begitu putus asa hingga ingin mengakhiri hidupnya.
“Kamu kelihatan dewasa dan… cantik,” ucap Langit, masih tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
“Berarti kemarin-kemarin aku enggak dewasa dan enggak cantik?” goda Malia, pura-pura cemberut.
Langit tertawa kecil, kepalanya menggeleng. “Kemarin juga cantik. Tapi aku lebih suka kamu yang sekarang. Kamu kelihatan dewasa. Aku bangga.” Ada ketulusan yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Kamu pikir aku cewek manja yang cuma bisa gangguin kamu kerja?” protes Malia, menggoda.
Langit kembali tertawa. “Pasti Papa kamu bangga banget,” ujarnya sambil membayangkan betapa leganya Pak Subagja.
Malia menatapnya lama, tatapannya lembut namun dalam. “Aku berubah karena kamu,” ucapnya lirih dan jujur.
Langit terdiam sesaat, menelan perasaan aneh yang tiba-tiba merambati dadanya. “Itu karena kamu sendiri,” jawabnya merendah. Ia benar-benar percaya itu.
Pintu terbuka.
Bima masuk sambil menenteng boks roti dan kantong besar belanjaan. Ia mematung, menatap Malia. “Kamu… kerja?” tanyanya tak percaya.
Malia mengangguk pelan sambil menahan senyum melihat ekspresi bingung Bima yang tampak lucu.
“Wah! Selamat! Aku ikut senang!” seru Bima tulus.
Malia mengangguk. “Cuma bantuin Papa, Mas,” jawabnya, merendah.
Bima menepuk-nepuk punggung Langit, seolah memberi selamat—mengira Malia berubah karena dirinya.
Langit menyesap kopinya, tiba-tiba merasakan sesuatu yang mirip dengan lega… dan entah kenapa, sedikit kehilangan. Ini seharusnya kabar baik. Malia berubah. Tugasnya hampir selesai. Dia akan sibuk, fokus pada perusahaan. Perasaannya pada Langit—yang dulu hanya muncul dari ketergantungan emosional—akhirnya akan memudar.
Malia akan melupakannya.
Dia hanya akan menjadi barista yang pernah lewat dalam hidupnya.
Langit menarik napas pelan, dan anehnya… dadanya terasa sesak.
“Kamu kenapa?” tanya Malia, menatapnya.
Langit tersentak. “Enggak apa-apa. Aku cuma mau ngucapin selamat buat kamu.” Ia mengulurkan tangan—dan Malia malah menepisnya sambil tertawa kecil.
“Apaan sih, kamu,” ujarnya sambil tersipu. “Hm, aku enggak bisa lama. Harus langsung ke kantor. Meeting pertama.” Malia melirik jam tangan, lalu meneguk habis kopinya. “Aku pergi dulu, ya. Makasih kopinya.”
“Kamu... mau makan siang bareng aku nanti?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Langit tanpa sepenuhnya ia sadari.
Malia terhenti. Matanya melebar sedikit, memastikan ia tidak salah dengar. Sebab baru kali ini—sejak ia mengenal Langit—laki-laki itu yang mengajaknya makan.
Dan ketika melihat wajah Langit yang sungguh-sungguh, bahkan sedikit berharap… Malia tersenyum dan mengangguk.
“Sampai ketemu siang nanti," ucapnya riang, lalu melangkah pergi.
Langit tetap menatapnya hingga pintu tertutup.
“Hm… akhirnya, kan, lu jatuh cinta juga,” komentar Bima dari balik konter.
“Ah. Enggak!” Langit mengelak cepat. Wajahnya sedikit tersipu.
“Mata lu enggak bisa bohong,” balas Bima sambil merapikan belanjaan.
Langit tak menjawab. Karena jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang mulai tumbuh perlahan. Sesuatu yang tak ingin ia akui tapi tak bisa ia elakkan.
---
Siang hari di kantin, Malia menghampiri meja Langit dengan sedikit terburu-buru. “Kita makan apa?” tanyanya ceria.
"Aku pesenin kamu sate ayam." Langit menunjuk hidangan di atas meja. “Gimana hari pertama kerja?”
“Capek!" Malia membuang napas. "Banyak meeting. Maaf ya, jadi lama," ujarnya sambil menghempaskan tubuhnya di kursi. Kelelahan tampak di wajahnya.
“Gapapa. Kan, jadi sepi." Langit mengerling.
Malia tersenyum, matanya menatap dalam. “Hari ini kamu juga berubah,” ujarnya pelan.
“Berubah?” Langit berusaha terlihat santai, padahal dalam hatinya panik.
“Kamu lebih perhatian."
Langit menyembunyikan wajahnya di balik gelas minuman. “Hm, ini cuma merayakan perubahan kamu,” kilahnya. "Dan mungkin sebagai perpi..."
“Oh iya!” Malia tiba-tiba memotong, “Papa ngajak kita makan siang besok. Bisa, kan?”
Langit mengangguk pelan. Ya. Perpisahan. Besok tugas itu akan resmi berakhir.
Setelah jeda yang terasa berat bagi Langit, ia memberanikan diri bertanya, “Kenapa kamu bisa berubah secepat itu. Mal?”
Malia terdiam sejenak, memandang botol minum di tangannya. Lalu perlahan ia bicara.
“Jalan-jalan kemarin membuka mataku, mengenai arti kebahagiaan… aku memikirkan kata-katamu, kebahagiaan setiap orang berbeda. Aku merenung semalaman.” Ia menarik napas panjang.
“Aku merasa hidupku sempit. Seperti terkurung dalam botol kaca yang gelap. Padahal aku bisa keluar… cuma dengan memecahkannya.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku terus hidup dalam masa lalu yang hancur… dan aku merasa mati bahkan sebelum Mario mati.” Mata Malia berkaca-kaca. “Aku merasa enggak punya apa pun yang bisa dibanggakan. Dan aku enggak punya alasan apa pun untuk tetap hidup… sebelum aku ketemu kamu.” Malia menatap Langit. Tatapan yang dalam, penuh dengan kata-kata yang tak terungkap.
Langit terpaku. Ia ingin sekali mendengar lebih banyak, tapi dari matanya ia tahu hati Malia sudah retak terlalu dalam.
Air mata Malia akhirnya menetes.
Langit meraih tangan gadis itu, menggenggamnya erat. “Kamu enggak perlu lanjutin,” ucapnya lembut.
“Aku bodoh…” isak Malia.
Langit menggeleng, ibu jarinya mengusap air mata itu. “Kamu enggak bodoh. Kamu hanya belum mengerti dirimu waktu itu. Dan kamu enggak hancur. Kamu di sini, Mal. Kamu masih punya hati. Hati yang bikin kamu bisa menangis. Dan itu… bukti kalau kamu masih hidup.”
Langit menatap dalam mata Malia. Mencoba menembus jiwa yang rapuh di sana. Jiwa yang terlalu lama dibiarkan kehilangan harapan. Tapi kini, harapan itu mulai tumbuh. Sedikit. Perlahan. Dan entah kenapa ia juga merasakan yang sama. Sesuatu yang mulai tumbuh. Sesuatu yang menghangatkan hatinya yang lama membeku.