Dengan setelan olahraga yang membalut tubuh mungilnya, Malia berdiri di depan pagar rumah dengan wajah berseri. Ia tampak tak sabar menunggu Langit menjemputnya. Begitu motor Langit tiba, tanpa basa-basi Malia langsung melompat naik dengan gembira, layaknya anak kecil yang hendak diajak bertualang.
Langit tersenyum tipis, menggeleng pelan melihat tingkahnya.
“Kamu udah bilang Papa Mama kalau aku jemput pakai motor?” tanyanya, ada nada khawatir terselip.
“Udah! Gak apa-apa, kok. Kamu juga pernah nganter aku pakai motor waktu itu,” sahut Malia santai sambil melingkarkan tangannya di pinggang Langit.
“Tapi waktu itu kan terpaksa,” balas Langit. Ia memang agak ragu ketika Malia memintanya menjemput dengan motor. Aneh saja baginya—kebanyakan orang ingin bepergian nyaman, tapi Malia justru menikmati motor tuanya.
Setengah jam kemudian, mereka tiba di jalan raya yang ditutup khusus untuk olahraga. Pagi itu ramai oleh orang-orang yang bersepeda, berlari, dan berjalan santai. Setelah memarkir motor, Langit mengajak Malia bergabung dalam keramaian.
“Kamu sering ke sini, ya?” tanya Malia, memandangi sekitar dengan mata berbinar, seolah baru pertama kali melihat suasana seperti ini.
“Dulu sering sama Mentari. Sekarang jarang. Dia lebih suka pergi sama teman-temannya,” jawab Langit sambil berlari kecil. Ia menoleh pada Malia. “Kamu belum pernah ke tempat kayak gini?”
Malia menggeleng, lalu menyusul Langit. Sesekali ia berhenti, mengamati orang-orang dengan senyum kecil: sapaan ramah, tawa lepas, wajah-wajah yang tampak bebas. Terkadang ia mengajak Langit berjalan saja, menikmati udara pagi Minggu yang cerah—kebebasan yang jarang ia rasakan.
Namun baru beberapa putaran, Malia mulai kelelahan. Napasnya tersengal, wajahnya memerah. Ia mengajak Langit beristirahat di trotoar dekat penjual minuman dingin, meluruskan kaki sambil mengatur napas.
“Minum dulu.” Langit mengulurkan sebotol air dingin. Ia tersenyum melihat wajah Malia yang berkeringat.
“Thanks!” Malia menenggaknya hingga setengah botol.
“Capek?” tanya Langit lembut. Ia menyeka keringat di dahi Malia dengan handuk kecil.
Malia mengangguk. “Makasih, ya.”
“Untuk?” tanya Langit.
“Untuk ngajak aku ke sini.” Tatapan Malia menghangat. “Dan untuk perhatian kamu.”
Langit salah tingkah. Tangannya mendadak berhenti. “Kalau kamu pingsan kepanasan, kan aku juga yang repot.”
Malia tertawa lepas. Ia menatap Langit dari samping—di balik sikapnya yang kadang keras, ada hati yang begitu lembut. Penuh perhatian. Meski ia tahu Langit melakukannya karena permintaan Papa, ia yakin suatu hari Langit akan mencintainya. Ia percaya Langit tak hanya dikirimkan Tuhan untuk menyelamatkannya malam itu, tapi juga untuk menjadi jodohnya. Langit adalah hadiah atas semua penderitaan yang telah dilaluinya selama ini.
“Kenapa?” Langit menoleh, menangkap tatapannya.
“Kalau lagi baik gini, kamu tambah ganteng,” celetuk Malia.
Pipi Langit sedikit bersemu.
Malia kembali mengamati sekitar—ibu-ibu senam pagi, bapak-bapak berjalan santai, anak-anak berlarian, remaja sarapan di depan gerobak. Ia tersenyum mendengar celotehan mereka.
“Kenapa mereka bisa kelihatan sebahagia itu, ya?” gumamnya.
“Karena bahagia tiap orang itu beda-beda,” jawab Langit pelan. “Ada yang cukup kumpul sama teman, ada yang jalan sama keluarga. Ada juga yang cukup mengamati orang-orang—kayak kamu.” Ia tersenyum tipis.
Malia tersenyum malu, lalu terdiam. “Aku ngerasa bodoh,” ucapnya lirih.
“Maksudnya?”
“Harusnya kita ketemu dari dulu. Mungkin aku gak akan ngelakuin hal-hal bodoh itu.”
“Tapi kalau kamu gak pernah ngelakuin itu, mungkin kita juga gak akan ketemu,” sahut Langit.
Malia tertawa kecil. “Sekarang aku malu kalau ingat.”
“Aku malah sakit kepala lagi,” seloroh Langit, membuat Malia tertawa lebih lepas.
“Makan, yuk. Ketupat sayur—wajib di sini,” ajak Langit, segera mengalihkan suasana.
Dua jam berlalu saat kemudian Langit mengajak Malia mengunjungi makam kedua orang tuanya.
Perlahan, ia mulai membuka diri, mengajak Malia untuk sedikit mengenalnya lebih dalam, termasuk sisi rapuh dalam dirinya.
Ada perasaan yang aneh ketika Langit menggandeng Malia ke makam kedua orang tuanya. Ia merasakan kehadiran mereka begitu dekat.
Di depan makam itu Malia bersimpuh. Tangannya perlahan mengusap nisan di atas makam itu, merasakan dinginnya batu. Lalu dirabanya nama yang tertulis di sana.
Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang aneh di hatinya, seperti sebuah ikatan tak terlihat. Dipandanginya Langit sedang memunguti dedaunan kering dari atas makam. Bibirnya bergerak menggumamkan doa.
Ia ingin bertanya, tapi takut dianggap melampaui batas. Mengorek luka yang belum sembuh. Saat ini, cukup baginya mengetahui sepenggal kisah hidup Langit. Ia percaya suatu saat Langit akan menceritakan sendiri seluruh kisahnya.
Beranjak dari makam, Langit mengajak Malia berteduh sejenak di bawah pohon, duduk di atas motornya. Ia tahu, ada yang ingin ditanyakan Malia tentang kedua orang tuanya. Ia menunggu gadis itu mengatakannya.
Malia memandangi Langit ragu. "Hmm... orang tua kamu, meninggal dunia tiga tahun lalu?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya, pelan dan hati-hati.
Langit mengangguk, tatapannya kosong, menatap pepohonan di depannya.
"Ayah duluan. Kecelakaan di jalan. Beberapa bulan kemudian Ibu menyusul karena sakit," sahutnya, berusaha menahan agar suaranya tak bergetar. Sudah lama sekali tak ada orang yang menanyakan itu padanya. Ia terkejut, ketika pertanyaan itu masih terasa mengguncang hatinya.
Malia mengangguk, mengerti. Ia tak ingin bertanya lagi. Ia menyentuh tangan Langit, menggenggamnya perlahan.
"Aku antar kamu pulang sekarang, ya?" Tanya Langit tiba-tiba, memecah keheningan yang terasa berat.
"Tapi aku belum mau pulang," rajuk Malia, sedikit cemberut.
"Aku ada kerjaan sebentar lagi," sahut Langit, nadanya tak ingin dibantah.
"Kerjaan apa? Kan, libur?" Malia mengernyit.
"Ngajar lukis teman-temannya Mentari di rumah," sahut Langit seraya menyalakan motornya.
"Kamu bisa melukis?" Malia terkejut, ia seolah baru saja menemukan sisi lain Langit.
Langit hanya mengangguk tipis, tersenyum kecil. Ia mengulurkan helm pada Malia lalu menyalakan motornya.
"Aku boleh ikutan gak?" Malia menatap penuh harap.
Langit menggeleng tegas.
"Kenapa enggak boleh?"
"Malia, please!" Langit menarik napas lelah. "Kita udah hampir setiap hari ketemu. Besok-besok lagi, ok?"
Akhirnya Malia menyerah.
Langit menahan senyum melihat kekecewaan di wajah gadis itu. Ia bukannya tak mau. Tapi ia tak mungkin membiarkan Malia berada diantara teman-teman Mentari yang centil-centil itu. Bisa-bisa Malia membuat drama.
Di atas motor pikiran Malia tak tenang. Perasaan aneh yang ia rasakan kini semakin kuat. Seperti ada bayangan yang menari-nari di benaknya, samar dan tak jelas, sebuah memori yang mencoba menembus kabut.
Tak lama motor berhenti tepat di depan pagar rumah Malia.
Malia turun dengan wajah yang masih kesal. Bahkan saat Langit melambaikan tangan, ia mengabaikannya.
Tapi kali ini Langit hanya menanggapinya dengan senyuman. Semakin lama ia semakin memahami gadis itu, dan entah mengapa, itu terasa sedikit... menyenangkan.