Menyerah

1012 Words
"Mau kondangan ke mana, lu?" Pertanyaan Bima meluncur begitu saja saat melihat Langit tampil rapi dengan setelan formal—kemeja dan celana panjang berwarna gelap. Penampilan yang sangat kontras dari biasanya. "Rumah Pak Subagja," sahut Langit datar, tangannya sibuk merapikan rambut di depan cermin. Kedua alis Bima terangkat tinggi. "Serius? Mau ngapain?" Langit berbalik menatap Bima. "Perempuan itu… ngejar-ngejar gue terus sampai ke rumah. Dia maksa gue ketemu orang tuanya." Ada nada frustrasi dalam ucapannya. Bima bersiul panjang, seringai jahil menghiasi wajahnya. "Mau juga kan, lu, akhirnya?" godanya. "Nyerah gue!" Langit menghela napas pasrah. "Kemarin dia hujan-hujanan nungguin gue di parkiran motor." "Ngapain?" Mata Bima membelalak, tak percaya. "Ya itu! Maksa gue ketemu orang tuanya!" Langit menjawab dengan nada geram. "Masa sih, sampai segitunya?" "Kan gue udah bilang, dia itu perempuan stres!" Bima tergelak, menepuk bahu Langit. "Selamat! Gue doain jadian," godanya. Langit merengut. "Mati berdiri gue punya cewek kayak gitu." "Loh. Nggak apa-apa stres dikit, tapi masa depan cerah?" Bima menaikkan sebelah alis, memberi isyarat. "Lu udah kayak adek gue, Mas. Matre!" sungut Langit, setengah terkejut. Bima tertawa lagi. "Itu bukan matre. Itu realistis," ujarnya sambil melambaikan tangan. "Gue balik duluan!" Ia pun menghilang di balik pintu. Langit melirik jam di ponselnya. Pukul enam tepat. Ia membuka pesan-pesan yang belum sempat dibacanya sejak tadi. Malia tak henti-hentinya mengingatkan, takut ia membatalkan janji. Langit menghela napas sebelum mengenakan jaket dan beranjak pergi. Tiga puluh menit kemudian, Langit tiba di depan rumah Malia. Pintu pagar terbuka bahkan sebelum jemarinya menyentuh interkom. "Mas Langit, ya?" sapa seorang pria berseragam keamanan dengan senyum ramah, seolah sudah mengenalnya. "Silakan, Mas. Sudah ditunggu Mbak Malia." Tangannya mendorong gerbang lebar-lebar. Langit memarkir motornya di halaman yang luas. Matanya menyapu deretan mobil mewah yang berjajar rapi—bak galeri pribadi—kontras dengan Vespa tuanya yang kini terasa kecil dan lusuh. Ia menarik napas panjang. Jantungnya mulai berdebar tak karuan, bukan hanya karena pertemuan ini, tapi juga karena rasa percaya dirinya yang perlahan runtuh. "Haiii!" Suara riang itu mengagetkannya. Dari balkon di atas, Malia melambai dengan senyum lebar, memberi isyarat agar Langit masuk ke dalam rumah. Di dalam, Langit tertegun. Ia memandangi Malia menuruni tangga melengkung dengan anggun. Setiap pijakannya dilapisi karpet bercorak klasik yang berkilau di bawah cahaya lampu kristal yang menggantung indah. Ia tak mampu mengalihkan pandangan, membandingkan rumah itu dengan rumahnya sendiri—bagai langit dan bumi. Malia menarik tangan Langit menuju ruang tamu yang luasnya melebihi seluruh rumahnya. Ia memintanya menunggu, lalu kembali dengan seorang pria paruh baya dan seorang wanita yang segera diperkenalkannya sebagai orang tuanya. Langit menunduk sopan, menyalami keduanya. Pak Subagja menatap Langit dengan mata berkaca-kaca, menggenggam tangannya erat. "Terima kasih sudah datang." Langit mengangguk, tersenyum canggung. "Saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya karena sudah menyelamatkan anak saya," lanjut Pak Subagja terbata-bata, menahan emosi. Langit terpaku. Ia tahu ada ungkapan terima kasih yang jauh lebih besar terpancar dari mata pria itu dibandingkan kata-katanya. Dari senyum wanita di sampingnya, Langit melihat kecemasan yang tertahan dan kesedihan yang dipendam dalam diam. Sekejap, Langit teringat ibunya—persis seperti itu raut wajahnya selama berbulan-bulan setelah kematian ayah. Kini ia mengerti mengapa Malia begitu ingin ia menemui mereka. Rasa bersalah menyelinap di dadanya. "Silakan duduk, Langit," suara lembut Bu Subagja menyadarkannya dari lamunan. Mata wanita itu berkaca-kaca saat Langit duduk di samping Malia. "Saya… saya tidak tahu harus berterima kasih bagaimana. Kalau kamu tidak ada di sana waktu itu, Malia mungkin sudah tidak bersama kami…" Suara Bu Subagja tercekat. "Maah…" Pak Subagja menggenggam tangan istrinya dengan lembut. "Itu… karena kebetulan saya sedang ada di sana, Bu," sahut Langit pelan, berusaha meredakan suasana. "Tidak ada yang kebetulan, Langit," sela Pak Subagja. "Saat kamu muncul dan membujuknya untuk tidak melompat, kamu mengembalikan putri kami. Kami berutang nyawa padamu." Langit terdiam. Bagi dirinya, itu kebetulan. Bagi mereka, itu mukjizat. "Maafkan Malia, sudah menyusahkanmu," ujar Bu Subagja setelah tenang. "Tidak sama sekali, Bu," jawab Langit sambil melirik Malia. "Kondisi Malia memang sering tidak stabil," lanjut Pak Subagja. "Tapi minggu depan dia akan mulai terapi lagi." "Aku kan sudah sembuh, Pah…" suara Malia bergetar. "Ini demi kebaikanmu, Lia," sahut ibunya lembut. Malia meremas jemarinya, terlihat ketakutan. Langit merasakan sesak di dadanya. Ia menggenggam tangan Malia yang gemetar. "Kalau kamu butuh teman ke dokter, aku bisa temani," ucapnya tulus. Malia menatapnya tak percaya, lalu tersenyum saat Langit mengangguk meyakinkan. Malam berlanjut dengan makan bersama. Hidangan tersaji di meja panjang, hangat dan menggoda. Namun Langit justru teringat Mentari yang sendirian di rumah. "Mas…" Malia menyentuh lembut tangannya, menyadarkannya. "Supnya." "Makasih. Panggil Langit aja," ucapnya. Suasana makan malam terasa hangat dan akrab. Setelah selesai Pak Subagja dan istrinya meninggalkan meja lebih dulu, seolah sengaja memberi ruang pada Langit dan Malia untuk lebih dekat. Langit menatap wajah Malia yang tampak pucat di bawah cahaya lampu gantung. Alisnya berkerut khawatir. "Kamu sakit?" Tanyanya lembut. Malia menggeleng lemah. Langit menyentuh keningnya. "Kamu anget. Gara-gara kehujanan kemarin, ya?" "Aku nggak apa-apa. Cuma capek," sahut Malia. "Maaf ya, udah bikin kamu kehujanan, nungguin aku." Langit merasa semakin bersalah. Malia tersenyum tipis. "Aku yang mau." "Aku juga minta maaf kalau kemarin-kemarin aku sering kesal dan marah-marah," sesal Langit. Malia tertawa kecil. "Aku memang sengaja bikin kamu kesal." Ada kehangatan aneh yang Langit rasakan malam itu. Kebersamaan berada di tengah-tengah keluarga Malia seolah kembali menghadirkan sesuatu yang lama hilang. Sesuatu yang ia rindukan. Tepat pukul sembilan Langit pulang dengan membawa oleh-oleh sekantong penuh makanan dan sisa kehangatan yang membekas. Ia memacu motor lebih cepat, menembus gelap dan dinginnya malam. Ia khawatir Mentari sendirian. Setiba di rumah, ia mengetuk pintu kamar Mentari. "De…" Pintu terbuka. "Selamat malam, Mas Langit," sapa Devia dengan senyum manis. "Oh… ada Devia," sahut Langit lega. Mentari muncul dengan wajah cemberut. "Kak Devia dari tadi nemenin aku. Mas Langit lama banget pulangnya." "Maaf," kata Langit sambil menyerahkan kantong makanan yang dibawanya. "Nih, makanan enak." "Mas Langit udah makan, ya?" Mentari melihat isi kantong itu dengan kecewa. "Yah, padahal aku sama Kak Via nungguin makan bareng. Kita kan, udah masak." "Oh, belum, kok." Langit terkejut. "Itu buat besok aja. Sekarang kita makan masakan kalian," ujarnya, tak ingin mengecewakan adiknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD