Sandra

1387 Words
“Tangan lu kenapa?” Bima mengamati tangan kanan Langit yang terbalut perban putih. “Cuma lecet dikit,” jawab Langit santai. “Lu berantem lagi?” Tatapan Bima menyempit. Langit tak menjawab. Ia malah menyesap kopinya. Bima menggeleng pelan. “Sampai kapan lu mau berubah kalau lu masih emosian gitu?” keluhnya. “Dia gangguin Malia,” ujar Langit akhirnya. “Gua cuma ngasih pelajaran dikit.” “Hah?!” Bima terbelalak. “Siapa yang gangguin Malia? Lu ajak dia ke mana?!” suaranya naik beberapa oktaf. “Tempat tongkrongan gue dulu.” Bima menatap Langit tak percaya. “Astaga, Laaang. Coba deh, sekali-sekali lu mikir panjang dulu sebelum bertindak!” omelnya keras. Langit terdiam. Pandangannya jatuh ke cangkir kopi di tangannya. “Ngapain juga lu ngajak Malia ke tempat kayak gitu?” “Kemarin gue ajak dia jalan seharian,” jawab Langit pelan. “Pas pulang, mampir sebentar.” Bima menghela napas lelah. “Lu harus ninggalin masa lalu. Jalan ke depan. Jangan ditarik-tarik lagi. Pakai bawa-bawa Malia lagi.” “Baru kali ini, Mas…” Langit mencoba membela diri, ragu. “Belum lama lu nonjok orang di jalanan sampai mental,” potong Bima. “Lu bilang baru kali itu juga.” “Itu beda!” Langit cepat menukas. “Dia nyerempet motor gue duluan, terus ngajak ribut!” “Terus yang lu mau lempar pengunjung kafe dari atas sini?” “Itu kan karena dia bikin onar! Ganggu pelanggan lain!” Bima mengembuskan napas frustrasi. Ia menyerah berdebat. “Terus, Malia gimana?” Nada suaranya melunak, khawatir. “Dia pasti syok.” Langit mengangguk. Tatapannya meredup. “Dia nangis.” “Untung gak mati tuh orang. Bisa habis hidup lu,” gerutu Bima. “Tato lu itu—coba deh dihapus. Bawaan lu jadi panas mulu! Kalau Pak Bagja tahu, bisa-bisa kita diusir dari sini.” Langit tertawa kecil. Mas Bima memang selalu lebay—selalu mengaitkan segalanya dengan bisnis. “Lu belum dapet barista baru, Mas?” alihnya. “Ada beberapa kandidat. Sore ini interview. Lu ke sini aja sebentar, bantu tes.” “Cowok?” “Itu syarat utama dari Malia,” tukas Bima, menyindir. Langit tersenyum tipis. Pikirannya langsung melayang ke Malia. Tumben belum ada kabar. Apa dia masih syok? Dadanya mendadak sesak oleh rasa bersalah. “Gue ke kantor Malia dulu,” ucapnya. “Nengokin.” Namun setibanya di sana, ruang kerja Malia masih terkunci. “Mbak Malia hari ini gak masuk, Mas. Katanya sakit.” Seorang pegawai menghampirinya. “Sakit apa?” Langit langsung cemas. “Saya kurang tahu, Mas. Infonya cuma begitu dari Bu Chyntia.” Langit semakin gelisah. Teleponnya tak dijawab. Tanpa pikir panjang, ia menuju rumah Malia. Langit menghampiri Malia yang terbaring lemas di tempat tidur. Matanya terpejam, wajahnya tampak pucat. Menyadari kehadiran seseorang, Malia membuka mata. Tersenyum pada Langit. "Hai..." Langit mendekat, menyentuh keningnya yang hangat. “Kamu sakit apa?” “Masuk angin,” jawab Malia, suaranya serak. “Ini pasti gara-gara kemarin.” Wajah Langit penuh rasa bersalah. Malia menggeleng. “Aku udah mendingan. Tinggal lemasnya aja.” “Harusnya aku gak ngajak naik motor.” “Kan aku yang mau,” sahut Malia lembut. “Tapi kamu malah jadi sakit… aku juga jadi bikin kamu ketakutan.” “Kamu gak salah,” Malia menatapnya. “Itu dunia kamu. Aku cuma belum terbiasa. Semalam aku cuma takut kamu… benar-benar menghabisi dia.” “Maafin aku,” bisik Langit. Malu dan bersalah bercampur jadi satu. “Sekarang kamu tahu, hidupku gak istimewa. Gak menyenangkan.” “Berjanjilah,” pinta Malia. “Itu yang terakhir. Kamu gak akan kayak gitu lagi.” “Aku akan usahakan,” jawab Langit jujur—dan ragu. Malia tertawa kecil. Ia lalu melepas gelang dari pergelangan tangannya: bangle platinum dengan ukiran nama Malia di bagian dalam. Ia memasangkannya di tangan Langit. “Kalau kamu gak bisa nahan marah, lihat gelang ini. Ingat aku.” Langit tersenyum. “Kalau aku kangen, aku usap gelang ini, kamu langsung muncul?” Malia tertawa. “Janji gak dilepas.” “Selama kita bersama,” ucap Langit tulus. “Aku gak akan lepasin.” "Terima kasih." Malia tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Bukan karena sakitnya, tapi karena janji Langit. .... Dengan tergesa, Langit berjalan menuju kafe. Ia hampir saja lupa, sore ini Bima memintanya untuk menguji seorang calon barista. Namun langkahnya terhenti saat sebuah pesan masuk ke ponselnya. Langit membaca dengan bingung. Mas Bima memintanya untuk tidak usah datang? Memangnya kenapa? Langit melanjutkan langkah, tak mengindahkan pesan itu. Tapi sesampainya di kafe, wajah Bima berubah tegang melihatnya. "Udah terlanjur, Mas. Kenapa gak dari tadi?" ujar Langit, bingung. "Langit?!" Tiba-tiba sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar dari pintu teras yang terbuka. Langit membeku. Jantungnya berdetak keras. Untuk sesaat, ia tak bisa berpikir. Sandra. “Apa kabar, Lang?” Sandra menghampiri Langit dan menjabat tangannya yang dingin. “Kamu…” Langit terdiam. Otaknya mendadak kosong. “Aku nganter keponakan,” kata Sandra tenang, menunjuk seorang pemuda yang duduk di teras. “Mau nterview barista di sini.” “Oh…” Hanya itu yang keluar dari mulut Langit. Tenggorokannya tercekat. Suara Bima memecah kecanggungan. “Keponakanmu aku interview sekarang, San." “Oke. Thank you, Mas Bim." Sandra memanggil pemuda itu, memintanya mengikuti Bima. Langit berdiri kaku. Sandra tampak biasa saja—terlalu biasa. Seolah tak pernah ada apa-apa di antara mereka. “Kita ke teras aja?” tanya Sandra. Entah kenapa, Langit mengikuti. “Gimana kabar kamu?” sapa Sandra setelah mereka duduk berhadapan. “Aku… baik,” jawab Langit, menarik napas pendek. “Kamu kelihatan lebih ganteng sekarang.” Langit tersenyum kecil, canggung. “Kamu gimana?” “Seperti yang kamu lihat.” Langit menatapnya sekilas. Sandra tak banyak berubah. Hanya rambutnya kini pendek, penampilannya rapi seperti seorang profesional. Dia terlihat sangat percaya diri." “Aku dengar kamu sudah kerja di Bagja Company?” tanya Sandra lagi. Langit mengangguk. “Hebat. Belum sarjana udah bisa kerja di perusahaan besar," ujar Sandra. Terdengar seperti nada sindiran bagi Langit. "Kalau kamu?" tanya Langit, mulai merasa tak nyaman. Sandra menunjuk gedung bertingkat berkaca biru yang menjulang tinggi di kejauhan. "Jadi selama ini kamu di sana?" Langit tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Selama ini ternyata mereka begitu dekat. "Sudah setahun lebih. Perusahaan kontraktor juga, tapi enggak sebesar Bagja Company." "Kok, bisa tahu ada lowongan Barista di sini?" Tanyanya, mencoba mencerna semua informasi itu. Ia sangat yakin Mas Bima tidak tahu. "Dari IG Cafe Dewa. Kebetulan keponakanku lagi cari kerja. Dia Barista juga. Aku nggak bilang sama Mas Bima. Enggak nyangka dipanggil juga." Sandra menjelaskan dengan santai. "Aku pikir kamu masih di Bandung?" "Cuma sebentar. Hmm... aku dengar sekarang kamu lagi dekat dengan Malia Subagja?" Pertanyaan itu mengagetkan Langit. Meski sebenarnya ia tak merasa aneh jika Sandra mengetahuinya, tapi entah mengapa ia merasa ada sesuatu di balik pertanyaan itu. Sebuah nada tersembunyi. "Pasti kamu sangat mencintainya." Sandra melanjutkan, suaranya datar, tanpa emosi yang terlihat. "Kok tahu?" Langit sengaja membuatnya cemburu, ingin melihat reaksinya. "Kamu pakai gelang perempuan. Itu pasti punya dia." Sandra melirik gelang yang dikenakan Langit. "Oh!" Langit tersenyum, ia mengusap-usap gelang itu, sengaja membuat Sandra makin cemburu. Sandra mengalihkan perhatiannya. "Aku ikut senang sekarang kamu udah membuka diri," ujarnya. Suaranya seakan menahan sesuatu. "Aku mencoba lagi." Langit menjawab singkat. "Aku harap dia lebih beruntung dari aku." Langit tersenyum dingin. "Bukannya kamu yang ninggalin aku dulu?" Sindirnya. Sandra terdiam, senyumnya memudar. Matanya menatap langit sore yang tiba-tiba saja mendung, seolah suasana hatinya ikut berubah. "Aku pangling dengan kafe ini. Jadi lebih cantik. Dulu aku ingat sering temani kamu di sini sepulang kuliah," ucapnya, seolah ingin mengingatkan Langit pada kenangan indah mereka. Langit hanya diam. Ia tak mau mengingat apa pun tentangnya. Ia sudah menguburnya dalam-dalam. Ia bahkan berharap mereka tak akan pernah bertemu lagi. Dan kehadirannya sekarang, seperti kembali membuka luka lama yang sudah sembuh. Suara pintu yang terbuka melegakan Langit. Bima masuk dengan pria muda itu. "Udah selesai, Mas?" Tanya Sandra, menegakkan punggungnya. "Sudah. Nanti tinggal tunggu kabar aja. Soalnya masih ada kandidat lain juga." "Oh. Oke! Makasih banyak, Mas Bim." Sandra beranjak dari duduknya. "Aku duluan ya," pamitnya pada Langit. Namun, saat akan membuka pintu. Ia menoleh lagi ke arah Langit. "Nomorku masih sama," ucapnya, dengan nada yang menggantung di udara. Lalu menghilang di balik pintu, Bima dan Langit saling berpandangan dengan raut wajah kebingungan, tercengang oleh kata-kata terakhir Sandra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD