Chapter 016

1431 Words

Malam yang hening dan juga dingin; angin malam yang dilengkapi dengan sisa hujan turut andil dalam membuat suhu udara menjadi lebih rendah daripada biasanya. Waktu belum begitu larut, kantuk sama sekali belum menyerang Leya apa lagi Vian. Leya duduk di atas ranjangnya, sedangkan Vian di kursi belajar; ia sedang memandangi jalanan basah—melalui jendela—yang hanya mendapat penerangan minim dari lampu jalan.   “Kalo kamu mau tidur duluan gak apa-apa. Ada tikar atau semacamnya, kan? Nanti saya tidur di bawah,” ujar Vian seraya menoleh ke arah Leya. Gadis itu terdiam dengan pikiran yang tercampur-aduk.   Sesaat ia terdiam. Alas untuk tidur memang ada; namun mengingat Vian adalah manusia yang terlahir kaya, maka ia khawatir pria itu bisa jatuh sakit karena kedinginan. Akhirnya, dengan banyak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD