“Kalau saya bilang tidak sedang bercanda, kalau saya bilang tempo hari itu saya serius mengatakannya, apa kamu akan mulai mempertimbangkannya?”
Mata Alvar mengerjap beberapa kali. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Sungguh, Alvar tidak tahu dia harus menjawabnya bagaimana. Permintaan seperti ini, tentu saja bukan sesuatu yang bisa Alvar setujui atau tidak, kan? Di satu sisi yang memintanya ini adalah pemimpin tertingginya, tapi di sisi lain, bukankah ini terlalu pribadi jika harus dijadikan sesuatu yang harus mematuhi protokol atau pengabdiannya pada negara? Ya walau... sebagai prajurit, Alvar memang diminta kesediaannya untuk menyerahkan seluruh dirinya. Entah itu bersifat pribadi atau tidak.
Yang jadi pertanyaan, permintaan Adam ini bersifat mengatasnamakan negara atau tidak? Menggunakan jabatannya sebagai Presiden atau... tidak. Sebab kalau iya, itu artinya Alvar harus memenuhinya, karena bagaimanapun itu adalah sebuah “Perintah” dari seorang Pemimpin Tertinggi.
“S-saya...”
“Pertimbangkanlah, Alvar. Saya benar-benar akan menunggu jawabanmu. Dan saya harap, kalau kita berkesempatan bicara lain kali, kamu sudah punya jawaban.”
Alvar hanya mampu mengangguk pelan, lalu kembali mengubah posisi duduknya menjadi seperti semula. Dia terdiam. Alvar terdiam begitu lama hingga earpiece yang terpasang di telinganya menyerukan namanya untuk mengabarkan situasi terakhir hingga mereka sampai di tujuan nanti.
Alvar menggeleng kecil, berusaha mengembalikan fokusnya, mengingatkan dirinya bahwa saat ini dia masih bertugas. Meski sang kepala negara memintanya untuk memikirkan tawaran itu, bukan berarti Alvar harus memikirkannya sekarang juga. Dia punya prioritas.
Alvar harus fokus, paling tidak sampai dia mengantar sang pemimpin tertinggi ke kediamannya untuk beristirahat. Lantas, setelah itu, ketika Alvar sudah berganti shift dengan petugas yang berjaga di sana, barulah dia
bisa memikirkan tawaran yang bukan main menyulitkannya itu.
Sialnya, meski mencoba untuk fokus, Alvar tetap memikirkan alasan sang presiden menawarkan sesuatu semacam itu kepadanya. Kenapa dia—misalnya, sedangkan masih ada ajudan-ajudan lain termasuk yang statusnya berada di atasnya?
***
Ponsel di dalam saku jas dokter Aroha terus bergetar, menandakan ada sebuah panggilan masuk ke gawai miliknya yang tidak berhenti sejak beberapa jam lalu. Aroha tentu menyadari itu, bagaimana tidak jika sensitivitasnya sudah terlatih untuk cepat tanggap menerima kabar sejak masa kuliah atau co-ass dulu.
Iya, setiap ada panggilan yang masuk ke ponselnya Aroha memang harus cepat tanggap, karena bisa jadi itu panggilan dari konsulen, professor, atau rekan kerjanya yang mengabarkan bahwa ada kasus darurat di rumah sakit tempatnya mengabdi.
Hanya saja kali ini Aro—nama panggilan yang biasa ditujukan pada wanita itu—tahu siapa yang menghubunginya, itu karena Aro memasang nada dering yang berbeda antara panggilan darurat untuk pekerjaan dan panggilan dari orang-orang di ranah hidup pribadinya. Sementara, panggilan itu, panggilan yang sudah diterima Aro berkali-kali itu berasal dari sang Ayah, yang Aro bisa kira-kira ada urusan apa.
“Dok, itu hp Dokter dari tadi bunyi.” Salah seorang perawat yang tengah mendampingi Aro menangani pasien berbisik pelan ke telinga wanita itu.
“Iya saya juga denger, Ners. Tapi kita lagi nanganin pasien, kan? Jadi fokus aja sama yang lagi kita kerjain.”
“Tapi, Dok.”
“Fokus, Ners. Fokus.” Ucap Aroha penuh penekanan, yang akhirnya ditanggapi perawat itu dengan anggukan paham sekaligus takut.
Keduanya memang tengah menangani salah satu pasien mereka, pasien pasca operasi yang tengah Aro periksa sayatan bekas operasinya. Sebenarnya hal macam itu bisa saja Aro serahkan pada dokter magang atau yang lainnya, tapi karena pasien itu adalah pasien yang benar-benar baru melewati masa kritisnya, Aro merasa harus memeriksanya langsung dan memastikannya dengan mata sendiri bahwa semuanya memang sudah baik-baik saja.
Meski sudah menjalani profesi sebagai dokter bertahun-tahun, mengkhawatirkan pasiennya tidak pernah menjadi hal yang kadaluarsa bagi Aro, selama pasiennya itu belum bisa berjalan bebas, makan dengan baik, tertawa dengan lepas, atau bahkan belum keluar dari rumah sakit, Aro merasa harus tetap memantau baik secara langsung maupun melalui para perantara junior-juniornya.
Setelah menangani pasiennya, keluar dari kamar rawat dan berpisah dengan perawat yang bersamanya, barulah Aroha merogoh ponselnya, mendapati panggilan tak terjawab dari sosok yang sudah Aro duga. Siapa lagi? Sudah jelas ajudan ayahnya, yang pasti menghubunginya karena sang ayah yang menyuruh. Dalam daftar panggilan tak terjawab itu bahkan ada nama sang ayah juga, yang mana jika beliau menghubungi Aro secara langsung itu berarti beliau memang sudah gemas dan berharap Aroha mengangkat panggilannya, meski akhirnya tidak.
“Ckckck, bahkan telepon dari Presiden Negara aja nggak kamu angkat, Ro? Bukannya itu keterlaluan?” Ucap seseorang yang membuat Aroha terperanjat, kaget.
Sosok seorang pria muncul di belakangnya, tiba-tiba bersuara, tanpa basa-basi, atau tanpa peringatan sebelumnya. Mengagetkan Aro yang langsung mengusap d**a dengan mata tertutup.
“Dira, bisa nggak jangan ngagetin kayak gitu!” Protes Aro sebal, menaruh ponselnya yang ada di tangan kembali ke saku jas dokternya.
“Sorry, habis muka kamu kelihatan serius tapi diem di tempat aja dari tadi, makanya aku sedikit ngintip.” Ucap pria itu tersenyum tipis. Pria yang tidak lain adalah dr. Dirandra, Sp.BS—salah satu dokter specialist saraf rekan kerjanya di rumah sakit itu.
“Kalau nggak sibuk baiknya dipakai istirahat aja, Dokter. Daripada keliaran nggak jelas.”
“Bentar lagi ada jadwal di OR, dr. Aro… Tadi saya ngunjungin pasien yang bersangkutan dulu untuk pastiin keadaannya. Ini lagi nunggu yang lain persiapin OR-nya.”
Aroha memutar matanya malas, meski alasannya demikian alangkah baiknya Dira tidak mengganggunya Aro rasa.
“Itu, beneran telepon dari Presiden nggak ditanggepin? Berani banget ya Dokter ini…”
Ahh… rekannya yang satu ini, memang usil sekali jika sudah berurusan dengan Aro. Ucapannya tidak salah, tapi jelas terdengar menyebalkan. Aro tahu, Dira sedang mengejek atau menggodanya.
“Dir, nggak usah ikut campur sebentar bisa? Aku lagi pusing tahu!”
“Hm? Kenapa? Coba cerita, barang kali aku dapet gossip baru yang bisa aku sebar di rumah sakit.” Ucap pria itu dengan wajah gembira.
Lihat? Betapa menyebalkannya dokter satu ini.
“Kamu diem dan nggak ganggu aku nggak? Atau mau aku panggilin Nadya biar dia bisa jinakin kamu?”
“Hm? Kenapa sama aku? Kamu butuh apa, Ar?”
Panjang umur, sosok yang baru saja di mention Aro tiba-tiba ada di sana, bergabung dengannya dan Dira yang sedang bicara.
“Ini, si Aro masa bisa-bisanya cuekin telepon dari Presiden. Orang nomer 1 di negara ini dia cuekin, Nad. Kamu bayangin, berani banget kan dia?”
“Dir!”
Dira sama sekali terlihat tidak peduli dengan gertakan itu, malah menjulurkan lidahnya dan menarik Nadya meninggalkan Aro seorang diri yang meringis merasa tidak memiliki pilihan lain selain mengangkat telepon dari ayahnya yang sejak tadi dia abaikan.
Aroha menarik napasnya panjang, mengambil ponsel di saku jas dokternya dan menatap nama sang Ayah menari-nari di sana. Wanita itu menggaruk hidungnya yang tidak benar-benar gatal, meringis kemudian menggeser icon berwarna hijau sebelum menempelkan benda itu di telinga.