“La, gue kayaknya gak sanggup lagi deh. Udahan aja deh ya. Kasian sama dia. Pasti dia sekarang maksain dirinya banget.” “Lo gimana sih? Tinggal 3 hari lagi loh Li, nanggung banget,” Lala menatap Ali meyakinkan. Ali menyeka peluhnya sisa dari bermain basket tadi. “Gue yakin ini bakal berhasil,” lagi-lagi Lala mencoba meyakini Ali. Ali menatap lapangan basket di hadapannya yang terlihat sudah kosong. Ingatannya kembali saat tiba-tiba Lala mendatanginya. Menceritakan semua yang terjadi dengan Prilly. Saat itu Ali sungguh merasa sangat bersalah. Ia tak menyangka jika gadis itu harus mengalami hal seperti itu. Saat itu Lala juga bercerita bahwa ia baru saja menemui dokter Pribadi Prilly. Dokter itu menjelaskan bahwa apa yang terjadi pada Prilly akan menjadi permanen bila tak ada usaha dari

