“Enggak... aku gak mau!” Tolak Icha sembari mengusap wajahnya kasar. Icha menatap tak percaya pada Ali yang kini sendang duduk di salah satu kursi yang terdapat di perpustakaan. “Ayolah Cha, bantu gue.” “Aku gak ngerti deh jalan pikiran kamu, sebenarnya mau kamu apa sih?” “Apapun mau gue, biar itu jadi urusan gue Cha.” “Yaudah deh, tapi cuma sekali. Aku gak setega kamu,” ucap Icha pasrah akhirnya membuat Ali tersenyum. Icha menghela nafas panjang. Entah kenapa akhir-akhir ini Icha tak mengerti jalan pikiran Ali. Namun yang lebih tak ia mengerti adalah perasaannya kini yang merasakan tak sehangat dulu saat didekat Ali. Ia merasa api unggun yang selama ini dinyalakan oleh laki-laki itu sengaja ia padamkan dan api unggun itu sengaja pula ia pindahkan ke tempat lain. *** Prilly membasu

