Keesokan Harinya Dalam perjalanan menuju tempat kerja Melly, suasana di dalam mobil terasa datar. Melly tampak santai, sementara Mirna duduk gelisah di sampingnya, menatap jalanan dengan pikiran berkecamuk. “Mirna,” ujar Melly, memecah keheningan, “pekerjaanku nggak butuh skill apa-apa. Kamu cuma nemenin pelanggan aja. Duduk, ngobrol, nyanyi. Gitu doang.” “Oh gitu…” jawab Mirna pelan. “Enak juga ya, nggak perlu capek mikir.” Melly tersenyum. Tapi di balik senyum itu, tersimpan rencana yang tak ia ungkap. Ia sudah lama mengincar Mirna untuk dikenalkan pada bosnya—Tante Ariani—dengan tujuan yang lebih dalam dari sekadar ‘menemani pelanggan’. Mirna mulai merasa tak tenang. Wajahnya menyiratkan kebimbangan yang terus membesar. “Apa ini jalan yang benar? Kenapa aku malah ikut Melly? Kerja

