Kabut hitam menyelimuti langit di sepanjang perjalanan. Akhirnya kendaraan yang mereka tumpangi telah sampai di tempat parkir Gunung Ceremai. Tara meluruskan standar dan Esih pelan-pelan turun dari jok. Tara cekatan membopong tubuh istrinya. Pria ini berjalan perlahan sambil mengatur napas menaiki anak tangga menuju punden. Sesekali dari bibir Esih terdengar desis kesakitan. Beruntung anak tangga menuju punden telah terpasang lampu penerangan berjarak setiap meter. Jadi Tara tidak mengalami kesulitan saat melewatinya. “Neng, kita berhenti sebentar. Nafas Aa’ megap-megap. Tadi jadi bawa air, kan?” “Jadi, Aa’,” jawab Esih dengan segera mengambil botol minuman dari dalam ransel. Wanita tersebut segera membuka tutup botol lalu mendekatkan ke mulut Tara. Pria dengan peluh bercucuran di dah

