Puzzles 26. Sekejap Mata

1820 Words
Arya dan Syila masih duduk di tepi pantai itu. Mereka kembali berdiskusi sembari mengejar waktu yang semakin lama semakin cepat berlalu. “Arya, menurutmu sekarang giliran siapa yang akan kita cari?” Syila yang semakin melemah, meminta pendapat Arya untuk menentukan siapa yang akan mereka cari selanjutnya. “Bagaimana kalau ... Aji?” Arya memiliki alasan tersendiri kenapa dia memilih Aji sebagai target berikutnya yang akan mereka cari. “Kenapa kamu memilih Aji sebagai target kita selanjutnya?” Syila menginginkan sebuah alasan. “Karena dari semua sahabat-sahabatku yang paling jelas terlihat masa lalunya saat aku menyelami masa lalu mereka adalah Reno, Angga, dan Aji. Seperti yang pernah aku ceritakan sama kamu, kalau Mikha, Raina, dan kamu, memiliki masa lalu yang penuh dengan teka-teki. Jadi lebih baik sekarang kita cari Aji. Kalau kita sudah menemukannya segera kita sadarkan dia dan mengantarnya menuju portal jalan pulang.” Arya kembali memberikan masukkan. “Baiklah, Arya! Sekarang kita harus ke mana?” Syila merasa bingung, karena sesungguhnya dia sudah merasa semakin melemah. Syila menutupi semua itu dari Arya, dia tidak ingin membuat Arya menjadi panik dan khawatir. ‘Ya Tuhan ... tolong aku agar terjaga sampai semua kembali seperti semula. Aku takut kalau sampai aku tidak bisa mengendalikan rasa lelah ini, aku hanya manusia biasa dengan segala kekurangan,' batin Syila meronta. “Dulu, saat aku menyelami masa lalu Aji, dia adalah sosok pemuda yang suka dengan petualangan. Mencari pengalaman baru dengan menjelajah banyak hutan dan pegunungan. Aku masih ingat kalau Aji pernah mengatakan bahwa malam tahun baru ini dia sangat ingin mendaki gunung Semeru. Terlebih keinginan Aji untuk bermalam di kawasan danau Ranu Kumbolo. Kemungkinan besar Aji pergi ke sana. Tapi yang jadi pertanyaanku, apa kamu pernah membayangkan dalam dimensi mimpimu ini tentang gunung Semeru dan danau Ranu Kumbolo?” Arya juga merasa sedikit bingung untuk menentukan langkah selanjutnya kalau ternyata Syila tidak pernah memikirkan tentang gunung Semeru dalam mimpinya. “Rasanya aku pernah mimpikan sebuah kawasan seperti pegunungan, saat itu aku sedang membaca sebuah berita tentang keindahan suatu kawasan pegunungan yang menjadi lokasi syuting dalam sebuah film pendakian yang booming di Indonesia. Apa mungkin lokasi yang dijadikan untuk Syuting itu adalah gunung Semeru? aku pernah membayangkan tentang lokasi syuting itu. Tapi Aku sedikit lupa! Semoga saja imajinasi itu terwujud dalam dimensi mimpiku yang ini,” jelas Syila kepada Arya. “Kalau memang benar, ayo kita cari! Soalnya memang ada film yang mengambil latar belakang gunung Semeru untuk keperluan Syuting. Lebih baik kita mulai pencarian saja!” Arya masih sangat optimis untuk terus mencari Aji dan beberapa sahabatnya yang belum mendapat giliran dalam pencarian. “Tapi kita harus mulai dari mana, Arya? Terkadang dimensi mimpi itu perpindahan waktunya sangat cepat.” Syila takut kalau dirinya gagal untuk melanjutkan pencarian terhadap semua sahabat-sahabatnya. “Syila, dengar aku! Kamu harus yakin! Di sini ibaratnya adalah daerah kekuasaan kamu! Kamu yang mengetahui seluk beluk dimensi mimpi kamu ini. Bisa mengendalikan semuanya. Kecuali jika memang yang tampak seperti nyata adalah hasil dari imajinasi mimpi sahabat kita, kita harus terus berjuang! Mungkin kita akan mengawali petualangan ini setelah kamu mencoba untuk kembali mengingat gunung yang pernah kamu bayangkan kan yang masuk dalam imajinasi mimpi kamu. Semoga gunung itu adalah imajinasi gunung Semeru.” Arya terus memberikan dukungan kepada Syila. Juga berusaha meyakinkan Syila untuk bisa terus melanjutkan petualangan sampai akhir. “Baiklah, Arya! akan aku coba. Aku akan mencoba kembali mengingat pemandangan itu. Jika memang benar apa kita bisa bertemu dengan Aji di sana?” sila semakin takut karena tantangan selanjutnya akan lebih sulit. “semoga saja sila. Menggunakan petunjuk dari yang pernah aku selami masa lalunya dan keinginan yang terdalam belakangan ini adalah merayakan tahun baru dengan berkemah di wilayah danau Ranu Kumbolo pendakian menuju gunung Semeru. Semoga saja apa yang pernah kamu bayangkan itu memang yang kita tuju. Aku yakin Tuhan akan menuntun jalan kita.” Arya kembali merasa optimis dan berusaha untuk meyakinkan sila. “Baiklah Arya Aku akan kembali mengingat pemandangan itu. Mari kita berpegangan tangan agar saat kita masuk dalam imajinasi tempat itu, kita tidak akan berpisah!” Syila memantapkan hatinya menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan untuk menenangkan hatinya. Baru saja sila akan memulai mengingat tentang pemandangan alam sebuah lereng gunung yang dijadikan sebagai tempat syuting sebuah film pendakian, yang menurut Syila itu adalah gunung Semeru. Tempat di mana Aji diduga berada karena sangat menginginkan untuk merayakan tahun baru di sana. Namun, sesuatu yang tidak diduga terjadi. Konsentrasi Syila terganggu, karena tubuhnya yang semakin lelah dan Dia agak sedikit lupa bagaimana imajinasi pemandangan itu. Arya menoleh ke arah lautan di sana. Matanya membulat melihat gulungan ombak besar yang segera datang ke arah mereka. “Astaga! Syila ayo kita lari!” jangan sikap Arya meraih tangan Syila. Syila tersentak kaget dan semua konsentrasinya buyar seketika Arya menarik tangannya. Syila seperti orang linglung, saat itu dia menoleh ke arah laut. Ternyata gulungan ombak yang sangat besar tepat berada di belakang mereka. “i—itu?” Syila lantas berlari bersama Arya. Belum sempat mereka lari menjauh dan menghindar dari amukan ombak besar itu, sang ombak datang menerjang mereka begitu saja. “Aaaaa ....” mereka berteriak kencang karena ombak menerjang mereka hingga menghempas tubuh mereka dan menghanyutkan mereka ke dalam sebuah hutan yang tidak jauh dari bibir pantai. Arya dan Syila terus berpegangan tangan walau air menggulung mereka hingga berputar dan beberapa kali menabrak semak belukar yang ada di dalam hutan. Syila juga mendekap erat boneka beruang miliknya yang sangat berharga bagi Syila. Suara gelembung air yang terdengar jelas di telinga mereka saat ombak itu menggulung mereka ke dalam sebuah hutan belantara. “Uhuk ... uhuk ....” “Hemm ... uhuk huk ....” Arya dan Syila saat ini berada di tengah hutan belantara. Mereka masih batuk-batuk dan pusing serta sakit di sekujur tubuh mereka. Karena ombak itu menggulung mereka menerjang apa saja yang ada di hadapan mereka tanpa belas kasih. Saking derasnya air yang menggulung mereka bahkan sampai tertelan juga masuk ke dalam saluran hidung. Rasanya sangat perih dan menimbulkan batuk. Mereka berdua duduk di atas tanah dengan baju yang basah kuyup. Syila dan Arya berusaha untuk memulihkan keadaan mereka dari sesuatu hal yang mengerikan yang baru saja mereka alami. Sesekali Arya terlihat memukul dan memiringkan kepalanya. Seolah dia merasa ada air yang masuk ke dalam telinganya. Sedangkan Syila masih berusaha untuk bernapas dengan normal, hidungnya kemasukan air dan rasanya sangat pedih. “Arya, kamu nggak apa-apa?” Syila mengkhawatirkan keadaan Arya yang terlihat sibuk mengeluarkan air dari dalam telinganya. “Ya ... lumayan pegal-pegal juga sih! Ada beberapa goresan luka di tubuh aku! Mungkin saat tadi air menggulung kita menerjang semak belukar. Satu lagi yang sangat mengganggu, telingaku kemasukan air.” Arya mengatakan dengan jujur apa yang dia rasakan saat ini. “Sekarang kita berada di mana?” Arya kembali menyambung pertanyaannya. “Sepertinya kita terhempas ke dalam hutan. Lalu bagaimana selanjutnya?” Syila merasa kalau petualangannya semakin menantang. “Kita sudah terlanjur basah Syila! Kita lanjutkan perjalanan sampai pakaian kita mengering! Kita ikuti saja jalur setapak yang ada di depan kita. Semoga perjalanan panjang ini mengantarkan kita ke tempat Aji berada.” Arya berusaha untuk meyakinkan Syila bahwa mereka dapat menjalankan misi sesuai dengan rencana dan tepat waktu. “hahaha ... Kamu benar, Arya! Kita sudah terlanjur basah, jadi sebaiknya kita harus melanjutkan perjalanan ini. Terima kasih Arya sudah selalu menguatkan aku dalam setiap langkah menjalankan misi ini.” Syila tersenyum manis kepada Arya, karena dia merasa Arya selalu dapat meyakinkannya, mendukungnya, dan juga dapat menghibur di saat suasana hati Syila merasa tidak percaya diri. “i am ready! Let's go!” dengan bersemangat Arya menularkan aura positifnya kepada Syila yang sebenarnya sudah sangat lelah. Mereka kembali bertualang bersama menyusuri jalur setapak di dalam hutan. Mereka tidak tahu harus ke mana lagi melangkah. Namun, satu hal yang pasti, mereka yakin bahwa jalur setapak yang mereka lewati itu akan mengantarkan mereka menemukan sebuah titik terang untuk menemukan Aji yang tersesat di dalam dimensi pusaran mimpi Syila. Arya merasa bahwa apa yang dia tapaki saat ini benar-benar terasa seperti nyata. Padahal dia tahu kalau tempatnya berpijak saat ini hanyalah dunia imajinasi dari Syila yang terwujud seperti nyata dalam dimensi pusaran mimpinya. “Syila apa kamu lelah?” Arya merasa khawatir pada Syila yang sedari tadi terlihat diam. “Kalau aku menjawab jujur pasti kamu lebih khawatir lagi sama keadaan ini.” Syila hanya melontarkan senyum kepada Arya, berusaha menyembunyikan rasa lelahnya dan konsentrasi yang sempat buyar akibat lelah dan tidak percaya diri. “Kalau kamu lelah, bilang saja sama aku! Setidaknya kita bisa beristirahat dulu, lalu melanjutkan perjalanan. Paling tidak aku harus memastikan kalau kamu tidak mengantuk dan memejamkan mata. Berjanjilah padaku! Berjuang bersama dan bertahanlah! Kita harus yakin kalau kita bisa melanjutkan misi ini sampai selesai.” Lagi-lagi Arya meyakinkan Syila disela perjalanan mereka. Syila hanya membalas senyuman Arya. ‘Terima kasih, Arya ... sudah mengerti bagaimana keadaanku, mau memaafkan kesalahan yang tidak disengaja ini, dan selalu menguatkan aku untuk tetap optimis dalam menjalankan misi ini,' batin Syila sembari menatap Arya yang juga sedang tersenyum kepadanya. *** “Aw!” pekik Syila mengejutkan Arya. Ketika mereka sedang serius menyusuri jalan setapak itu, tiba-tiba Syila tersandung akar pohon yang menyebabkan mereka masuk ke dalam hutan yang berbeda dari yang sebelumnya. Lantaran pikiran Syila yang tiba-tiba goyah. Arya dan Syila terdiam sejenak karena merasa terkejut dengan keadaan dan situasi yang tiba-tiba berubah. Mata mereka mengedar ke seluruh penjuru hutan yang baru saja mereka pijak. Mata mereka terbelalak karena mereka memasuki hutan Fantasi. Syala menghela nafas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia sangat paham berada di mana saat ini. “Syila, saat kamu tersandung tadi, pasti fokus kamu goyah?” “I—iya!” Syila menunduk. “Sekarang kita berada di mana? Apakah masih dalam dimensi yang sama? Karena aku lihat hutan ini sangat berbeda dari yang tadi kita pijak. Aku rasa kita berada di dalam hutan khayalan hasil fantasi pikiran kamu, ya?” Arya menyadari karena dia melihat banyak pohon besar dengan daun yang menyala-nyala seperti kristal. “Maaf! Aku berusaha untuk tetap fokus tapi ternyata semua buyar seketika saat aku tersandung akar pohon tadi. Hutan ini memang hutan khayalanku. Aku beri nama hutan Nirmala. Karena hutan ini muncul dalam benakku saat aku senang membaca sebuah dongeng. Maka terbentuklah imajinasi ini. Tapi kita masih berada di dimensi yang sama. Tapi ... aku tidak tahu, Aji berada di sebelah mana. Apa kita harus kembali ke hutan yang tadi? Atau kita terus menyusuri hutan ini?” Syila merasa dirinya gagal. “Syila, Jangan pernah merasa gagal. Dunia mimpi memang sangat mudah berubah dalam sekejap, secepat kita mengalihkan pikiran kita. Karena kita sudah berada di sini, kita telusuri saja! tapi kamu terus fokus untuk terus memikirkan Aji dan daerah gunung Semeru yang ada dalam imajinasi kamu.” Arya terus memberi dukungan kepada Syila agar rasa percaya dirinya kembali muncul di antara buaian alam mimpi Syila. *** Bersambung .... Apakah hutan Fantasi itu berujung pada tempat keberadaan Aji?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD