Puzzles 28. Makhluk Jadi-jadian

1894 Words
Syila dan Arya merasa kedinginan saat mereka tiba di daerah pinggiran danau. Ada rasa tersayat dalam hati Arya mengingat kembali luka lamanya saat dirinya kehilangan seorang sahabat yang bernama Nikita. Karena dahulu sahabat dekatnya itu menceburkan diri ke dalam danau, setelah beberapa minggu situasi dalam keluarganya pecah dan memanas. Nikita menjadi korban atas pertengkaran kedua orang tuanya. Ketika Aji menyapa balik Arya dan Syila, Arya yang tengah melamun langsung menoleh ke arah Aji. Hanya sepintas Arya mengenang mendiang Nikita. Kemudian dia langsung fokus untuk menyadarkan Aji, karena misi Syila dan Arya adalah mengembalikan semua sahabatnya ke tempat yang seharusnya. Aji yang tengah berdiri di tepi danau sembari menikmati pemandangan alam danau Ranu Kumbolo yang ada dalam dimensi mimpi Syila, seakan tertegun melihat kedatangan Syila dan Arya di sana. Aji justru merasa kalau sosok Syila dan Arya yang ada di hadapannya adalah sosok makhluk astral yang menyerupai sahabatnya. Aji sampai kehabisan kata-kata dan dia terus menatap sosok Arya dan Syila yang masih berdiri di hadapannya. ‘Ya ampun! Kenapa tiba-tiba ada Arya dan Syila di sini? Apalagi coba kalau bukan sosok makhluk astral yang menampakkan diri menjelma menjadi Arya dan Syila? Aku juga merasa aneh dengan pemandangan danau Ranu Kumbolo ini. Pemandangan yang indah begitu memikat tapi kenapa di sini sepi? Bukankah seharusnya saat merayakan tahun baru, banyak pengunjung yang datang untuk berkemah di sini? Ini pasti ulah makhluk astral!’ Aji justru berpikir bahwa apa yang dia alami saat itu adalah kejadian mistis ulah makhluk astral penghuni sekitar. Padahal Aji tidak menyadari kalau dirinyalah yang tersedot masuk ke dalam dimensi pusaran mimpi Syila. “Kalian kenapa tiba-tiba bisa ada di sini?” Aji penasaran dengan alasan mereka. Padahal Aji sudah menduga kalau mereka adalah makhluk astral yang menyamar menjadi Arya dan Syila. “Syukurlah, kamu di sini! Dari tadi kami mencari kamu!” ujar Syila lega. Arya dan Syilala kembali saling menatap. Mereka akan memulai melancarkan serangkaian pertanyaan untuk membuka kembali memori Aji, agar dirinya tersadar untuk membuka portal jalan pulang untuknya. “kamu lagi ngapain ji?” Arya kembali melontarkan pertanyaan kepada Aji. ‘Aku yakin! sosok yang ada di hadapanku adalah jelmaan makhluk astral yang menyerupai Arya dan Syila. Tidak mungkin mereka datang mendaki gunung melewati lembah dengan pakaian seadanya? Terlebih lagi Syila yang terlihat sangat berbeda dari penampilan yang biasanya. Wajahnya pucat, memakai gaun, rambutnya digerai panjang, dan membawa sebuah boneka. Pasti boneka itu sangat mistis. Aku tidak pernah melihat Syila berpenampilan seperti itu. Arya juga terlihat berbeda. Dia hanya memakai jaket dan celana jeans seperti biasanya. Tidak membawa perlengkapan dan bekal makanan seperti yang aku bawa. Ini benar-benar aneh! Aku harus waspada!’ Aji berspekulasi dan berbicara dalam hatinya. Arya dan sila adalah jelmaan dari makhluk astral yang berusaha untuk mengelabuinya. “Kalian siapa?” Aji justru memberi pertanyaan balik kepada Arya dan Syila. Tatapan Arya dan Syila beradu, mereka sama-sama mengernyitkan dahi. Lantaran mereka bingung atas pertanyaan Aji kepada mereka. Pengalaman sebelumnya, Reno dan Angga tidak menaruh curiga kepada kehadiran Syila dan Arya di hadapan mereka. Sehingga mereka dengan mudah untuk meyakinkan Reno dan Angga, mereka berada di dalam dimensi pusaran mimpi Syila. “Kamu hilang ingatan, Ji?” Arya menatap Aji dengan serius. “Apa kamu nggak ingat sama kita?” Merema merasa khawatir kalau Aji hilang ingatan. “Syila, ada yang aneh dengan Aji! Bukankah tadi Aji menyapa kita di awal! Lalu kenapa sekarang Dia menanyakan siapa kita? Atau jangan-jangan dia pikir kita makhluk astral yang menyamar untuk mengelabui dia?” Arya yang curiga, berbisik kepada Syila tentang apa yang dia simpulkan dalam pikirannya. “Aku juga berpikir seperti itu, Arya! Dia pasti mengira kalau kita makhluk astral makhluk jadi-jadian yang bakal gangguin dia! Bisa-bisanya itu si Aji punya pikiran kayak gitu! Atau mungkin dia memang sadar ada sesuatu yang janggal di tempat ini? Ya ... secara gitu! Ini kan dimensi mimpi hasil imajinasiku.” Syila membalas bisikan Arya dengan spekulasi yang baru saja dia tangkap dari kejadian ini. “Wah ... kalau dia menduga kita makhluk jadi-jadian, alamat susah untuk kita bujuk.” Arya kembali berbisik ke telinga Syila. “Hei! Kalian siapa? Ngaku atau aku akan mengambil tindakan?” Aji menatap mereka dengan sangat sadis. Bahkan Arya dan Syila tertegun melihat tatapan mata Aji. “Ji! Apaan sih? Aku Arya, sahabat kamu. Dia Syila, sahabat kamu juga! Masa lupa sih? Bukannya tadi kamu menyapa kita?” Arya menaruh curiga kepada Aji. “Arya dia beneran Aji atau bukan ya?” Syila kembali berbisik kepada Arya. Syila justru ragu kalau dia benar-benar Aji. Dia takut kalau imajinasinya memunculkan sosok seperti Aji. Padahal Aji yang sesungguhnya berada di tempat lain. Syila masih ragu dengan keaslian Aji yang ada di hadapan mereka saat ini. “Mending kamu fokus memikirkan Aji dan aku akan mengamati, kalau dia menghilang itu berarti dia hanyalah makhluk imajinasi kamu. Tapi kalau Aji tetap ada di hadapan kita, itu berarti dia benar-benar Aji yang asli yang harus kita selamatkan untuk keluar dari dimensi mimpi kamu. Apa kamu sudah siap, Syila?” Arya kembali berbisik kepada Syila tentang gagasannya. “Seperti yang sebelumnya kita lakukan terhadap Angga. Aku akan mulai membayangkan tentang Aji.” Syila membalas bisikkan Arya dan mulai untuk memfokuskan pikirannya memikirkan Aji. Selama Syila membayangkan dan memfokuskan pikirannya tentang Aji, Arya mengamati gerak-gerik Aji yang ada di hadapannya. “Ssssttt! Arya aku sudah selesai. Bagaimana sosok Aji? Apa masih ada di hadapan kita atau menghilang?” Syila menanyakan hal itu saat dia memfokuskan pikirannya tentang Aji. Syila tidak menutup mata melainkan membalik badannya untuk membelakangi Aji dan dia memfokuskan pikirannya pada sebuah titik yang jauh di sana. Melihat tingkah laku Arya dan Syila yang aneh Aji semakin yakin kalau mereka berdua hanyalah makhluk jadi-jadian. “Syila itu Aji yang asli! buktinya dia masih ada di depan kita. Cuma kayaknya dia merasa kalau kita berdua adalah makhluk jadi-jadian.” Arya menghela napas karena merasa kesal dengan sikap Aji. “Terus bagaimana Arya? Gimana caranya kita bisa meyakinkan Aji kalau dia berprasangka buruk terhadap kita?” Syila kembali membalikkan badannya dan menatap ke arah Arya. “Bagaimanapun itu, kita harus membuat Aji yakin sama kita!” Arya kembali berbisik kepada Syila. “Hei! Siapa kalian sebenarnya? Mengaku-ngaku jadi Syila sama Arya?” Aji benar-benar tidak yakin kalau mereka berdua adalah sahabatnya. Karena menurut Aji, mereka yang ada di hadapannya sangat mencurigakan. “Astaga! Aji! Ini kita Arya sama Syila! Masa kamu enggak ingat?” Arya berusaha untuk mengalihkan perhatian Aji, agar Aji mau mendengarkan ucapan Arya. “Mana mungkin tiba-tiba kalian muncul di hadapanku? Kalau kalian memang menyusul aku untuk mendaki ke Semeru dan bermalam di danau Ranu Kumbolo, penampilan kalian tidak akan seperti ini! Kalian tidak membawa perlengkapan, peralatan, bahan makanan. Kalian hanya melenggang tanpa membawa bekal apa-apa! Aku yakin kalian pasti penghuni di sini yang ingin mengelabuiku.” Aji menuduh Syila dan Arya adalah makhluk jadi-jadian. “Hei, Aji! Kamu tuh yang ngelindur! Keterlaluan! Kamu ingat nggak terakhir kali kamu ada di mana?” Arya mulai memberikan sugesti kepada Aji. Supaya dia mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Arya. “Aku? Di mana? Ya jelas bermalam di sinilah!” Aji masih mengotot kalau dia memang benar-benar bermalam di danau Ranu Kumbolo. “Sekarang kamu pikir baik-baik! Dari tadi kamu sendirian di sini? Kamu pergi ke sini sendirian? Dan tenda-tenda itu semuanya kosong? Orang-orang pergi?” Arya mencoba membuat pikiran Aji yang menyimpan suatu tanda tanya besar dalam benaknya. Aji bergeming. Tak lama kemudian dia menoleh ke arah sekitarnya. Lalu dia melihat ke arah danau. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru wilayah. Pikirannya seakan berjalan seolah dia kembali mengingat masa lalu. Peristiwa sebelum dirinya berada di danau itu. ‘Mereka benar. Mengapa aku berada di sini sendirian? Apa iya aku berangkat ke sini sendiri? Terus kenapa tenda-tenda itu kosong? Tapi rasanya aku seperti berada di tengah para pendaki. Apa yang sebenarnya terjadi sama aku? Jangan-jangan makhluk jadi-jadian itu mengelabui aku?’ Aji mulai berpikir kalau dia sedang dikelabui oleh dua sosok misterius yang menyerupai Arya dan Syila di hadapannya. “Kalau kalian berpikir aku bisa untuk kalian kelabui, kalian salah! Aku yakin kalian adalah makhluk jadi-jadian yang menyerupai Syila dan Arya. Dan kalian juga yang membuat aku seolah berada di sini sendirian. Jangan harap aku akan terbuai dan mudah terbujuk oleh tipu daya kalian!” Aji justru semakin menuduh mereka adalah Arya dan Syila yang palsu. “Aji! Kami ini sahabat kamu!” Syila merasa cemas dan berusaha meyakinkan Aji. “Syila yang aku kenal penampilannya tidak seperti kamu! Syila gadis yang ceria yang selalu berwarna hidupnya, tidak seperti kamu yang misterius dan seperti jiwa yang kosong yang sedang bergentayangan. Jangan coba-coba untuk mengelabui aku!” Aji justru memberikan pernyataan yang mengejutkan Syila. “Hei kamu ini! Coba kamu ingat sekali lagi di mana terakhir kali kamu berada?” Arya yang kesal langsung berusaha untuk kembali mengingatkan Aji. Aji kembali terdiam dan dia berpikir. Memorinya mulai mengingat kalau terakhir kali dia bersama sahabat kepompong berada di Villa milik kedua orang tua Raina. Lalu Aji berpikir kalau dia berada di Villa itu karena merayakan malam tahun baru. Dia kembali berpikir bahwa tujuan Aji berada di danau Ranu Kumbolo juga untuk bermalam merayakan malam tahun baru. Tidak mungkin Aji berada di dua tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Dia mulai menyadari ada sesuatu yang janggal di sana. “Kenapa kamu diam? Kamu pasti bingung memikirkan keadaanmu yang ternyata ada di dua tempat dalam waktu yang bersamaan? Karena sebenarnya, lokasi terakhir yang kamu munjungi, tempat di mana kamu berada adalah di Villa milik Raina. Bukan di sini. Kami datang ke sini untuk mengajak kamu kembali ke tempat semula di kehidupan yang nyata.” Arya kembali meyakinkan Aji. “Jangan harap aku akan mudah percaya dengan kalian!” Aji justru kembali mengotot kalau dia tidak mempercayai Arya dan Syila yang ada di hadapannya saat ini. “Arya bagaimana ini? Aji sama sekali tidak mempercayai kita! Sedangkan waktu yang kita miliki tinggal sedikit! Aku akan berusaha bertahan tapi apalah dayaku hanya gadis lemah yang bisa saja lengah.” Syila kembali berbisik kepada Arya dengan wajah yang penuh dengan kekecewaan. “Syila, bagaimana kalau kita paksa Aji untuk masuk ke dalam cahaya menuju jalan pulang itu?” Arya berusaha untuk meyakinkan Syila menggunakan cara lain untuk mengembalikan Aji ke dunia nyata. “Kalau dia tidak menyadari bahwa dirinya berada di dalam dimensi lain, maka portal jalan pulang akan sulit ditemukan. Aku berharap Aji akan ingat dengan semuanya. Lalu sekarang kita harus bagaimana, Arya?” Syila merasa sangat kesal juga kecewa. Dia lemas setelah mengetahui kalau Aji justru berpikir kalau Syila dan Arya adalah makhluk jadi-jadian. “Kita memaksa dia untuk mendengarkan apa yang kita ucapkan! Bagaimana?” Arya kembali berbisik kepada Syila dan mengajaknya untuk memaksa Aji agar mendengarkan penjelasan mereka. “Kenapa kalian berbisik-bisik? Oh ... aku tahu, pasti kalian ingin menangkapku, kan?” Aji sudah bersiap untuk lari. “Kalau kita ingin menangkap kamu, terus bagaimana?” Arya yang kesal semakin terpancing emosinya. “Jangan harap! kalau kalian bisa, silakan tangkap aku!” dengan cepat Aji melesat bersama langkahnya menjauh dari Arya dan Syila. “Yah! dia lari!” Arya benar-benar tidak menyangka. “Arya! ayo kejar dia!” Syila mengajak Arya untuk mengejar Aji yang berlari menjauh dari mereka. “Haaashhh! Bocah ini bener-bener menyusahkan!” Arya dan Syila berlari mengejar Aji yang sudah melesat jauh di depan sana. *** Bersambung ... Apakah Syila dan Arya berhasil menemukan Aji?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD