Aji sudah hampir berlari. Namun, dengan sigap, Arya menghalangi langkah Aji dengan menjegal kakinya.
Gedebuk!!!
“Aw!” pekik Aji sangat lantang. Lantaran dirinya kembali terjatuh dan lengannya jadikan penopang tubuhnya, sehingga Aji merasa sangat kesakitan.
“Maafin Aku, Ji! Sejak awal kita nggak bermaksud untuk menculik kamu! Tapi kamu berpikir negatif tentang kita dan menduga bahwa kita ini makhluk yang tak kasatmata? Gitu? Padahal kami datang ke sini untuk menolong kamu!” Arya yang masih menstabilkan dirinya di atas tanah itu, berusaha untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Aji ketika Aji masih dalam posisi terjatuh.
“Kamu bilang maaf? Lalu perbuatan kalian ini apa? Menjegal aku? Mau kalian apa sebenarnya?” Aji merasa kesal dengan ulah Arya yang menjegal kakinya sehingga dirinya gagal untuk melarikan diri.
“Seperti yang kita pernah katakan sama kamu! Tolong dengarkan kita bicara! Tolong pahami apa yang kita ceritakan sama kamu! Tapi kamu nggak pernah mau mendengarkan kita! Mau tidak mau kita menggunakan cara lain agar kita bisa berbicara dengan kamu seperti ini. Kalau kamu marah sama kita! Satu hal yang pasti, kita datang ke sini untuk menolong kamu!” jelas Arya dengan nada yang begitu tegas.
“Menolong apa?” Aji melontarkan pertanyaan sembari berekspresi menyeringai dengan apa yang diucapkan oleh Arya.
“Aji! Kalau kamu nggak percaya sama kita, itu terserah kamu! Tapi aku mohon! Dengarkan dulu penjelasan kita!” Syila yang hadir di tengah mereka semakin membuat Aji bertanya-tanya dengan penampilan Syila yang aneh tidak seperti biasanya.
“Percaya atau tidak itu urusan belakangan! Tapi satu hal yang pasti ada sesuatu yang nggak beres di tempat ini! Termasuk kalian yang tiba-tiba datang menghampiri aku dengan penampilan yang tidak seperti biasanya dan seolah-olah kalian sangat mengenalku? Sedangkan Arya dan Syila nggak mungkin datang ke sini hanya berdua! Kalaupun kalian datang ke sini pastinya sama mereka sahabat kita! Bahkan kalian tidak membawa bekal atau perlengkapan apa pun! Padahal perjalanan ke sini cukup terjal dan memakan waktu.” alasan Aji mencurigai mereka memang sangat mendasar. Bukan tanpa alasan, Aji menganalisa ada yang tidak beres dengan lokasi itu dan juga kemunculan Arya dan Syila yang tiba-tiba. Itulah alasan yang mendasari Aji menghindar dari Arya dan juga Syila.
“Tempat ini memang tidak biasa! Tempat di mana kita berada saat ini, memang bukan tempat yang nyata! Tapi kamu bisa mempercayai kita! Karena kita berusaha untuk mengembalikan kamu ke tempat yang semula!” Syila kembali menjelaskan kepada Aji.
“Tolong dengarkan apa yang akan kita ceritakan sama kamu! Jangan lari lagi!” Arya menegaskan kembali.
Aji terlihat lesu dia menghela napas karena percuma saja jika dia berlari lagi dengan cedera yang lumayan membuat Aji meringis kesakitan. Aji masih duduk dalam posisinya saat ini, begitu juga dengan Syila yang berdiri menatap mereka berdua bersama boneka beruang yang selalu dia dekap. Sedangkan Arya masih duduk menahan rasa ngilu yang tengah dia rasakan.
Aji terlihat kembali menghirup napas panjang dan menghelanya perlahan. Dia masih waspada terhadap Arya dan Syila yang ada di hadapannya saat ini. Lantaran Aji tidak percaya dengan siapa pun kecuali dirinya sendiri.
“Baiklah mulai saja! Apa yang ingin kalian ceritakan padaku?” Aji masih melirik tajam ke arah Arya dan juga Syila walau saat ini dirinya mau mendengarkan apa yang akan mereka ceritakan.
“Mungkin butuh pemikiran yang jernih saat aku menceritakan hal ini. Terlepas kamu mau percaya atau enggak!” Arya kembali menegaskan dan dia menatap Aji dengan tatapan yang mampu mengintimidasi Aji saat itu.
“Tempat di mana kita berpijak saat ini bukanlah danau Ranu Kumbolo yang sesungguhnya.” Satu kalimat yang terlontar dari bibir Arya membuat Aji terbelalak seakan tidak percaya dengan apa yang Arya ucapkan saat ini.
“Come on, guys! Apa maksud kalian?” Aji mulai mengernyitkan dahi seakan tidak percaya dengan apa yang mereka ucapkan.
“Ji! Itulah alasan kenapa kita datang menemui kamu di sini. Seperti yang kamu lihat aku dan Syila hanya memakai pakaian seadanya. Karena kita memang nggak pernah mendaki kawasan Semeru dan danau Ranu Kumbolo secara nyata. Semua yang kamu lihat di sini adalah dimensi mimpi Syila.” Arya kembali menjelaskan kepada Aji dengan caranya.
“Hah? Maksud kamu? Aku sedang bermimpi?” Aji benar-benar mengernyitkan dahinya dan berpikir keras dengan apa yang sedang diceritakan oleh Arya.
“Coba kamu ingat! Kapan terakhir kali kamu ketemu sama aku?” Arya mencoba mengingatkan Aji dengan memorinya yang terlewatkan.
Aji bergeming. Dia mencoba mengingat kapan terakhir kali bertemu Arya. Tak lama berselang memori Aji mulai pulih. Ia teringat terakhir kali bertemu dengan Arya di Villa milik kedua orang tua Raina. Aji juga ingat terakhir kali dia melihat Arya saat dia marah dan pergi dari Villa milik Raina, pasca dikerjai oleh sahabat-sahabatnya.
‘Sebentar! Setelah aku ingat-ingat, terakhir kali aku bertemu sama Arya dan Syila, ya ... di Villa milik orang tua Raina. Tapi kita sedang apa ya di situ?’ gumam Aji dalam hatinya sembari mengingat kembali peristiwa apa yang mereka lakukan di Villa milik orang tua Raina yang berada di Puncak.
“Kenapa kamu diam?” Arya mendesak Aji untuk mengingat semuanya. Bukan tanpa alasan, karena Arya dan Syila harus berpacu dengan waktu. Mereka harus menemukan Mikha, Raina, dan asisten rumah tangga Raina yang bertugas menjaga Villa bersama suaminya.
Aji melirik ke arah Arya, dia mengakui bahwa pertemuan dengan Arya yang terakhir kali berada di Villa Raina. Akan tetapi Aji masih belum mengingat acara apa yang dia ikuti di sana.
“Ya aku ingat! Kapan terakhir kali aku ketemu sama kalian.” Aji sengaja tidak menyebutkan tempat karena dia ingin memastikan bahwa Syila dan Arya yang ada di hadapannya saat ini benar-benar nyata sahabatnya.
“Kamu sengaja enggak mau ngasih tahu ke kita tempat terakhir kali kita berkumpul? Tenang aja kali, Ji! Kita ingat kok kapan kita ketemu. Ketika perayaan malam tahun baru, tepat saat libur semester di Puncak, di Villa milik orang tua Raina. Terakhir kali kamu ketemu sama aku sesaat setelah kalian mengerjai aku! Kalian pura-pura menghilang, hanya untuk membuatku panik dan ternyata kalian memberikan surprise sama aku seolah-olah aku yang berulang tahun saat itu, padahal yang ulang tahun kan Angga.” Arya masih kesal jika mengingat kejadian itu.
“Hahaha ... Ya, aku ingat kejadian itu. Tapi ... Apa saat itu kita sedang merayakan malam tahun baru di sana?” Aji masih belum yakin kalau mereka merayakan tahun baru di Villa milik kedua orang tua Raina.
“Terakhir kali kita lagi kumpul, Ji! Di taman samping Villa itu. Kamu juga tahu kalau Aku mengantuk, iya kan? Malah kamu yang nyuruh aku tidur di kursi taman itu. Terus kamu ngeluarin ponsel untuk mengatur alarm. Katanya biar aku nggak ketinggalan sama acara makan-makan setelah kita barbeque-an itu, kan? Coba kamu ingat!” Syila angkat bicara karena memang Aji yang menyuruh Syila tidur di kursi taman itu.
“Astaga! Aku ingat semuanya! Terus kenapa aku ada di sini?” Aji mulai menyadari ada yang tidak beres ketika dirinya berada di sana.
“Itu dia yang ingin kita jelasin sama kamu! Tapi kamu malah menduga kalau kita makhluk jadi-jadian! Kamu lari! Ya ... sudah dengan cara kayak gini deh! Biar kamu mau mendengarkan kita! Maaf ya! udah bikin kamu luka-luka!” Arya masih duduk menatap Aji yang juga sedang duduk bersila.
“Iya sih, maafin aku juga ya! Ya ... coba kalau kalian jadi aku? Kalian merasa sedang berada di tepi danau Ranu Kumbolo seperti impianku. Terus tiba-tiba kalian datang dengan pakaian seadanya tanpa bekal, tanpa peralatan, dan perlengkapan lainnya, Syila juga benar-benar berbeda dari biasanya. Siapa orangnya yang nggak mengira kalian makhluk jadi-jadian?” Aji menjelaskan bagaimana perasaannya saat pertama kali melihat Syila dan Arya yang tiba-tiba ada di hadapannya.
Arya dan Syila justru tertawa mendengar penjelasan Aji. Mereka tidak menyangka kalau pikiran Aji begitu menghalu hingga menganggap mereka makhluk jadi-jadian. Namun, tidak dipungkiri juga ketika posisi mereka menjadi Aji. Akhirnya mereka bertiga tertawa terbahak-bahak sebelum Syila menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka.
“Terus Sebenarnya apa yang terjadi? Ada yang bisa jelasin ke aku?” Aji penasaran mengapa mereka bertiga justru berkumpul di sebuah tempat yang asing menyerupai danau Ranu Kumbolo.
“Maafin aku ya, Ji! Ada sesuatu kekuatan yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan aku. Sadar dan tanpa aku sengaja. Ketika aku tertidur tidak jauh dari tempat tidurku itu akan muncul sebuah portal seperti pusaran mimpi. Portal itu akan terbuka dan bisa menyedot siapa saja yang aku pikirkan untuk masuk ke dalam alam mimpiku. Tidak hanya itu, bahkan imajinasiku bisa tertuang jelas di dalam dimensi pusaran mimpiku ini. Seperti yang kamu lihat aku pernah membayangkan betapa indahnya sebuah kawasan yang menjadi tempat syuting film pendakian dan waktu itu sangat booming. Aku membayangkan kalau aku ada di sana. Ternyata semua terwujud seperti yang kamu lihat sekarang. Kalian semua masuk ke dalam besaran mimpiku. Inilah aku yang sebenarnya, Ji. Gadis yang selalu ingin terlihat ceria di depan semua orang, padahal aku memiliki masa lalu yang cukup kesepian. Jadi aku sangat terhibur ketika aku menjelajah di dalam dunia mimpi. Tapi aku nggak menyangka kalau hal ini akan terjadi sama kalian. Mungkin kalau kalian nggak masuk tersedot ke dalam pusaran mimpiku itu, kalian nggak akan pernah tahu bagaimana aku yang sebenarnya. Saat aku panik, aku bingung siapa yang akan aku cari terlebih dahulu di sini, Arya datang membantu. Untung saja dia memang tidak ada di lokasi saat itu. Mungkin Tuhan sudah menggariskan semuanya, kalau Arya ditakdirkan untuk menolong aku dan kita semua. Beruntungnya Reno dan Angga sudah bisa kembali ke dunia nyata. Lalu, kamu begitu sulit untuk mendengar apa yang ingin kita sampaikan sama kamu.” Syila menatap Aji dengan perasaan lelah percampuran lega.
“Tuh dengerin! Dan asal kamu tahu, Ji! Syila yang ada di hadapan kamu bukan Syila yang berwujud nyata seperti kita. Tapi wujudnya tercipta dari imajinasinya sendiri.” Dia menambahkan itu agar Aji tidak terkejut.
“Wah pantas! Syila terlihat sangat berbeda! Terus Syila yang asli ada di mana? Berarti kamu ya? yang jadi makhluk jadi-jadian itu?” Aji masih sempat-sempatnya bercanda.
“Haisshhh! Kamu ini?” Arya memotong pertanyaan Aji.
“Ya ... ragaku masih ada di Villa milik Raina. Makanya itu, Ji. Waktu aku berada di sini sangat terbatas. Sedangkan kita harus mencari kalian mengembalikan kalian ke tempat yang seharusnya. Beberapa kali aku mengantuk dan kita memang benar-benar terlempar ke tempat lain untungnya masih dalam dimensi yang sama. Kalau sampai aku membuka mata sangat kecil kemungkinan kalian bisa pulang. Karena apa? Aku belum tentu bisa masuk lagi ke dalam dimensi ini.” penjelasan Syila membuat Aji begitu tercengang.
“Kalau gitu aku ingin pulang!” Aji tidak mau berlama-lama berada di sana. Takut kalau sampai tidak bisa pulang ke dunia nyata. Aji sadar dan muncul keinginan untuk kembali ke dunia nyata.
Syila dan Arya kembali tertawa melihat sikap Aji yang begitu ketakutan kalau dirinya tidak bisa kembali ke dunia nyata. Akhirnya Syila berusaha mencari portal jalan pulang untuk Aji.
“Sila gimana? Kamu sudah menemukan portal jalan pulang untuk Aji?” Arya menanyakan hal itu karena dia merasa waktu berada di sana semakin terbatas.
“Aku belum melihatnya!” Syila merasa khawatir karena sedari tadi dia mencari tetap belum menemukan portal jalan pulang untuk Aji.
“Yah ... gimana, dong? Masa kita terkurung di sini?” Aji semakin panik Begitu juga dengan Arya. Mereka merasa kalau Syila semakin kelelahan dan kurang fokus untuk mengembalikan mereka semua ke dunia nyata. Syila terlihat terus berusaha mencari portal jalan pulang untuk Aji. Kalau terlihat jelas kekhawatiran tersirat dari raut wajah Syila.
***
Bersambung ...
Apakah mereka akan terkurung di sana? Atau Syila akan menemukan portal jalan pulang untuk Aji? Bagaimana nasib Mikha, Raina, dan Ceu Euis?