Darrel membuka pintu ruang ICU. Berdiri kaku di sana selama beberapa detik sebelum kemudian melangkah masuk lebih dalam. Pandangannya menatap lurus ke depan, pada satu sosok yang tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan wajah pucat dan terpasang alat bantu pernafasan di sana. Duduk di samping ranjang, di kursi yang tersedia di sana, tangan Darrel terjulur guna meraih tangan sosok tersebut kemudian menggenggamnya erat. Terasa dingin. Tidak hangat seperti dulu. “Ku harap kau bisa melewati masa kritismu, Anne. Lawan racun itu, lalu bukalah matamu.” Ya, Anne masih belum sadarkan diri. Kondisinya masih kritis. Meski telah diberi obat untuk mensterilkan racun dalam tubuhnya sekaligus pembersihan rahim usai keguguran telah di lakukan, tapi tubuhnya belum bisa merespon obat dengan b

