Harsya membalikkan badannya dan menemukan Armina yang muram. Baru beberapa saat dia melihat gadis ini tertawa ceria ketika berfoto bersama di atas pelaminan bersama kawan-kawannya, sekejap kemudian muncul dengan kegundahan di wajahnya. Matanya memerah, menahan tangis dan amarah. “Kenapa?” tanyanya khawatir. “Aku mau pulang.” Armina menjawab lirih. Harsya meraih bahu Armina, berpamitan pada Bimo, dan membimbingnya keluar. Dia tak bertanya apapun sepanjang perjalanan. Ketika melewati sebuah kafe di dekat perumahan mereka yang buka hingga lewat tengah malam, Harsya menghentikan mobil dan menoleh pada Armina di sampingnya. “Kamu lapar ngga?” Armina hendak menggeleng. Tapi, perutnya berkata lain. Dia tak sempat mencicipi makanan apapun tadi. “Aku lapar. Ngga tahu kenapa, aku ngga bisa m

