“Heran deh, tidak membiarkan hidup orang tenang,” oceh Bara sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Dia menduga Widi menelponnya untuk bertanya perihal uang menjual warisan yang diambilnya separuh.
“Ada apa, Bar?”
Pertanyaan itu membuat Bara terhenyak. Dia menoleh dan mendapati Ani sudah berdiri di sampingnya dengan tatapan bertanya. Bara tersenyum. “Tidak apa-apa. Biasalah Widi. Sering membuatku kesal."
Ani menyipitkan pandangan. "Memang Widi kenapa?"
"Sudahlah. Jangan memusingkan diri dengan bertanya tentang dirinya." Bara beranjak dari duduk, lalu merangkul Ani. "Ayo lanjutkan pilih-pilih bajunya."
“Sudah. Aku sudah ambil tiga baju tuh.”
“Tiga? Sedikit sekali.”
“Memangnya aku boleh ambil lebih dari tiga?”
“Boleh dong. Aku ‘kan sudah bilang kamu boleh ambil sepuasnya.”
Ani melirik genit. “Bener nih?”
“Iya. Apa aku terlihat seperti sedang berbohong?”
Ani tersenyum penuh kemenangan. Keduanya lalu masuk lagi ke dalam toko.
Sementara itu di rumah sakit, Arion memegang ponsel Widi dengan sangat kuat seolah ingin membuat remuk benda pipih itu. Jawaban Bara membuatnya sangat emosi. Bram yang melihat itu terhenyak. Dia mendekati Arion.
"Ada apa, tuan? Anda tampak marah sekali? Suaminya wanita itu mengatakan apa?"
Bukannya menjawab pertanyaan Bram, Arion justru menatap assisten pribadinya itu seperti seorang musuh. "Kalau kamu adalah suami wanita itu yang baru saja ponselnya aku telpon, sudah aku hajar habis-habisan kamu!"
Bram menelan saliva. Untung kenyataan tidak begitu. "Kenapa tuan berkata seperti itu?"
"Ya karena dia adalah pria b******k!" semprot Arion. Gendang telinga Bram langsung berdenging. "Dia membentakku karena mengira aku adalah istrinya." Wajah Arion langsung berubah sendu. Suaranya pun kemudian melemah. "Bisa aku bayangkan bagaimana hidup wanita itu bersama suami brengseknya. Pasti sengsara. Aku rasa karena inilah wanita itu belum resign meskipun sudah hamil sembilan bulan."
"Jadi anda belum sempat bilang kalau istrinya sedang melahirkan?"
Arion tak menjawab. Dia justru sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia merasa Dejavu dan mulai cemas. Dia tidak mau suatu hal yang buruk terjadi pada wanita hamil itu dan bayinya seperti di masa lalu. Dia ingin keduanya selamat.
Seiring berjalannya waktu, kecemasan Arion kian menjadi. Pria itu tidak lagi bisa duduk dengan tenang melainkan jadi berdiri di depan pintu ruang bersalin. Dia mondar mandir seperti seorang suami yang mencemaskan istri yang sedang melahirkan.
Bram yang melihat itu, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak paham dengan sikap Arion. Kenapa bos-nya itu harus cemas dengan istri orang lain sementara suaminya sendiri tak perduli?
“Oaaaa…! Oaaaa! Oaaaa!”
Suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin, memecah kesunyian. Wajah tegang Arion perlahan menyusut berganti dengan sedikit cerah meskipun masih ada kabut di matanya. Setelah dokter yang menangani Widi mengabarkan keadaan keduanya sehat, barulah wajah Arion kembali tampak normal.
***
Bayi yang lucu. Arion bahkan tidak puas memandang. Rasa ingin memiliki. Tapi saat ini itu tidak mungkin. Itu bukan bayinya.
Setelah puas melihat sang bayi, Arion mendekati Widi dan memberikan ponsel milik wanita itu pada empunya. "Ponselmu. Suamimu tidak menjawab telpon dariku," katanya berbohong.
Widi menerima ponsel itu dengan memaksakan senyum meskipun wajahnya terlihat kecewa mendengar ucapan Arion. "Oh, nanti biar saya telpon lagi."
"Jangan nanti. Lakukan sekarang. Aku akan kembali ke hotel setelah memastikan ada yang menjaga kamu."
Widi mengangguk mendapat perintah tegas Arion. Pria itu sangat berkharismatik sehingga orang merasa segan pada setiap ucapannya. Widi tidak menyangka di balik pembawaannya yang bikin orang tegang, Arion sosok yang baik dan perhatian.
"Ka-kalau begitu biar saya telpon paman saja."
"Hum."
Sambil terus melirik Arion, Widi menelpon pamannya. Pamannya itu antusias akan datang bersama bibinya.
"Sudah," kata Widi pada Arion.
"Apa kata pamanmu?"
"Dia akan datang sebentar lagi. Jadi, anda bisa kembali ke hotel sekarang. Terima kasih banyak telah menolong saya."
"Ya, sama-sama. Jaga dirimu dan bayimu baik-baik." Arion lalu melangkah keluar ruangan dengan diikuti oleh Bram. Begitu melewati box bayi, dia sempat melirik ke dalamnya. Dia tidak bisa membohongi hati yang terpaut pada bayi itu. Namun sekali lagi itu bukan bayinya.
Tak lama setelah kepergian Arion dan Bram, Burhan dan Rini datang. Mereka adalah paman dan bibi Widi.
"Bagaimana bisa di saat melahirkan dia tidak menemanimu dan sulit untuk ditelpon?" cerocos Burhan. Kesal mendapati kenyataan bahwa keponakannya melahirkan tanpa suami.
"Mungkin Mas Bara memang sedang sibuk, paman."
"Sesibuk-sibuknya suami yang mempunyai istri hamil tua, harus siaga. Memangnya apa yang sedang dia kerjakan sampai tidak mau mengangkat telpon dari kamu? Paman perhatikan juga, dia tidak ada perhatian-perhatiannya sama kamu. Bahkan kamu masih bekerja di usia kandungan yang sudah sembilan bulan. Harusnya dia melarang kamu bekerja dan memintamu untuk beristirahat di rumah."
Widi terdiam. Jangankan istirahat, Bram malah tidak membolehkannya resign.
“Jangan marah-marah dulu, pak. Kita dengarkan penjelasan Bara nanti. Mungkin saja ketika ditelpon dia memang benar-benar sibuk.” Rini bibi Widi mencoba untuk menenangkan.
Bukan apa, suara Burhan yang kuat bisa membangunkan bayi Widi yang sedang tidur dalam gendongannya.
“Mudah-mudahan saja memang seperti itu. Tapi entah kenapa semakin hari kok aku semakin tidak suka dengan tingkahnya itu. Dia terlihat sok dengan gayanya yang rapi seperti bujangan sementara istrinya terlihat payah masih bekerja dengan perut yang buncit."
Rini menoel Burhan agar berhenti bicara. "Jangan menciptakan suasana panas, pak."
Burhan pun terdiam. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Orang yang sedang dibicarakan datang dengan wajah sok panik. “Sayang kenapa kamu tidak bilang kalau kamu melahirkan?” Bara mengecup kening Widi. Berpura-pura menyayangi Widi. Tapi Widi membalas dengan sebaliknya.
“Tidak bilang katamu, mas?” Widi menunjukkan layar ponsel. “Ini apa?”
Bara melihat layar ponsel widi dan mendapati banyak sekali panggilan tak terjawab. Bola matanya langsung bergerak ke atas untuk mencari alasan agar paman dan bibi Widi tidak memarahinya.
“Oh, itu … itu tadi aku silence-kan ponselku. Lalu aku taruh di dalam tasku. Aku sibuk berbelanja sehingga tidak tau kalau kamu menelpon.”
“Berapa lama memangnya kamu berbelanja mas sampai tidak mengecek ponsel?”
“Ya … ya lama. Toko koko sedang ramai pembeli.”
“Kamu tidak hanya beralasan bukan?”
“Tentu saja tidak. Kenapa juga beralasan?”
Mendengar itu, Widi membisu. Dia mencoba untuk mempercayai suaminya tersebut. Lalu perkara uang yang hilang, dia akan membicarakannya jika paman dan bibinya sudah pulang. Dia masih menjaga nama baik Bara.
“Meskipun kamu sibuk berbelanja, ada baiknya untuk selalu mengecek ponsel. Kamu ‘kan sudah tau kalau Widi sedang hamil tua dan sewaktu-waktu bisa melahirkan," ucap Burhan dengan nada kesal.
Bara mengangguk. “Iya, paman. Tadi itu aku benar-benar lupa kalau Widi sedang hamil besar. Kalau sedang berbelanja barang, aku memang sering lupa diri.”
Burhan tak lagi menanggapi. Meskipun masih ada kekesalan di dalam hatinya pada Bara karena yakin itu hanya alasan yang dibuat oleh suami ponakannya itu, dia masih sadar tak baik diperdebatkan. Ini rumah sakit. Dia pun akhirnya memilih permisi pulang bersama sang istri. Toh, orang yang memang berkewajiban mengurus Widi sudah datang.
“Apa yang kamu pikirkan, Wid? Kenapa kamu datang ke rumah sakit ini untuk melahirkan? Ini rumah sakit mahal. Mengapa tidak datang ke rumah sakit pemerintah saja yang bayarannya murah?” tanya Bara selepas kepergiaan Burhan dan Rini.
Widi melihat lekat pada Bara dengan tatapan kesal. “Mas, aku ini baru saja melahirkan lho. Sakitnya saja masih terasa. Kenapa kamu malah bertanya tentang rumah sakit ini dan bukan kesehatanku? Kamu juga tidak bertanya tentang bayi kita. Dan satu hal lagi. Kamu ‘kan yang mengambil sebagian uang hasil menjual warisan orangtuaku?”
Bersambung.