SEPERTI MALAIKAT

1170 Words
Bara menipiskan bibir mendengar pertanyaan Widi. "Kalau iya memangnya kenapa?” jawab Bara dengan wajah tidak bersalah. “Toh, aku tidak mengambil semuanya kan? Masih banyak sisanya." “Mas, uang penjualan tanah warisan orangtuaku itu sejumlah hutang kita ke bank. Jadi, kalau kamu mengambil separuhnya itu artinya aku tidak jadi bisa melunasi hutang kita. Kok kamu tidak faham sih?" “Ya sudah. Jangan kamu lunasi. Bayar saja setiap bulan seperti biasanya.” “Mas yang akan membayarnya?” “Ya jelas kamu dong. Seperti biasalah.” “Mas tidak lihat keadaanku sekarang bagaimana? Aku baru saja melahirkan. Aku tidak bisa bekerja. Bagaimana mau cari uang untuk membayarnya?” “Kamu kan setelah melahirkan paling istirahat empat puluh hari. Setelah itu bekerja lagi bukan?” “Terus kalau aku bekerja, bayi kita siapa yang ngurus? Mas?” “Enak saja. Aku kan harus jualan. Titipkan saja pada bibimu. Dia kan setiap hari di rumah doang.” “Bibi itu punya anak yang harus diurus, mas. Dia tidak akan sanggup mengurus anak kita juga.” “Ya sudah. Kamu bawa saja bayi kita bekerja.” Widi mengencangkan rahangnya. Bara benar-benar keterlaluan. Suami yang sangat tidak bertanggung jawab. Dia jadi menyesal menikah dengan pria ini. “Kamu benar-benar keterlaluan mas. Kamu melalaikan tugasmu sebagai suami, kamu mencuri uangku, dan sekarang tidak mau tau dengan keadaanku yang baru saja melahirkan ini. Ternyata kamu belum siap menjadi seorang suami, mas.” Bara menghela nafas panjang. Apa yang diucapkan oleh Widi masuk telinga kanan dan langsung keluar telinga kiri. Dia masih saja merasa benar dan tidak pernah merasa bersalah. Bara memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. “Dengar ya, Wid. Jika kamu tidak suka dengan semua sikapku selama ini, ya sudah, kamu tinggalkan saja aku. Beres kan? Cari olehmu pria lain yang mau menikahi wanita kucel dan cerewet seperti kamu.” Bara menyeringai merendahkan. “Aku yakin tidak akan ada pria yang mau menikahi kamu yang jelek.” Mata Widi menyipit melirik Bara. “Jadi mas menantangku?” “Terserah kamu mengartikannya apa,” ucap Bara sembari membaringkan diri di sofa. Kedua matanya menghadap langit-langit ruangan tempatnya berada sekarang. Begitu rapi dan berseni. Bara pun menyadari sesuatu yang tadi belum dijawab oleh Widi. “Oya, kamu belum jawab pertanyaanku. Kenapa kamu memilih melahirkan di rumah sakit ini, hah? Ini rumah sakit swasta. Rumah sakit ini tidak menerima asuransi kesehatan dari pemerintah.” Widi melirik Bara kesal. “Mas pikir ketika aku kesakitan akan melahirkan, aku bisa memilih harus di antar ke rumah sakit mana? Untung masih ada orang yang mau mengantarkanku.” “Alah, dasar kamu saja yang manja. Cuma mau melahirkan saja seolah mengalami pingsan sampai tidak bisa bilang mau melahirkan di rumah sakit mana. Ingat ya, aku tidak mau mengeluarkan sepeser uang pun untuk membantu biaya persalinan kamu.” Mata Widi melebar mendengar itu. “Apa? Mas tidak mau membantu biaya persalinanku?” “Apa telinga kamu tuli sampai harus ditanyakan lagi?” “Tapi aku melahirkan bayi kamu, mas. Bukan bayi orang lain. Bagaimana bisa mas bicara seperti itu?” “Yang salah kan kamu memilih rumah sakit mahal. Aku yakin persalinan dan perawatan kamu di sini lebih dari sepuluh juta. Bisa bangkrut usahaku jika dipakai untuk membayar rumah sakit ini. Pakai saja uang sisa kamu menjual tanah untuk membayar tagihan rumah sakit.” Jemari Widi mengepal. Bara memang benar-benar tidak bertanggung jawab sebagai suami dan ayah dari bayi yang baru dilahirkannya. “Kalau begitu kamu bukan ayah yang bertanggung jawab, mas,” ucap Widi kemudian. “Aku sudah datang ke sini untuk menemani kamu dan kamu masih bilang tidak bertanggung jawab. Benar-benar istri yang tidak bersyukur kamu.” Widi tidak mau perdebatan ini terus berlangsung karena tempatnya tidak pas. Ini rumah sakit dan bukan rumah sendiri. Widi pun akhirnya memilih untuk diam meskipun harus menahan emosi. Dia pun memutuskan untuk tidur sebentar demi memulihkan tenaganya pasca melahirkan. Baru sekitar sepuluh menit Widi memejamkan mata, dia terhenyak bayinya yang berada dalam baby box menangis. Dia menoleh pada baby box tersebut dan menatapnya bingung. Dia ingin menggendong bayinya untuk disusukannya agar tenang kembali, tapi bingung cara mengambilnya. Keadaannya masih sulit untuk bergerak turun dan melangkah mendekati baby box. Widi menoleh pada Bara yang tertidur di sofa. Tampaknya suaminya itu sedang tidur dengan nyenyak karena meskipun mendengar suara bayi tapi tidak terbangun. Berarti, dia harus membangunkannya. "Mas! Mas Bara!" panggil Widi kemudian. Tidak ada sahutan. Jangankan sahutan, gerakan sedikit saja pun tidak ada. "MAS! MAS BARA!" Widi setengah berteriak. Dan barulah mata Bara mengerjap. "Ada apa sih? Kamu tidak lihat aku sedang tidur nyenyak?" "Aku lihat, mas. Tapi bayi kita nangis. Tolong ambilkan dia dan berikan padaku." "Ambi sendiri kenapa? Kamu kan punya kaki." "Aku baru melahirkan, mas. Masih sakit." "Halah dasar kamu saja yang manja. Hanya melangkah beberapa langkah saja mengeluh sakit." Bara memejamkan matanya lagi. Tak perduli sedikit pun dengan keadaan Widi. Widi mengusap dadanya mencoba untuk bersabar. Dia lalu teringat pesan seorang perawat yang mengantarnya ke ruangan ini untuk memencet bel ketika memerlukan bantuan. Maka, dia menoleh ke belakang tubuhnya dan menemukan bel itu ada di dinding atas sandaran tempat tidur. Dipencetnya bel itu satu kali. Tak lama kemudian seorang perawat datang. "Ada apa, mbak?" tanya perawat itu ramah. Perawat di rumah sakit swasta memang dituntut ramah. Apalagi untuk ruang-ruang tertentu. Dan ruangan yang ditempati Widi sekarang adalah kelas 1. Untuk rumah sakit swasta seperti ini, ruang kelas 1 lumayan bagus dan biaya rawat inap untuk kelas 1 juga cukup mahal. Meskipun ada yang lebih mahal, yaitu ruangan VIP dan VVIP. "Bayiku menangis,” jawab Widi. “Tolong ambilkan dia dan bawa kepadaku, sus. Aku mau menyusuinya. Barangkali dia lapar. Sekalian tolong ajari aku cara menyusuinya. Ini yang pertama bagiku." Perawat itu tersenyum. “Baik mbak. Saya ambilkan babynya sekarang ya.” Perawat itu melangkah mendekati baby box. Tapi ketika pandangannnya bertemu dengan Bara yang sedang tidur di sofa, dahinya mengernyit. Dia tampak tidak senang melihat Bara. Perawat itu mengangkat bayi tersebut dengan sangat hati-hati. Tangis bayi yang sebelumnya berkoar-koar langsung terhenti dengan seketika. Dengan sangat hati-hati pula dia memberikannya pada Widi. “Bayinya tampan tidak seperti ayahnya yang sedang tidur itu. Malah mirip sama pria yang mengantarkan mbak tadi,” ucap perawat yang membuat mata Widi melebar. “Aduh, sus. Jangan bilang seperti itu dong. Ini asli anak suami aku. Sedangkan tuan tadi hanya pria baik yang Tuhan kirimkan untuk menolongku.” “Berarti ini kebetulan yang aneh ya, mbak,” balas perawat sembari tangannya terus bergerak memposisikan bayi agar nyaman untuk menyusu. “Jujur saya lebih suka pria tadi daripada suami mbak," lanjutnya. "Pria tadi terlihat sangat perhatian pada mbak sedangkan suami mbak tidak. Lihatlah, dia malah tidur dengan nyenyak. bagaimana dia bisa tidur nyenyak dengan suara tangis bayi yang memekakkan telinga seperti ini?" Deg. Hati Widi tersentak mendengar pendapat perawat. Tapi tidak bisa menyanggah karena dia pun sependapat dengan perawat tersebut. Suaminya tidak perduli padanya sedangkan pria tadi justru seperti memiliki tanggungjawab kepadanya. Hm, pria itu seperti seorang malaikat. Baik dan tampan. Pastilah bahagia wanita yang memilikinya. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD