TUDUHAN

1229 Words
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit dan dinyatakan sehat, Widi diperbolehkan pulang dari rumah sakit tempat ia melahirkan bayinya. Sebelum keluar, sesuai perintah perawat, Widi ke meja resepsionis untuk menyelesaikan administrasinya. Karena tidak mau membantu biaya persalinan, Bara lebih memilih menunggu di kursi tunggu dengan menggendong bayi Widi. Dia tega membiarkan Widi yang melahirkan beberapa hari lalu dan bagian initinya belum sehat untuk berhadapan dengan petugas resepsionis. "Jadi berapa seluruh biayanya Mbak ? "tanya Widi pada petugas resepsionis itu. "Seluruh total biaya 20 juta Mbak. Itu sudah biaya persalinan, biaya rawat inap, dan vitamin yang akan dibekalkan pada Mbak." Bara yang mendengar itu, menyeringai. Dia memaki Widi dalam hati. "Makan tuh 20 juta. Habisnya sok sih. Sudah tahu bukan orang kaya pakai belagu melahirkan di rumah sakit swasta. Sayang saja uang Daripada 20 juta dipakai membayar rumah sakit. Bukankah lebih baik untuk modal usahaku saja." Sementara itu, Widi menelan saliva mendengar nominal yang disebutkan oleh sang resepsionis. Seperti juga Bara, dia berpikir itu sangat banyak. Tapi tidak ada yang harus dia sesali. Yang penting dia dan bayinya selamat. Untungnya, sisa uang menjual tanah warisan orang tuanya sejumlah tagihan ini. Jadi Widi tidak panik. "Oh, baiklah. Sebentar aku ambilkan kartu debitku." Widi bersiap untuk membuka tasnya ketika sang resepsionis berkata, "Tadi itu saya hanya menyebutkan biayanya, mbak. Bukan meminta mbak untuk membayar. Tagihan rumah sakit memang 20 juta Mbak. Tapi kan sudah dilunasi." Widi terhenyak. "Maksud Mbak sudah ada yang membayar tagihanku begitu?" Sang resepsionis menggangguk dengan tersenyum. "Iya. Memang sudah ada yang melunasi. Mbak tidak tahu ya?" Widi menggeleng dengan raut wajah bingung. "Memangnya siapa yang sudah melunasi tagihan rumah sakitnya Mbak?" "Hmm, saya tidak tahu namanya karena orangnya menolak untuk memberitahu namanya. Tapi dia seorang pria yang tampan. Kalau tidak salah sih salah satu dari dua pria yang waktu itu mengantar Mbak ke rumah sakit." Mendengar hal itu, Widi tercenung. Benaknya langsung membayangkan pelanggan hotel tampan yang mengantarnya ke rumah sakit. Tidak bisa disangkal pria itulah yang membayar tagihannya. Tapi dia heran kenapa pria itu baik sekali kepadanya? Sudah mengantar ke rumah sakit, membayarnya biayanya juga. Bagi orang biasa 20 juta itu bukan uang yang sedikit. Sementara itu rahang Bara tampak mengencangkan setelah mendengar penjelasan sang resepsionis. Sepanjang dalam perjalanan pulang, dia menahan kemarahan. Dan begitu sampai di rumah kemarahan yang sejak tadi ditahannya itu langsung diluapkannya. "Kamu berlagak polos! Nyatanya, Kamu bermain dengan bos di belakangku! Katakan padaku siapa pria selingkuhanmu itu!" marah Bara dengan mata yang berapi-api. Widi mengerutkan kening. "Kamu itu bicara apa sih Mas? Sembarangan kamu tuduh aku selingkuh. Kamu pikir aku wanita apaan selingkuh di belakang kamu? " "Kalau kamu tidak selingkuh, kenapa pria itu mau membayar uang persalinan dan rawat inap kamu?! 20 juta itu banyak, Wit! Kalau kamu tidak ada hubungan apapun dengan dia, dia tidak akan mau rugi dengan membayarkan uang sebanyak itu untuk biaya persalinan dan rawat inap kamu di rumah sakit! Oh, jangan-jangan bayi yang baru kau lahirkan ini bukanlah anakku melainkan anaknya dia!" Widi tersentak kaget. "Astaga, mas. Kamu itu kok semakin sembarangan sih bicaranya. Bagaimana bisa kamu menuduh bayi yang baru saja aku lahirkan ini sebagai anak dari pria itu sementara aku tidak mengenal dia. Aku baru bertemu dengan dia ketika aku membersihkan kamar tempat dia menginap. Dan kemudian dia mengantarkan aku ke rumah sakit karena waktu itu aku sudah mau melahirkan." "Baru bertemu satu kali dan mau membiayai persalinan kamu sebanyak 20 juta?! Itu tidak masuk akal!" Bara tetap ngeyel dengan dugaannya. "Aku tidak bisa kamu bodohi seperti itu karena aku ini juga seorang pria! Pria tidak akan mau menghamburkan uang banyak untuk seorang wanita apalagi tidak ada yang dia dapatkan dari wanita tersebut!" "Aku juga tidak tahu Mas kenapa dia mau membayarkan biaya persalinan dan rawat inapku? Tapi sumpah demi Tuhan, aku baru mengenal dia. Dan Aku juga bersumpah aku tidak punya hubungan apapun dengan dia." "Ini tetap tidak masuk akal bagiku! Aku tidak bisa terima sumpahmu karena kamu tidak akan mungkin mengakui perbuatan bejatmu kepadaku! Aku akan katakan kepada keluargaku dan keluargamu bahwa kamu telah berselingkuh di belakangku! Dan anak itu, aku yakin memang bukan anakku!" Bagai tersambar petir Widi mendengar itu. Wajahnya langsung berubah panik. "Mas Jangan melakukan hal gegabah seperti itu! Tolong percaya kepadaku bahwa aku tidak selingkuh Mas!" "Terserah! Kau bela lah dirimu nanti di depan keluargaku dan keluargamu!" Bara berbalik badan. Dia lalu melangkah cepat keluar rumah. Dia tidak memperdulikan teriakan Widi yang memintanya untuk berhenti dan tidak mengadukan apa yang terjadi ke keluarga. Hati Bara sangat panas. Dia tidak akan menerima perselingkuhan Widi. Maka, beberapa jam kemudian, orang-orang yang dipanggil oleh Bara sudah berkumpul di sekitar Widi. Mereka adalah Rini bibi Widi, Burhan Paman Widi, Ita Ibu Bara atau ibu mertua Widi, dan Dodi ayah Bara atau ayah mertua Widi. Keempatnya menatap tajam ke arah Widi yang tengah menjelaskan. "Jadi begitu paman, bibi, ayah, ibu, ceritanya," Widi mengakhiri penjelasannya. "Pria itu bukan selingkuhanku seperti yang dituduhkan Mas Bara. Orangnya memang terlihat baik. Tapi aku tidak menyangka kalau selain menolong dia juga membayar biaya rumah sakit." "Kalian semua percaya dengan pembelaannya?" Bara langsung menyahut. "Di logika aku sangat tidak masuk akal dan seharusnya di logika kalian juga seperti itu. Masak ada orang yang baru bertemu dengan kita tapi baik sekali menolong kita dan langsung melunasi biaya persalinan dan rawat inap sebanyak 20 juta? Tidak masuk akal kan? Kalau 1 atau 2 juta sih mungkin saja. Tapi ini 20 juta! Ini mustahil! Pokoknya ini mustahil!" Ita angguk-angguk kepala mendengar cerita Bara. Dia terhasut oleh perkataan Bara. "Yang dikatakan Bara masuk akal juga. Orang asing Tidak mungkin mau membayarkan biaya persalinanan Widi sebanyak 20 juta. Ini sangat tidak masuk akal." Ita menoleh pada Doddy. "Kalau menurut ayah bagaimana?" Ayah juga berpikir sama bu," jawab Doddy. "Masalahnya kalaupun ayah punya uang 20 juta, jangankan diberikan kepada orang lain paling-paling juga ayah akan memberi Ibu separuhnya atau 10 juta." "Tapi Tidak ada salahnya kalau kita percaya dengan pembelaan Widi," Burhan mencoba untuk membela Widi. "Bagi orang biasa seperti kita, 20 juta itu memang uang yang sangat banyak. Namun tidak begitu bagi orang yang sangat kaya raya. Bisa jadi pria yang menolong Widi itu memang orang kaya raya?" "Walaupun kaya raya, tetap tidak masuk akal Paman. Widi itu orang lain." Bara melirik Widi sinis. "Terkecuali... anak dilahirkan Widi adalah anaknya. Maka dia tidak merasa sayang untuk mengeluarkan uang sebanyak itu," Widi masih kekeuh dengan pendapatnya. "Aku memahami maksud Bara," sahut Ita. "Widi ini kan setiap hari bekerja di hotel. Kita tidak tahu kalau dia tuh di hotel benar-benar kerja sebagai service room atau melayani para pelanggan di sana." Widi yang mendengar itu menitikkan air mata. Sakit sekali hatinya menghadapi difitnah seperti ini. Karena meskipun Bara tidak mau menafkahinya, dia adalah seorang istri yang setia. Dia tidak akan melakukan hal tercela seperti yang sedang dituduhkan. "Demi Tuhan bu, aku tidak melakukan hal yang ibu tuduhkan padaku. Ibu bisa bertanya pada atasanku. Di hotel, aku hanya mengerjakan tugasku yaitu sebagai service room. Tidak ada pekerjaan tambahan yang lain. Tolong jangan berpikir yang macam-macam tentangku. Ini menyakiti perasaanku." Ita menyeringai. "Menyakiti perasaanmu? Yang harusnya sakit itu adalah Bara dan bukan kamu. Setelah mengetahui ini pun, dia tidak langsung tidak membabi buta dan menceraikanmu! Dia suami yang cukup sabar menghadapi istri seperti kamu." Widi kembali meneteskan airmata. Dia tidak mengerti mengapa orang-orang di sekitarnya ini begitu cepat menyalahkan dia. Seharusnya sebelum menuduh, mereka mencari tahu kebenarannya. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD