"Apa paman dan bibi juga berpikir sama dengan mereka semua?" tanya Widi pada Burhan dan Rini setelah kedua mertuanya pulang dan Barra ikutan ke rumah mertuanya itu. Katanya untuk memberi pelajaran pada Widi agar mengakui perselingkuhannya. Widi sudah menegaskan berkali-kali bahwa tuduhan mereka tidak benar. Tapi mertua dan suaminya tersebut tidak percaya. Begitu pun dengan Barra.
Burhan dan Rini menggeleng.
"Tidak. Kami tidak berpikir kamu melakukan hal tercela itu. Itu karena kami tau kamu dari kecil dan ikut membesarkan dirimu juga," jawab Burhan.
"Iya, Wid. Apa pun yang terjadi, kami mendukungmu. Sebaiknya kamu sekarang ini tidak banyak pikiran dan fokus dengan kesehatanmu dan bayi kamu," sahut Rini. "Ah, bibi bahkan tidak mengerti kenapa Barra malah ikut orangtuanya dan tidak menjaga kamu yang habis melahirkan. Apakah kamu bisa mengurus dirimu sendiri dan bayimu nanti malam?"
"Bisa bi. Bibi tidak perlu khawatirkan itu. Aku terbiasa bekerja keras soalnya. Selama ini pun, biaya hidup banyak aku yang menanggung. Mas Barra tidak mau perduli."
"Memang tidak benar suamimu itu. Harusnya dia sadar akan kewajibannya. Kalau dipikir-pikir, wajar kamu selingkuh jika suaminya model kayak begitu," ucap Burhan kesal dan rahang agak mengencang.
"Tapi aku tidak selingkuh paman. Percayalah meskipun Mas Barra seperti itu. Aku benar-benar baru bertemu dengan pria itu ketika akan melahirkan."
Burhan menepuk pundak Widi yang hampir menangis karena omongan terus mengarah ke perselingkuhan. "Iya iya paman percaya. Ya sudah, kami pulang dulu ya. Jaga diri baik-baik. Kunci pintu yang erat-erat."
Widi mengangguk. "Iya paman. Nanti akan aku kunci dengan erat."
"Dan kalau ada apa-apa, telpon paman dan bibi ya."
"Baik paman."
"Besok kalau sempat dan tidak repot, bibi akan berkunjung lagi ke sini," tambah Rini.
"Tidak perlu repot-repot bi. Kalau aku memang membutuhkan kalian, aku akan telpon saja."
"Baiklah kalau begitu. Ya sudah, kamu pulang ya. Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumsalam."
Sepeninggalan Burhan dan Rini, Widi langsung mengunci semua pintu dan jendela dengan kuat sebelum akhirnya mendekati bayinya yang tertidur lelap. Dia mengusap pipi bayinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Azam tidur yang nyenyak dulu ya sayang. Mama mau masak nasi dulu. Perut mama lapar. Jangan menangis sebelum mama selesai masak dan makan ya. Biar air s**u mama banyak. Jadi Azam bisa nenen dengan kenyang."
Azam menggeliat mendapat sentuhan dari Widi, tapi kemudian tenang kembali dengan mata yang masih tetap terpejam.
Widi beranjak meninggalkan Azam menuju dapur. Dia memasak beras dengan rice cooker dan menggoreng telur karena hanya ada telur saja yang ada di kulkas. Lalu Widi memasukkan telur goreng yang sudah dimasak itu ke dalam tudung saji dan sementara menunggu nasi masak, dia mandi.
Ketika selesai mandi, Azam bangun. Widi menyusui Azam hingga tertidur lagi. Barulah setelah itu dia makan dengan telur goreng dan kecap manis. Ingin banjir ASI, Widi berusaha untuk makan banyak.
Tetapi tiba-tiba, Widi menangis dan terisak. Itu karena teringat dengan nasibnya yang tidak baik. Sudah yatim piatu dari kecil, sekarang memiliki suami yang tidak perduli dengannya. Selama ini Widi memang selalu tampak kuat, tapi aslinya tetap rapuh juga. Jika bukan karena Azam, dia memilih untuk meninggalkan Barra. Lebih baik hidup sendiri daripada punya suami yang tidak bertanggung jawab. Nyatanya, untuk melepaskan diri dari genggaman Barra, dia belum punya keberanian. Azam butuh seorang ayah dan Barra memang ayahnya.
***
"Aku kangen. Sudah beberapa hari tidak bertemu. Istrimu itu sudah keluar dari rumah sakit?"
"Sudah. Makanya aku bisa mendatangi kamu."
"Lalu sekarang kamu tinggalkan dia? Kamu bilang tadi kamu pulang ke rumah orangtua kamu kan? Memangnya dia bisa mengurus diri sendiri dan bayinya habis melahirkan?"
"Biarkan saja. Aku tidak perduli. Habisnya, dia membuatku sangat kesal."
Dahi Ani mengerut. "Sangat kesal bagaimana?"
"Dia itu punya selingkuhan. Dan anak yang dilahirkannya kemungkinan bukan anakku."
Ani terhenyak. "Serius? Jadi kalian sama-sama selingkuh?"
"Kalau aku selingkuh tidak apa-apa. Aku kan laki-laki. Laki-laki itu derajatnya di atas perempuan. Tapi kalau dia, ya jangan lah. Aku tidak terima diselingkuhi istri. Aku merasa direndahkan. Itu sebabnya aku tinggalkan dia sendirian di rumah. Biar dia tau rasa. Biar dia sadar dan meminta maaf kepadaku dengan bersujud di kakiku."
"Tapi bagaimana ceritanya kamu tahu dia selingkuh? Dia cerita atau kamu yang memergokinya, Bar?"
"Aku tau itu waktu pembayaran rumah sakit. Ternyata sudah dibayarkan sama pria yang mengantar istriku ke rumah sakit. Biayanya dua puluh juta. Kalau tidak ada hubungan apa-apa, tidak mungkin pria itu mau membayarnya. Dua puluh juta itu kan bukan uang yang sedikit. Kemungkinan juga bayi yang dilahirkan Widi adalah anak pria itu sehingga dia merasa bertanggung jawab dan tidak keberatan membayar biaya rumah sakit sebanyak itu."
Mata Ani melebar mendengar cerita Barra. "Serius? Kalau begitu selingkuhannya orang kaya, dong?"
Bahu Barra turun mendengar komentar Ani barusan. "Aku rasa begitu. Beruntung sekali dia mendapatkan selingkuhan yang kaya raya." Tapi sedetik kemudian punggungnya kembali tegak. "Pokoknya aku tidak terima! Aku tidak akan kembali ke rumah sampai Widi bersujud di kakiku meminta maaf dan berjanji tidak akan berhubungan dengan pria itu lagi!"
Wajah Ani langsung berubah dongkol. Didorongnya bahu Barra hingga pria itu nyaris jatuh.
"Apa sih?" marah Barra dengan mata melotot. "Kenapa kamu mendorongku?"
"Aku kesal sama kamu! Katanya kamu cinta aku dan akan menceraikan Widi! Tapi Widi punya pria idaman lain kamu cemburu dan berharap dia sadar! Terus kalau dia meninggalkan pria itu dan kembali kepadamu, kamu akan bagaimana?! Meninggalkan aku?!"
Barra menipiskan bibir. Bingung juga dia menjawab pertanyaan Ani barusan. Bukan apa, nyatanya dia memang masih menyayangi Widi dan cemburu berat ketika tahu Widi ada pria idaman lain.
Sementara itu di tempat lain, Arion tengah menatap keindahan kota pada malam hari dari balkon kamar hotelnya. Dari atas seperti ini, kota di malam hari memang sangat indah dan menakjubkan. Tempatnya berada sekarang bukan ibukota negara, tapi ibukota propinsi. Dan kedatangannya ke kota ini adalah untuk mengunjungi hotel miliknya dari sekian banyak hotel yang dipunya. Ini adalah program rutinnya yaitu berkeliling ke semua hotel yang dipunya dari kota ke kota. Hotel tempat berdirinya sekarang juga termasuk miliknya.
Akan tetapi, ada yang mengganggu pikirannya saat ini. Bukan mengenai hotel dan bisnisnya, melainkan mengenai seorang wanita yang baru saja melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan. Wanita itu mengingatkannya pada sosok perempuan tercintanya dan bayi laki-laki yang dilahirkan perempuan itu. Di masa lalu, dia kehilangan dua orang tercintanya itu sekaligus. Dan itu adalah pukulan terberat dalam hidupnya.
Karena itu pula hingga sekarang dia masih sendiri. Dan pertemuannya dengan Widi mengingatkannya pada wanita dan bayinya di masa lalu.
Arion mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia menelpon assisten pribadinya.
"Ya, tuan. Ada apa?"
"Tolong kamu cari tau tentang wanita yang melahirkan di rumah sakit kemarin. Siapa dia, bagaimana keadaannya dan bayinya sekarang, dan suaminya. Aku yakin, suaminya itu adalah pria b******k yang tidak tidak seharusnya dia miliki."
"Baik, tuan. Apa anda menginginkan semua tentangnya secepatnya?"
"Ya. Sebelum kita meninggalkan kota ini, aku ingin tau semua tentang dia."
"Baik tuan. Secepatnya anda akan mengetahui semuanya."
Arion menarik ponsel dari dekat telinga. Dia menatap langit malam dengan tatapan nanar.
Bersambung.