Suara adzan subuh membangunkan Widi dari tidurnya yang tidak begitu nyenyak. Dia baru merasakan perjuangan seorang ibu. Sangat tidak mudah. Bukan hanya menderita selama 9 bukan ketika bayi masih dalam kandungan, lalu bertaruh nyawa ketika melahirkan, tapi juga lelah ketika menyusui karena kurang tidur.
Semalaman pun dia terbangun beberapa kali karena Azam pipis, eek, dan juga minta s**u.
Giliran menjelang subuh, Azam malah tidur nyenyak.
Widi mengerjapkan mata berkali-kali hingga rasa kantuk yang seolah bergelayutan di kelopak mata, agak menghilang. Setelah itu dia bangun dan hanya mencuci wajah. Karena masih masa nifas, tentu dia tidak sholat subuh.
Setelah wajahnya segar terkena air, Widi mulai beres-beres rumah. Rumahnya ini lumayan kotor karena selama dia di rumah sakit tidak ada yang mengurus dan membersihkan. Dari mulai mengelap untuk membersihkan debu-debu, menyapu, hingga mengepel.
Tubuhnya memang masih payah karena selangkangannya masih sakit. Akan tetapi jika tidak segera dibersihkan, Widi takut debu-debu itu masuk ke tubuh Azam dan menyebabkan bayinya itu sakit. Katanya anak bayi rawan sakit. Karena itu harus dijaga dengan baik. Itu pesan dari perawat yang merawatnya di rumah sakit kemarin.
Selesai dengan pekerjaan rumah, Widi melihat Azam. Putrinya itu tidur dengan sangat nyenyak. Widi tersenyum melihat mata, hidung, dan bibir yang serba mungil itu. Makhluk ciptaan Tuhan di depannya ini ternyata sangat imut dan menggemaskan.
"Tetap tidur dengan nyenyak, sayang. Nanti kalau sudah jam 7 baru bangun dan mandi. Sekarang ibu mau menunggu tukang sayur lewat. Ibu mau membeli sayur. Ibu mau masak bening bayam. Nanti ibu akan makan yang banyak ya. Kamu menyusu sampai kenyang ya?"
Widi meninggalkan tempat tidur menuju ke pintu. Dia membuka pintu tersebut dan melihat keadaan di luar. Mang Karim si tukang sayur ada di depan rumah Ibu Surti.
Widi pun segera menutup pintu kembali dan menguncinya dari luar agar tidak ada yang masuk dan menculik Azam. Itu adalah kekhawatiran seorang wanita yang sudah mempunyai bayi.
Dengan langkah yang sangat pelan dan hati-hati, Widi melangkah menuju gerobak Pak Karim yang sudah dikerumuni ibu-ibu.
"Lho, ibu yang baru melahirkan kok sudah keluar untuk membeli sayur? Tidak menyuruh suaminya saja?" Seorang ibu bertanya.
Widi tersenyum dan menggeleng. "Mas Barranya sedang tidak di rumah. Dia menginap di rumah orangtuanya."
"Kok istri habis melahirkan malah tidur di rumah orangtuanya?" tanya ibu itu lagi dan langsung ditimpali dengan ibu yang lain.
"Wajar dong ditinggal suami ke rumah orangtuanya. Suami mana yang tidak akan kecewa dan marah begitu mengetahui kalau anak yang dilahirkan istri ternyata bukan anaknya."
Deg.
Widi tersentak kaget mendengar ucapan ibu yang barusan. "Kok ibu bisa bicara seperti itu?"
"Ya bisa dong. Semua ibu-ibu di sekitar sini sudah pada tau kalau kamu itu bukan melahirkan anak Barra. Tapi anak dari seorang laki-laki kaya. Benar-benar istri yang durhaka bisa tega mengkhianati suami seperti itu. Uang memang segalanya," jawab ibu itu dengan mimik wajah dan suara yang sinis.
"Itu tidak benar, Bu. Bayi yang aku lahirkan itu murni seratus persen adalah anaknya Mas Barra. Aku tidak tau darimana ibu mendengar fitnah ini?"
"Duh, masih ngeles lagi. Kalau itu anaknya Barra, terus siapa pria yang membayar persalinan di rumah sakit Grand Citra? Itu rumah sakit swasta mahal lho. Kamu saja tiga hari kena dua puluh juta. Padahal melahirkan normal, bukan operasi."
Widi terdiam. Bingung untuk menanggapi ucapan ibu yang barusan. Jika ditanya seperti tadi siapa lelaki itu, dia tidak punya jawaban karena memang belum tahu namanya.
"Kok diam? Tidak bisa menjawab ya? Kerja di hotel bukannya kerja yang benar malah menjajakan diri. Jadi wanita kok murahan sekali sih." Ibu itu menoleh pada Mang Karim. "Berapa mang semuanya?"
Mang Karim memeriksa kantong kresek ibu itu dan menghitung apa saja yang sudah diambil oleh sang ibu. "Delapan puluh tiga ribu lima ratus."
Ibu itu memberikan uang belanjaannya pada Mang Karim. "Ambil saja kembaliannya,” kata Si Ibu sembari berlalu.
"Terima kasih, bu."
"Sama-sama,” balasnya setengah berteriak karena sudah agak jauh. Lalu ibu-ibu yang lain menyusul membayar belanjaan mereka pada Mang Karim sembari menatap tidak suka pada Widi. Hanya Ibu Surti yang menyapanya.
Sikap para ibu-ibu itu membuatnya sakit hati. Padahal, dia tidak melakukan apa yang dituduhkan. Jangankan berselingkuh dengan pria itu, mengetahui namanya saja tidak. Siapa yang dengan tega menyebarkan berita ini? Suaminya atau mertuanya? Yang pasti di antara orang-orang ini karena hanya mereka yang tahu tentang pria yang menolongnya itu selain paman dan bibinya.
Paman dan bibinya sendiri dipastikan bukan pelaku penyebar fitnah tersebut karena mereka sudah menganggapnya sebagai anak sendiri. Lagian bibi adalah tipe wanita yang tidak suka 'ngerumpi' dengan tetangga. Dia adalah wanita rumahan yang sepanjang hari di rumah mengurus rumah, anak, dan suami. Bahkan belanja pun kadang-kadang pamannya.
“Kok melamun, neng? Mau beli yang mana?”
Pertanyaan Mang Karim membuyarkan lamunannya. “Oh, eh, maaf mang.”
“Melamunkan sikap ibu-ibu tadi ya? Sudah jangan dipikirkan.”
“Tapi aku benar-benar tidak selingkuh, mang. Aku tidak kenal pria yang menolongku itu. Dia tamu di hotel tempat aku kerja dan kemudian menolongku karena waktu itu aku hendak melahirkan. Kalau kenal saja tidak, bagaimana bisa anakku adalah anaknya. Terus aku juga tidak tau kenapa pria itu membayar tagihan rumah sakit.”
“Iya, kalau mamang sih percaya. Karena mamang bisa menilai neng bukan wanita nakal. Dan ibu-ibu tadi juga tidak semuanya percaya kalau neng wanita yang begitu. Hanya saja mereka tidak punya bukti benar dan salahnya. Neng santai saja. Kebenaran suatu saat juga pasti akan terbongkar. Pada saat itu orang-orang akan tahu kalau neng tidak salah. Sudah, ayo pilih mau belanja apa.”
Widi mengangguk. “Iya, mang. Terima kasih sudah percaya.”
Selesai berbelanja, Widi kembali ke rumah dengan perasaan sedih. Dia terduduk di tepi tempat tidur sembari merenung. Sebelum menikah, dia memang tidak begitu bahagia karena sudah ditinggalkan oleh orangtua. Tapi tidak sesakit ini. Setelah menikah bukan mendapatkan kebahagiaan, dia justru mengalami lelah hati dan fisik.
“Oaaaa….”
Widi terhenyak dari lamunan. Dia menoleh ke sumber suara dan mendapati putranya sudah bangun. Menangis adalah cara Azam berkomunikasi dengannya.
Widi membasuh airmata yang sempat jatuh ketika dia merenung. Bibir tipisnya langsung tersenyum pada Azam sembari mengarahkan tangan ke bawah tubuh mungil itu.
“Anak ibu sudah bangun ya?” katanya. Kini Azam sudah berada dalam gendongannya. “Kita mandi yuk biar segar. Setelah itu kamu menyusu dan bobo lagi. Soalnya ibu mau masak, sayang.”
Widi mencium pipi kanan dan kiri Azam sampai puas. Azam tampak menggeliat karena ciuman itu. Widi lalu menaruh lagi Azam di atas tempat tidur. “Azam tunggu sebentar ya. Ibu mau masak air untuk mandi Azam.”
Widi beranjak dari duduknya. Seperti katanya pada Azam, dia memasak air untuk mandi putranya tersebut.
Harusnya ada orang yang membantunya karena dia baru melahirkan tiga hari yang lalu. Suami atau orangtua. Sayangnya, mereka semua tak ada. Bahkan suami yang masih hidup saja tidak memperdulikannya dan malah memfitnahnya.
Bersambung.