Maksud Kepulangan

1273 Words
Azam yang mungil, terlihat tampan setelah mandi dan memakai baju. Tapi kemudian Widi sadar kalau pakaian Azam sangatlah kurang. Semua peralatan Azam sekarang berupa baju, popok, bedong, semuanya adalah pemberian dari rumah sakit tempatnya melahirkan kemarin. Semacam bonus. Jadi, dia harus membeli pakaian ganti Azam hari juga. Kebetulan masih ada sisa uang menjual tanah warisan orangtuanya yang dicuri oleh Barra. Dia akan membeli kebutuhan Azam memakai uang itu. Dia tidak perduli bagaimana nanti ke depannya. Yang penting, kebutuhan Azam untuk saat ini terpenuhi. Dengan penuh semangat, Widi menitipkan Azam pada bibinya, Rini, sebelum dia pergi ke pasar. Dia tentu tidak tega membawa bayi yang baru lahir beberapa hari ke tempat yang ramai seperti itu. Selain banyak kuman, apa kata orang jika membawa bayi masih merah? Belum lagi, dia memang tidak akan sanggup berbelanja dengan membawa bayi. Karena bagian intinya belumlah kering. Ini pun dia berjanji pada diri sendiri akan berjalan dengan pelan-pelan saja. "Apa Bibi saja yang pergi ke pasar?" Rini menawarkan diri. Dia mengkhawatirkan keadaan Widi. Widi menggeleng. "Tidak, bi. Lebih baik saya sendiri saja yang pergi karena saya lebih tahu apa yang dibutuhkan oleh Azam. Lagian keadaan saya justru akan tidak sanggup untuk mengurus anak-anak bibi." "Ah iya juga. Apalagi si Gilang nakalnya nggak ketulungan. Ya sudah kamu saja yang pergi tapi pelan-pelan. Cari toko peralatan bayi yang paling besar. Jadi kamu tidak perlu keliling-keliling untuk mendapatkan semuanya." Widi mengangguk. "Iya, bi. Aku pun berpikir seperti itu. Ya sudah aku pergi dulu ya bi." "Iya, hati-hati di jalan ya, Wid." "Baik bi." Widi pun berangkat menuju pasar dengan menggunakan jasa ojek online. Di tengah perjalanan, dia mampir ke sebuah bangunan ATM untuk menarik sejumlah uang yang akan dipakai belanja kebutuhan Azam. Tak semuanya dia ambil. Hanya sejumlah yang kiranya cukup. Lalu, dia melanjutkan perjalanan menuju pasar masih menggunakan jasa ojek online yang sama. Tak menghabiskan waktu yang lama untuk sampai di tempat tujuan karena letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Begitu sampai di pasar, Widi langsung masuk ke dalam pasar. Tentu saja untuk mencari toko peralatan bayi yang paling besar seperti pesan Rini dan terlihat lengkap agar tidak harus berkeliling lagi. Namun, tanpa sengaja kedua matanya mengarah pandang ke sebuah toko pecah belah. Widi langsung menghentikan langkah dan tertegun melihat keadaan toko. 'Tidak pernah memberi uang belanja dan tidak pernah membayar hutang bank, tapi kenapa barang dagangan Mas Barra tidak bertambah banyak? Malah justru menyusut,' gumam Widi dalam hati. Widi juga melihat suaminya itu sedang berada di depan toko sembari menelpon seseorang yang entah siapa. Barra tidak tahu kalau dirinya sedang diperhatikan karena jarak mereka lumayan jauh. Widi menghela nafas. Dia buang pikiran yang tidak-tidak setelah melihat keadaan toko sang suami. Dia mencoba untuk tidak perduli karena suaminya pun tidak pernah perduli kepadanya. Widi pun melangkah kembali hingga dia menemukan sebuah toko peralatan bayi yang besar dan sepertinya lengkap. Widi pun masuk ke dalam toko itu. Dia membeli kebutuhan Azzam tanpa ada yang ditangguhkan. Hingga tak terasa dia belanja sampai tiga kantong kresek besar. "Kalau baru memiliki baby memang menyenangkan. Berapa pun uang akan dikeluarkan untuk sang baby. Tak perduli menghabiskan uang yang banyak," ucap si pemilik toko. Widi tersenyum. "Iya, Bu. Lagian untuk apa kita punya uang kalau bukan untuk anak. Bahkan nyawa pun akan diberikan untuk sang anak." "Betul-betul sekali. Semua ibu pasti seperti itu. Kalau sudah menyangkut anak, kita tidak sayang dengan uang." "Ya begitulah, bu." Widi lalu mengeluarkan segepok uang lembaran berwarna merah dari tas kecilnya yang menyilang di badan. Dia tidak tahu kalau Ani, selingkuhan Barra memperhatikannya dari luar toko termasuk segepok uang lembaran merah di tangannya. Mata wanita itu langsung melotot sebelum akhirnya melangkah cepat menjauhi toko tersebut menuju parkiran. Di atas sepeda motornya, wanita itu kemudian menelpon Barra. "Bar, katanya kamu tidak memperdulikan istrimu lagi. Ternyata kamu bohong ya sama aku." Ani langsung meluapkan kekesalannya tanpa basa-basi dahulu. Sebenarnya dia ingin memarahi Barra secara langsung. Tapi itu tidak mungkin dilakukan mengingat hubungan mereka masih dirahasiakan sehingga harus menghindari kecurigaan orang-orang. "Kamu itu bicara apa, sih?" balas Barra. "Tiba-tiba telpon dan langsung marah-marah." "Itu tadi aku melihat istrimu belanja di toko peralatan bayi, Bar." "Lha terus kenapa kalau dia belanja peralatan bayi? Dia 'kan memang punya bayi." "Masalahnya dia belanjanya borong, Bar. Tiga kantong plastik besar. Aku melihat dia mengeluarkan setumpuk uang merah untuk membayar belanjaannya tersebut. Aku tak menyangka kalau kamu memberikan dia uang sebanyak itu. Wajar saja barang di tokomu menyusut cepat. Ternyata karena kamu kebiasaan memberi istrimu uang yang sangat banyak." Bara terdiam mendengar ucapan Ani barusan. Tentu saja bukan karena Widi telah menghabiskan banyak uangnya karena dia tidak pernah memberi istrinya itu uang. Tapi Barra terdiam karena dia baru ingat kalau Widi masih memiliki uang dari hasil penjualan tanah warisan orangtuanya. Bukankah lumayan kalau dia mengambil uang itu? "Bar? Kenapa kamu malah diam?!" Hentakan suara Ani menyadarkannya kalau masih sedang berbicara dengan sang kekasih. "Oh eh ya. Nanti aku temui dia dan memarahinya." "Aku tidak mau kamu sekedar memarahinya ya. Aku ingin kamu tidak memberinya uang sebanyak itu lagi." "Iya, aku mengerti. Sudah ya. Nanti lagi kita bicaranya." Barra langsung menutup telponnya. Dia kemudian tercenung memikirkan apa yang baru dia ketahui dari Ani. Saat ini juga, duduknya menjadi tidak tenang. Gelisah. Maka satu jam setelah itu, dia pun menutup toko dan langsung menuju rumahnya. Dia buka pintu rumahnya tersebut tanpa mengetuk pintu apalagi mengucapkan salam. Matanya langsung membulat begitu mendapati barang belanjaan Widi yang berserakan di lantai kamar. "Kamu habis belanja?" Widi yang sedang beres-beres dan tidak menyadari kedatangan Barra, terhenyak dan menoleh ke belakang. "Mas Barra? Masuk tanpa mengetuk?" "Aku tanya, kamu habis belanja?" Barra mengulangi pertanyaannya tanpa menggubris apa yang ditanya oleh Widi. "Seperti yang mas lihat, aku memang habis belanja dari pasar. Tapi ini semua adalah kebutuhan Azzam." "Uang dari mana kamu sampai belanja sebanyak itu? Pakai uang menjual tanah warisan orangtua kamu?" "Iya. Yang mana lagi?" jawab Widi sembari melipat pakaian Azzam ke dalam sebuah keranjang. Pakaian-pakaian itu baru selesai disetrika untuk menghilangkan kuman di kain tanpa mencucinya karena tidak sempat, sebab Azzam sudah kehabisan popok. Yang pemberian dari rumah sakit, semuanya basah karena dicuci. "Sayang uang hasil menjual warisan kamu habiskan untuk belanja barang-barang tidak berguna seperti ini. Apa itu keranjang baju, kelambu, bantal bayi, selimut, baju, bedong, popok, bedak, dot, dan apalagi itu, masih banyak lagi. Daripada untuk membeli semua ini, lebih baik kamu memberikan sisa uang itu kepadaku." Mendengar ucapan Barra, Widi langsung berhenti melipat. Dia menoleh pada Barra lagi dengan wajah tidak senang. "Apa mas? Kamu bilang semua yang aku beli ini tidak berguna? Semua barang yang aku beli ini adalah yang dibutuhkan oleh Azam. Tentu saja ini semua berguna. Dari Azam lahir, dia belum dibelikan semua ini. Kamu sendiri pun seolah tidak perduli." "Azam itu bukan anakku. Tentu saja tidak perduli padanya." "Berhenti kamu bicara seperti itu, mas! Kalau kamu berani mengatakannya lagi, aku tidak segan-segan untuk menyumpal mulut kamu dengan baju Azzam!" Barra menyeringai. "Mana ada maling mau ngaku? Setiap hari kamu punya banyak waktu untuk berkencan dengan lelaki lain di luar sana dengan alasan bekerja. Jadi wajar kalau aku yakin kalau itu bukan anakku." Set. Widi langsung berdiri dari duduknya. Dia mendekati Barra dengan wajah marah. "Lebih baik kamu keluar sekarang dari rumah ini, mas! Sebelum aku menjadi istri yang melakukan ka-de-er-te terhadap suami karena kamu tidak mau menjaga mulutmu!" Barra tertawa mengejek. "Pergi kamu bilang?! Kamu mengusirku?! Ini rumahku! Seharusnya kamu yang pergi dari rumah ini, bukan aku!" Rahang Widi mengencangkan rahangnya. "Oh, kamu tidak menghendaki lagi kami tinggal di rumah ini?" "Ya. Jika kamu tidak mau memberikan uang sisa penjualan tanah warisan orangtua kamu ke aku." Widi menyipitkan mata. Jadi ini maksud dari kepulangan Barra ke rumah? Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD