“Tidak! Aku tidak akan memberikan sisa penjualan warisan kepadamu, mas. Aku tidak bekerja sekarang. Itu untuk memenuhi kebutuhanku dan Azam selama tubuhku belum kuat mencari uang. Bukankah selama ini kamu adalah suami yang tidak bertanggung jawab?”
Barra tak menanggapi apa yang barusan diucapkan oleh Widi seolah itu tidak penting. Matanya kemudian melirik ke atas tempat tidur. Dia melihat dompet Widi tergeletak di sana. Rupanya setelah berbelanja sang istri belum sempat menyimpan dompet tersebut.
Tanpa berpikir dua kali, Barra bergerak cepat meninggalkan Widi dan mengambil dompet tersebut dari tempatnya.
Melihat hal itu, Widi yang menoleh mengikuti gerak tubuh Barra, tersentak kaget. “Kembalikan, mas!” teriaknya. Tapi Barra tak menggubris. Dia membuka dompet itu dan mengambil sebuah kartu debit dari dalamnya.
“Jangan ambil, mas! Itu punyaku!“ Widi mendekati Barra dan berusaha mengambil kartu debit yang berada di tangan suaminya. Akan tetapi Barra sudah lebih dulu memasukkannya ke dalam kantong celana yang sempit dan melangkah keluar kamar.
Widi tak tinggal diam. Dia langsung menarik baju Barra. “Kembalikan, mas! Itu kartu debit! Kamu tidak punya hak atas kartu itu!”
“Siapa bilang? Kamu itu istriku. Tentu aku punya hak atas uangmu. Minggir!” Barra berusaha menyingkirkan tangan Widi yang mencengkram erat bajunya.
“Tidak! Aku tidak mau minggir! Kamu tidak punya hak atas kartu itu, mas! Harusnya kamu yang memberiku makan bukan aku terus yang menanggung kebutuhan rumah tangga!”
Tangan Widi beralih ke kantong celana Barra hendak berusaha mengambil kartu debit miliknya dari sana. Karena panik, Barra mendorong tubuh Widi hingga istrinya itu terdorong kuat ke belakang dan jatuh ke lantai. Karena bokongnya membentur lantai, perut bawahnya tiba-tiba terasa sakit. "Aduh! Oh...," Erangnya sembari meringis kesakitan.
Mendapati hal itu, Barra menipiskan bibir. “Tuh, kan akibat kamu keras kepala. Aku jadi tidak sengaja mendorong kamu. Sudahlah, aku pegang saja kartu debitmu ini. Toh, bukan buat orang lain tapi suami sendiri. Tidak rugi kan? Oya, dengan begini kamu tetap boleh tinggal di rumah ini.”
Barra menyeringai penuh kemenangan. Dengan langkah ringan, dia meninggalkan kamar itu. Widi hendak mengejar, tapi tidak mampu. Perut bawahnya terasa sangat sakit.
Dalam keadaan terus memegangi perut bawahnya, Widi menangis. Bukan hanya karena disebabkan oleh rasa sakit dari perut bawah, namun juga karena rasa sakit di hati.
“Keterlaluan kamu, mas. Kamu sangat keterlaluan. Bukan hanya suami yang tidak bertanggung jawab, kamu juga mengambil uangku. Sekarang ini aku memang tak berdaya. Tapi Tuhan akan membalasnya suatu hari kelak.”
Widi menyandarkan punggungnya di tepian tempat tidur. Dia sudah tidak ada harapan lagi uangnya kembali karena Barra mengetahui pin kartu debitnya. Dari dulu Widi memang tidak pernah mengganti pin kartu debitnya. Dan dulu awal-awal menikah dia sangat terbuka pada Barra hingga tidak merasakan pin kartu debitnya pada pria itu.
Nasi sudah menjadi bubur. Disesali pun percuma. Kini dia harus mencari cara untuk mendapatkan uang lagi jika tidak ingin kelaparan. Tapi masalahnya, dia tidak bisa lagi bekerja di hotel mengingat tidak ada yang mengurus Azam.
Widi menatap putranya yang tidur nyenyak di dalam kelambu. “Sayang, doakan ibu segera mendapatkan cara untuk mendapatkan uang yang tidak harus meninggalkan kamu ya.”
Belum puas Widi bicara dengan Azam, ponselnya berdering. Ines temannya yang sama-sama bekerja di hotel yang menelpon. Widi langsung menerima telpon tersebut dengan bibir meringis menahan sakit.
“Halo, Nes…," sapa Widi dengan suara yang diusahakan senormal mungkin. Dia tidak mau temannya itu menebak sesuatu yang terjadi hanya karena dari suaranya.
“Hai, Wid. Apa kabar?”
“Alhamdulillah sehat.”
“Syukurlah. Maaf aku belum bisa menjenguk. Rencananya nanti sepulang dari kerja. Sekalian mau memberikan sesuatu dari Ibu Lita.”
Mata Widi melebar. Dia mengusap matanya yang basah. “Sesuatu apa?”
“Tidak tau isinya apa. Tidak berani buka. Mungkin peralatan bayi. Katanya itu dari pihak hotel yang memberi.”
“Oh, begitu. Okelah aku tunggu kedatanganmu.”
"Oke. Sore nanti sepulang dari kerja aku langsung ke rumahmu."
***
“Nih.” Bara mengulurkan beberapa lembar uang ratusan pada Ani. Ani sendiri langsung membelalak melihat lembar-lembar berwarna merah itu.
“Serius kamu kasih ini buat aku?”
“Seriuslah. Biar kamu tidak protes lagi aku terlalu royal pada istriku.”
“Jualan kamu laris ya hari ini?”
“Ya… begitulah kira-kira.”
“Aku terima uangnya dengan senang hati.” Ani mengambil beberapa lembar uang merah itu dari tangan Barra. Lalu menciuminya sekilas. “Makasih ya.”
“Hum.” Dengan bangganya Barra memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. Bangga karena telah membuat Ani berbunga-bunga meskipun itu adalah uang Widi yang dia rampas paksa. Mengambil hati perempuan memang mudah, yaitu dengan uang.
Ani menepuk pelan uang yang barusan dia terima ke bahu Barra. “Ingat lho besok-besok lagi kamu jangan terlalu royal pada istrimu itu. Beri dia uang secukupnya saja. Lihat istrimu itu ternyata boros sampai belanja tiga kantong plastik besar. Seperti orang mau jualan saja. Kalau kamu terus memanjakannya seperti itu, kamu bisa bangkrut lho.”
“Iya iya. Aku paham.”
“Jangan paham-paham saja. Kamu sepertinya lemah jika berhadapan dengan istrimu. Aku tidak mau begitu kita menikah nanti, usaha kamu sudah bangkrut karena dikuras sama Si Widi itu.”
“Iya iya aku paham. Sudah dong ngomelnya.” Barra sedikit menaikkan intonasi suaranya.
“Terus kapan kamu akan menceraikannya? Kamu menunggu apa lagi?”
Barra terdiam. Agak sulit menjawab pertanyaan yang satu ini. Dia berencana menceraikan Widi jika istrinya itu sudah melunasi hutangnya ke bank. Kalau sekarang diceraikan, siapa yang akan membayar hutangnya itu. Barra berharap Widi bisa segera kembali bekerja agar bisa memiliki penghasilan lagi.
“Nantilah soal itu. Apa kata orang kalau aku menceraikan istri yang baru saja melahirkan?”
“Katamu itu bukan anakmu. Kenapa kamu begitu perduli?”
“Meskipun itu bukan anakku, aku masih suaminya. Aku tidak bisa semena-mena begitu.”
“Kamu tidak semena-mena kalau kamu memang yakin itu bukan anakmu. Untuk apa mempertahankan istri yang selingkuh? Dan, berita kalau anak Widi bukan anakmu itu sudah tersebar kemana-mana. Tadi pagi ketika aku mau membeli minyak goreng, yang punya toko mengatakannya kepadaku.”
Barra membisu mendengar apa yang dikatakan Ani barusan. Dia bingung bagaimana orang-orang bisa tahu mengenai berita ini. Dia tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun selain pada Ani dan kedua orangtuanya. Serta paman dan bibi Widi.
“Serius?” tanya Barra dengan alis yang nyaris bertemu.
“Seriuslah.”
“Tapi siapa yang menyebarkannya? Kamu?”
Ani menyeringai. “Kamu pikir aku tukang gossip. Mana aku tau siapa yang menyebarkannya. Aku itu masih takut untuk bertindak karena takut orang-orang akan mengetahui hubungan kita. Mungkin tersebar dengan sendirinya.”
Barra menggeleng. “Mustahil tersebar dengan sendirinya. Pasti ada yang menyebarkan.”
“Yang namanya aib pasti akan mudah tersebar. Itu seperti hukum alam. Biarkan saja sih. Biar dia tau rasa dan kamu punya alasan untuk menceraikannya.”
Barra menghela nafas kasar.
***
Tok! Tok! Tok!
“Assalamu’alaikum….”
“Wa’alaikum salam…,” jawab Widi yang baru saja selesai memakaikan baju pada Azam yang sudah mandi dan wangi. Dengan menggendong Azam, Widi meninggalkan kamar untuk membukakan pintu. “Ines…. Ayo silahkan masuk.”
Yang dipersilahkan tersenyum lalu masuk ke dalam rumah. Dia mengambil duduk yang tidak jauh dari pintu masuk. Goodie bag yang tadi ditentengnya, dia letakan di atas meja. “Ini titipan untuk kamu itu.”
Widi melirik goodie bag tersebut tanpa bisa mengintip isinya karena kedua tangannya dipakai untuk menggendong Azam. “Terima kasih lho, Nes. Aku merepotkanmu ya?”
“Tidak dong. Bagaimana bisa kamu bilang merepotkan? Aku kan juga ingin melihat keadaan kamu dan ponakan baruku. Boleh gendong?”
“Memang kamu bisa?”
“Kamu ragu? Meskipun masih lajang, aku sudah sering menggendong bayi merah. Kakak perempuanku sudah punya anak tiga dan tiga-tiganya sering aku asuh sebelum berangkat kerja.”
“Ah, iya juga. Kamu kan satu rumah ya dengan kakakmu itu.”
“Karena itu… sini.” Ines mengulurkan kedua tangannya ke arah Widi bersiap untuk menggendong Azam. Widi pun tanpa ragu memindahkan Azam dari gendongannya ke tangan temannya itu.
“Sebentar aku ambilkan minum dulu ya.”
“Oke.”
Widi beranjak ke dapur dan tak lama kembali dengan segelas air teh.
“Sampaikan ucapan terima kasihku pada Ibu Lita untuk pemberiannya,” ucap Widi sembari menaruh gelas teh ke atas meja.
“Kalau kamu mau berterima kasih, bukan pada Ibu Lita. Tapi langsung pada pemilik hotel.”
“Maksudmu pada Pak Arman?”
“Bukan pemilik hotel. Kata Ibu Lita, bingkisan itu diberikan langsung dari pemilik hotel untuk kamu. Kalau Pak Arman kan hanya sekedar manager.”
Kening Widi mengerut. “Pemilik hotel? Memangnya pemilik hotel tau kalau aku melahirkan? Pemiliknya bukannya tinggal di ibukota?”
Ines mengendikkan bahunya tanda tidak tahu apa-apa.
Bersambung.