Kedatangan Pihak Bank

1792 Words
Melihat Ines mengendikan bahu, kening Widi mengerut dalam. Dia mencoba mengingat-ingat yang ada sangkut pautnya dengan bingkisan yang sekarang ada di hadapannya. ”Apa sebelum ini setiap ada yang melahirkan mendapatkan bingkisan?” tanyanya kemudian. “Setahuku sih dapat. Tapi bukan bingkisan melainkan uang tunai. Tapi… itu sebelum ini. Sekarang yang melahirkan mendapatkan bingkisan. Tidak menutup kemungkinan di dalam bingkisan ini ada uang tunai juga. Aku tidak berani melihatnya. Takut kesalahan nanti. Dan… dikatakan yang memberi adalah pemilik hotel, aku rasa semua pemberian dari pihak hotel kepada karyawannya di atas namakan dari pemiliki hotel.” Widi angguk-angguk sepemahaman. Hatinya tidak bertanya lagi kenapa mendapat bingkisan karena jawaban Widi cukup masuk akal. “Apapun itu aku berterima kasih karena sudah diperhatikan oleh pihak hotel.” Ines tersenyum. “Oya, kapan rencananya kamu mau bekerja lagi? Apa setelah lewat empat puluh hari?” Widi menghela nafas pelan mendengar pertanyaan Ines. Wajahnya berubah muram. “Sepertinya aku tidak akan kerja lagi di hotel.” Ines menyipitkan pandang. “Lho, kenapa?” “Tidak ada yang mengurus Azam.” “Kamu bisa membayarkan separuh gajimu untuk orang yang mengasuh Azam.” “Untuk sekarang aku belum tega. Azam anak pertamaku. Jadi kekhawatiran itu sangat kuat.” “Kalau kamu tidak bekerja lagi, terus bagaimana dengan hidup kamu dan Azam ke depannya? Apakah suamimu sudah berubah? Apa dia mau menanggung biaya hidup kalian?” Widi tak menjawab. Ines memang mengetahui cerita hidupnya, yaitu tentang Barra yang tidak mau menafkahinya. Dia yang menceritakan itu kepada Ines. “Dia masih belum berubah. Bahkan dia baru saja mengambil uang hasil menjual tanah warisan kedua orangtuaku yang tadinya mau aku pakai untuk melunasi hutangnya ke bank.” Ines menggeleng prihatin mendengar cerita Widi. “Kalau begitu keadaannya, terus kamu mau apa agar tetap bisa makan dan hidup? Dan… sebaiknya kamu tinggalkan saja pria seperti Barra itu. Dia sangat keterlaluan.” “Saat ini aku belum memikirkan akan melakukan apa agar tetap bisa makan. Tapi aku memang positif memutuskan untuk tidak bisa bekerja lagi di hotel. Lalu soal Mas Barra, rasanya aku pun ingin pergi darinya.” “Kalau menurutku kamu memang harus pergi dari kehidupan dia. Kamu itu bisa hidup tanpa dia karena selama ini dialah yang menumpang hidup ke kamu. Kamu harus tegas, Wid. Widi mengangguk. “Iya, aku pun sedang memikirkannya.” Ines melirik jam yang melingkari pergelangan tangan. “Ya sudah, kalau begitu aku mau pulang ya.” Ines mengulurkan Azam pada Widi. Widi menerimanya dengan hati-hati. “Terima kasih sudah membawakan bingkisan itu untukku. Hati-hati di jalan. Salam untuk keluargamu.” “Oke. Ingat ya, kamu harus tegas pada suamimu.” Widi tersenyum. Dia lalu melepaskan kepergian Inez dengan berdiri di depan pintu hingga sahabatnya itu hilang dari pandangan. Lalu, dia menutup pintu dan masuk ke dalam kamar untuk membaringkan Azam yang tertidur di atas tempat tidur. Setelah memastikan Azam tertidur dengan nyaman, baru Nadia kembali ke ruang tamu untuk memeriksa bingkisan yang ada di atas meja. Bingkisan yang lumayan besar. Tanpa ragu, Widi meraih bingkisan itu dan membukanya. Ternyata isinya adalah pakaian bayi lengkap yang jumlahnya lumayan banyak. Widi sangat suka dengan pakaian itu karena bukan pakaian bayi baru lahir tapi pakaian bayi yang sudah berusia beberapa bulan. Jadi bisa dipakai kelak ketika Azam tidak lagi memakai bedong. Deg. Jantung Widi tiba-tiba berdegup kencang begitu menyadari apa yang terjadi. Ini jelas keanehan karena pihak hotel memberi pakaian-pakaian bayi laki-laki sementara dia belum mengatakan pada satu pun orang hotel kalau dia melahirkan anak laki-laki. Ines sendiri baru tahu kalau bayinya berjenis kelamin laki-laki beberapa saat lalu. "Jadi siapa yang memberitahu ke orang hotel kalau anakku laki-laki? Ini sangat aneh. Apakah orang hotel mencari tahu bukan dariku? Tapi dari siapa? Mas Barra? Rasanya itu tidak mungkin." Widi menggeleng. Mencoba menghilangkan pertanyaan yang sulit dia jawab sendiri. Dia lalu kembali memeriksa pakaian-pakaian Azam pemberian pihak hotel. Tuk! Tiba-tiba sesuatu keluar dari lipatan baju ke lantai. Sebuah amplop coklat berbentuk persegi panjang. Widi memungut amplop itu dan melihat isinya. Matanya melebar, ternyata uang. Senyum pun langsung mengembang di bibirnya. Uang saat ini sangat berguna untuk kelangsungan hidupnya dengan Azam di masa depan. "Terima kasih, Tuhan. Walaupun tidak sebanyak uangku yang diambil oleh Mas Barra, aku sangat bersyukur." Widi menempelkan amplop itu ke dadanya. *** "Tuan, ada yang ingin aku sampaikan kepada anda," ucap Bram di depan pintu kamar Arion. "Mengenai Widi?" "Ya, tuan." "Kalau begitu masuklah." Arion berbalik melangkah masuk dengan diikuti oleh Bram. Keduanya lalu duduk di sofa yang ada di ruangan itu. "Katakan apa yang sudah kamu ketahui tentang Widi dan suaminya. Arion tak berbasa-basi. Langsung ke hal yang sangat ingin diketahuinya. Itu sebabnya dia meminta Bram untuk menyelidiki. "Seperti yang anda duga, tuan. Suami Nona Widi bukanlah pria yang baik. Dia mendua di belakang Nona Widi dan tak menafkahi. Bahkan hutangnya pun ke salah satu bank, selalu Nona Widi yang membayar. Sungguh buruk sifatnya itu. Nona Widi tak pantas hidup dengan pria itu." Arion tercenung mendengar penjelasan Bram. Hatinya panas mendengar hal itu. Ini seperti yang dia pikirkan. Dia jadi ingin sekali menolong Widi secara terang-terangan. Namun itu akan sulit terealisasikan karena di antara mereka tidak ada hubungan sama sekali. *** Tok! Tok! Tok! "Selamat siang!" Widi yang sedang menikmati makan siangnya terhenyak mendengar suara ketukan di pintu. Dari suaranya, itu bukan Barra meskipun suara laki-laki. Itu juga bukan suara pamannya karena dia tidak mungkin lupa dengan suara orang terdekat. Dengan hati yang tidak tenang, Widi meninggalkan makanannya untuk membukakan pintu. Hati tidak tenangnya sangat beralasan karena kini di depannya dia melihat tiga pria berpakaian rapi. Ketiga pria ini pasti ingin melakukan sesuatu pada rumah ini. "Oh, bapak-bapak. Silahkan masuk!" Widi mencoba untuk bersikap baik meskipun rasanya tidak nyaman. Ketiga pria berpakaian rapi itu pun melangkah masuk dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu. Widi pun ikut duduk di hadapan mereka. "Ada apa bapak-bapak?" "Mbak pasti sudah tau maksud kedatangan kami ke sini. Ini berhubungan dengan kesepakatan kita sebelumnya bahwa jika masih juga tidak membayar kewajiban, maka rumah ini akan kami sita. Untuk itu silahkan mbak baca dan tolong Mas Barra diminta tangan di atasnya." Pria itu membuka sebuah map dan mengulurkannya ke hadapan Widi. Widi melirik isi map itu dan tertegun. Dia lalu menatap pria-pria rapi di depannya lagi. "Apa tidak bisa diundur lagi, bapak-bapak? Lagian saat ini suamiku sedang tidak ada di rumah." "Memangnya dia kemana, mbak? Masih di pasar?" Widi mengangguk. "I-iya. Aku rasa dia memang masih di pasar. Bapak-bapak mungkin bisa langsung menunjukkan ini pada suamiku saja karena hutang itu atas namanya, atas kehendaknya, dan uangnya pun untuk modal usaha dia semua. Aku tidak memakainya sama sekali. Bahkan selama ini yang membayar hutang setiap bulannya adalah aku. Jadi sudah waktunya aku melepaskan apa yang bukan menjadi tanggung jawabku." Pria-pria berseragam rapi itu saling pandang satu sama lain. Wajah mereka menunjukkan tanya yang besar tapi tidak berniat untuk mengurai tanya itu. "Baiklah kalau begitu, mbak. Kami akan ke pasar dulu menemui Mas Barra. Tapi sekali lagi mbak, kalau tidak ada inisiatif dari kalian untuk menyelesaikan kewajiban dalam waktu dekat, maka kami akan melelangnya." "Ya pak. Aku tau itu. Aku juga tidak perduli kalau bapak mau menyitanya karena ini bukan rumahku melainkan rumah suamiku. Seminggu yang lalu aku sudah berniat untuk melunasinya dengan menjual satu-satunya tanah warisan orangtua. Tapi suamiku mengambil uang itu dan aku tidak tau dipakainya untuk apa. Sekarang aku sudah menyerah pak. Silahkan bapak urus bersama suamiku saja." Tak lama setelah Widi menjelaskan itu, tiga pria berseragam rapi tersebut meninggalkan rumahnya. Bisa dipastikan menuju pasar di mana Barra berjualan. Widi hanya memandang kepergian ketiganya dengan tatapan nanar. "Kali ini aku sudah tidak mau perduli lagi dengan apa pun yang terjadi padamu, mas. Aku tak perduli kalau rumah ini akan disita bank atau tidak. Aku sudah sangat capek memikirkannya. Capek. Dan kamu juga dengan kejamnya mengambil uang penjualan warisan orangtuaku tanpa rasa iba sedikit pun padaku. Sekarang uruslah hidup dan masalahmu sendiri." Widi menutup pintu dan masuk ke dalam kamar. Makanan yang belum dia habiskan di meja makan, sudah tidak menarik lagi untuk di makan. Ada hal lebih penting yang harus dia urus daripada melanjutkan makan, yaitu menyembunyikan uang pemberian dari pihak hotel. Karena kalau Barra mengetahuinya, takutnya akan diambil lagi. Tapi di mana dia harus menyembunyikannya? Di lemari? Bawah tempat tidur? Di dalam sarung bantal? Oh, itu tempat yang mudah dicek. Widi menggigit bibir bawahnya. Dia berpikir keras untuk memikirkan tempat menaruh uang itu. Yang pasti menurutnya yang paling aman dan tidak dicurigai sebagai tempat menyimpan uang. Tiba-tiba mata Widi menatap lekat gendongan Azam. Itu adalah gendongan instan yang memiliki bentuk dan terdiri dari beberapa lapis kain. Ide cemerlang itu pun muncul. Widi mengambil gendongan itu, merusak jahitannya sedikit, memasukkan uang pemberian pihak hotel ke dalamnya, dan terakhir menjahitnya kembali. Dia yakin tak ada yang tahu kalau di dalam gendongan ada uangnya. "Aku yakin Mas Barra tidak mengetahui kalau aku menyimpan uang di gendongan ini." Widi tersenyum puas sembari menepuk-nepuk gendongan itu. Brak! Senyum lega Widi seketika surut begitu mendengar gebrakan pintu yang begitu kuat. Dia menaruh gendongan di atas tempat tidur dan keluar. Di dapati Barra melangkah mendekatinya dengan wajah sangat marah. "Widi! Kenapa kamu bilang pada orang bank kalau kamu tidak mau tau lagi masalah hutang itu?! Kamu tau bukan kalau hutang itu tidak dibayar juga maka rumah ini akan disita?!" Widi menghela nafas panjang. Mencoba untuk bersikap tenang. "Ya, aku memang mengatakannya dan juga tau kalau rumah ini bakal disita. Terus kenapa?" "Kenapa kamu bilang?! Apa kamu mau rumah ini disita oleh mereka?!" "Ya... mau tidak mau. Kalau sudah tidak bisa membayar, mau bagaimana lagi?" Barra menyipitkan pandang. "Sesantai itu kamu bicara?" "Terus aku harus bagaimana? Panik?" "Harusnya kamu memang panik dan mencari jalan keluar agar rumah ini tidak jadi disita." "Satu-satunya cara agar rumah ini tidak disita adalah dengan membayar hutang itu, mas. Jadi bayarkan saja uang yang ada di ATM ku itu ke mereka. Meskipun uang itu tidak bisa melunasi karena sudah diambil diawal oleh kamu, tapi bisa dipastikan pihak bank akan menunda untuk menyitanya dan memberi kita waktu untuk menyelesaikannya." Barra menggeleng. "Tidak! Aku tidak mau menggunakan uang itu untuk membayar bank. Lagian aku sudah memakainya." "Ya sudah kalau kamu tidak mau membayarnya. Itu bukan urusan aku. Ikhlaskan saja rumah ini disita bank. Beres kan?" Widi berbalik hendak masuk ke dalam kamar karena mendengar suara tangisan Azam. Tapi langkahnya dicegat oleh Barra. "Jangan lepas tangan atas hutang ini, Wid. Atau aku akan...." "Akan apa?" sela Widi. "Akan menceraikanku? Silahkan! Silahkan ceraikan aku! Kamu pikir aku tidak bisa hidup tanpamu?! Kamu salah. Aku bahkan lebih mandiri dari kamu, mas! Selama kamu makan dan hidup dari uangku karena kamu tidak mau mengeluarkan uangmu sedikit saja untuk makan sehari-hari! Tidak hanya untuk makan, aku juga yang selama ini bayar listrik, air, dan membayar utang kamu!" Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD