ADA IMBALAN YANG HARUS DI BAYAR!
"Apa yang dia katakan? Apakah dia seorang manusia? Mengapa bisa dengan entengnya mengatakan itu? Semua sungguh mengerikan. Apakah aku akan menikah dengan pria seperti dia?" gumam Aruna. Dion hanya bisa tersenyum mendengar omelannya.
"Baik-baik," sahut Dion.
"Hah?"
"Pikirkan perlahan-lahan dan baik-baik. Satu keputusanmu akan membuat takdir dan garis hidup orang berubaha. Jadi jangan terlalu buru-buru. Masalah ibumu aku akan berusaha mengungkapkan dan mecari tahu juga. Tunggulah, pasti akan ada yang memberikan laporan secara terperinci kepadamu dalam beberapa hari ini. Jadi kau tinggal tunggu saja, dia dan pikirkanlah cara membalas dendam terbaikmu. Mengerti?" tanya Dion. Aruna langsung menganggukkan kepalanya.
"Tapi aku harus memperingatkanmu tentang satu hal lagi," sambung Dion sambil melongok ke arah Aruna
Padahal dia sudah melangkah ingin keluar kamar. Sungguh lelaki itu membuat jantung Aruna berdetak tak karuan. Takut, bingung, dan terpesona pada ketampanannya menjadi satu. Dia benar-benar baru menemui tipikal lelaki semacam itu.
"Apa?" tanya Aruna memberanikan diri mendongakkan kepalanya.
"Kau akan tahu nanti. Oh ya berhubung kau sudah setuju dengan pernikahan kontrak kita, maka aku akan memasukkanmu ke kelas model internasional, kau harus berubah istri seorang Dion Hadinata Wijaya. Mulai sekarang kau membawa nama baikku, jaga sikapmu.. Kau akan belajar manner, tata krama, harus tampil menawan, minimal standarnya adalah model internasional. Ya meski kau sedikit pendek, kau paham?" tanya Dion, Aruna hanya melongo.
"Hah?"sahut Aruna.
"Sebenarnya dia ini siapa? Mengapa banyak sekali peraturan yang tak di mengerti selama ini? Apakah memang dia seorang yang besar sampai harus memiliki kriteria yang sangat sempurna," omel Aruna.
"Bagaimana? Kau mengerti tidak?" tanya Dion.
"Ya, Tuan Dion!" sahut Aruna menganggukkan kepalanya.
"Bagus. Bersiaplah, sebentar lagi kelas akan di mulai!" perintah Dion meninggalkan Aruna begitu saja.
"Wahhh! Apa ini? Mengapa semua bisa begini? Jalan hidupku seolah berubah seketika," batin Aruna heran, dalam kurang dari dua puluh empat jam kesadarannya hidupnya seakan berubah.
Tanpa diduga, hari itu juga Aruna langsung mengikuti kelas model internasional. Tak tanggung-tanggung bahkan Dion juga langsung mendatangkan para MUA yang ahli dan desainer kondang untuk merubah penampilan Aruna. Tak hanya itu mereka juga mengajarkan Aruna berbagai ketrampilan dalam memoles diri.
Tanpa Aruna tahu, karena ternyata hari ini akan diadakan pertunangan dari kakaknya Arumi dengan Revan, kekasihnya. Dion sudah mendapatkan semua informasi itu, bahkan secara eksclusif dia mendapatkan undangan itu, karena memang Tuan Agung mengundang beberapa petinggi perusahaan dan konglomerat.
"Berdandanlah!" perintah Dion.
"Untuk apa, Tuan?" tanya Aruna.
"Kita akan pergi. Kenakan gaun yang sudah aku pilihkan untukmu. Lalu kita akan pergi ke acara pertunangan. Pastikan semua dandanan sempurna," titahnya. Aruna pun hanya menganggukkan kepalanya.
Aruna segera bersiap, dia ternyata tak perlu berdandan karena semua telah di siapkan oleh asisten Tuan Dion. Mulai make up dan sebagainya, malam ini Aruna mengenakan gaun berwarna hitam, ya hitam adalah warna favoritnya dan kebetulan gaunnya yang disediakan oleh Dion juga berwarna hitam dengan belahan d**a yang rendah menonjolkan bagian dadanya, lekuk pinggangnya yang ramping juga nampak menawan.
"Apakah seleranya memang seksi begini?" batin Aruna saat mencoba gaun itu.
Tak lupa berbagai aksesoris mewah juga turut menghiasi penampilannya malam ini, gaun polos itu di tambah dengan ikat pinggang Swarovski berwarna silver dan hitam. Dia mengenakan kalung batu safir hitam sangat elegan sekali, bahkan saat berkaca Aruna tak menyadari jika itu adalah dirinya.
"Apa ini sungguh diriku?" batin Aruna sambil berkaca.
"Ini Nyonya," kata seorang pelayan datang membawakan hills hitam di hadapan Aruna.
"Kehidupan seperti yang aadi dongeng, terlalu sempurna. Bolehkah aku benar-benar mendapatkan semuanya," ucap Gabariella pada dirinya sendiri.
Dia pun segera memakainya, tanpa sadar Aruna berkaca berkali-kali. Dia kagum pada dirinya sendiri. Kemudian tanpa disadarinya, Dion datang dari belakang. Dia melihat tingkah Aruna sambil menahan senyumnya.
"Dia benar-benar gadis yang polos," batin Dion.
"Ternyata aku tidak jelek jika berdandan begini. Tapi kenapa dulu orang-orang bilang wajahku biasa saja? Bahkan aku merasa Kak Arumi jauh lebih cantik dari pada diriku," kata Aruna mencoba berkaca sampai dia memutar tubuhnya di depan cermin.
"INI SAATNYA BALAS DENDAM ISTRI PRESDIR YANG TERBUANG!"
"Ah syukurlah, setidaknya dia sekarang jauh lebih enak dipandang dibandingkan waktu aku membawanya. Tampak kumal dan tak terurus. Dia wanita yang cantik, namun tak sembarang orang bisa melihat kecantikannya," monolog Dion. Tiba-tiba Aruna berbalik arah, dia melihat bayangan Dion yang sedang mengamatinya di kaca.
"Bagaimana penampilanku, Tuan Dion? Bukankah semua ini cocok?" tanya Aruna meminta pendapat Dion.
Bahkan dia baru tahu nama suaminya adalah Dion Hadinata Wijaya setelah menandatangani perjanjian. Kalau di pikir lagi sebenarnya nama yang sangat tak asing namun dia lupa dimana pernah mendengarkannya. Aruna juga tak mau ambil pusing dengan semua. Dion diam dan menghampiri Aruna.
"Tuan Dion? Kenapa kau diam saja? Bagaimana penampilanku? Bukankah ini semua kau yang memilihkan? Apakah masih ada yang tak cocok denganmu?" tanya Aruna.
"Jelek! Ganti!" jawab Dion singkat, padat, dan membuat Aruna kaget.
"Apa jelek? Kenapa? Bukankah ini cantik? Aku merasa tak mengenali diriku sendiri dengan semua pakaian dan dandanan ini. Kenapa kau mengatakan aku jelek," protes Aruna.
Dion pun berjalan ke arah lemari, dia mengambil salah satu gaun dan melempar ke arah Aruna. Dia tak suka Aruna memakai pakaian yang terbuka, apalagi menonjolkan buah d**a serta lekuk tubuh.
"Seleramu sangat payah sekali. Pakai ini, jangan pakai yang terbuka di bagian d**a. Ganti!" perintahnya lagi.
"Kenapa? Apa Tuan Dion cemburu? Bukankah mereka baru kenal?" tanya seorang pelayan setia Dion.
"Bukankah gaun ini dia yang memilihnya? Mengapa sekarang dia mengomel dan mengatai bahwa gaunku tak cocok? Aneh sakali," gerutu Aruna lirih.
Lelaki itu tak menjawabnya, dia sekarang pergi meninggalkan Aruna dengan seorang pelayan wanita. Akhirnya mau tak mau Aruna pun mengganti pakaiannya, setelah Aruna selesai berganti baju yang lebih tertutup dan Dion setuju, mereka pun pergi ke arah gedung tempat pertunangan Arumi dan Revan.
Sepanjang jalan, Dion masih terdiam. Dia merasa aneh dengan ucapan pelayan itu, kata cemburu hal yang tak pernah dia lakukan. Kemudian sesampainya di gedung dia pun segera keluar dari pintu membuka pintu bagian Aruna.
"Entah mengapa aku merasa hidupku sekarang berubah, tapi justru aneh juga. Kita menikah untuk keuntungan masing-masing, jadi dia tahu tidak mungkin menaruh perasaan padaku. Hanya saja aku masih curiga mengapa dia begitu baik. Bukankah di dunia ini tidak ada orang baik yang tulus begitu saja? Bukankah semua kebaikan ini nanti akan ada balasan di endingnya? Balasan apa yang akan dia minta,"
APA YANG AKAN DI LAKUKAN ARUNA? RENCANA SEPERTI APA YANG SUDAH DI SIAPKAN DION?
BERSAMBUNG