Pagi pun tiba.jam baru menunjukan angka 5 pagi hari.
Hoooaaam"!!
Dengan lebarnya gadis cantik itu menguap tanpa aba aba.
"Nyaman sekali".
Gumam Luna sambil mengucek matanya dan mencoba mengumpulkan nyawa yang masih belum seutuhnya kembali.
"Kenapa kepalaku sedikit berdenyut denyut,aaarg"!!
Saat matanya terbuka sempurna ,gadis cantik berusia 19 tahun itu pun terlonjak kaget,ya di sadari nya jika saat ini dia tidak berada di kamar pribadinya yang sempit itu .
"Oh God,dimana aku'.
Pekiknya sambil menelisik setiap sudut kamar tersebut.
Lebih besar 3 kali lipat dari kamarnya.
Bersih ,indah dan sangat wangi,.
"Di kamar hotel kah,jangan jangan aku".
Sahut nya lagi sambil membuka selimut yang masih menutupi tubuhnya.
AC yang menyala membuat suasana kamar tersebut begitu sejuk dan dingin.
"Aman,baju ,celana masih sama dan iniku juga tidak ada rasa aneh,aku masih perawan kan ,tidak ada yang menyentuhku semalam,lalu dimana aku".
Kata Luna yang sudah bingung sendiri dengan dirinya saat ini.
Perlahan gadis itu turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Ceklek.
Pintu kamar mandi di buka perlahan olehnya ,dengan kepala yang mengintip kedalam nya memastikan tidak ada orang selain dirinya.
"Anjirr ,kenapa aku jadi kayak maling gini sih".
Geruntuh Luna sambil masuk ke dalam kamar mandi tersebut.
"Lomoh lah,".
Sahut nya sambil mengambil sebuah sikat gigi dan pasta gigi,lalu Luna mulai menggosok giginya nya .
"Semoga saja ini baru semua,kalau tidak konsekuensi nya ya harus sakit gigi bukan,bodoh amat ,yang jelas aku harus cepat pergi dari tempat keramat ini.".
10 menit berlalu Luna pun keluar dari kamar mandi ,dan mencoba mencari sesuatu yang mungkin miliknya,tas mungkin atau ponsel.
"s**t, dimana tas sama ponselku".
Tetap tidak ada meskipun sudah beberapa kali mencari di atas meja di Atas ranjang,tetap tidak ada.
"Bodo amat,aku harus cepat keluar dari sini".
Guam nya sambil mengendap endap keluar dari kamar tersebut.
Ceklek..
Suasana masih nampak sepi hanya beberapa lampu hias yang menempel di dindingembuat suasana semakin horor ,apalagi rumah tersebut masih terasa sangat asing untuk Luna.
"Edian,,ini rumah atau istana,jangan jangan ini persinggahan nyi Blorong ya,dan aku akan di jadikan tumbal pesugihan,arah persetan dengan nyi Blorong ,dimana pintu keluar".
Guruntuh Luna sambil celingukan mencari pintu keluar dari mansion sebesar itu.
"Tuan"!!
Dengan cepat Gerry pun mengankat tangannya.
Akhirnya pak Jo yang sedari tadi ingin menghadang gadis asing itu menghentikan niatnya saat Gerry mengankat satu tanganya ke udara.
Ya di ruang tengah tepat nya dengan suasana pencahayaan yang temarang ,bahkan tidak bisa di lihat dengan sekilas mata.
Gerry duduk di ruang tengah di temani pak Jo.
Laki laki itu sudah bangun satu jam yang lalu ,setalah tidur malamnya yang hanya 3 jam.
Dugh"!!
"Aaarg,sialan,kenapa ni kaca pakai terpampang jelas di sini sih,Jontor kan ni kepala ".
Umpat Luna kesal saat keningnya membentur sebuah kaca hitam pembatas antara ruang tengah dan ruang tamu.
"Dasar rumah setan"!!
Pekiknya sambil meraba raba sekitarnya dengan kedua tangan.
Ya memang masih nampak gelap,atau jangan jangan memang mata Luna yang sudah sedikit rabun.
Senyum tipis pun nampak jelas pada bibir duda tampan satu itu saat melihat tingkah gadis aneh yang di bawanya semalam.
Pak Jo yang menyadari hal itu pun ikut tersenyum.
Ini baru pertama kalinya melihat ada senyum pada wajah datar tuan mudanya.
"Siapa sebenarnya gadis itu,hingga bisa membuat tuan muda tersenyum dengan tingkah konyol nya".
Gumam pak Jo yang di buat makin penasaran saat itu.
Ceklek "!!
Akhirnya pintu utama pun berhasil Luna temui dan perlahan gadis tersebut membuka pintu yang lumayan besar di bandingkan dengan pintu rumahnya.
"Anjirr,ini halaman apa lapangan golf,bisa kurus aku bisa melewatinya dengan jalan kaki".
Umpat Luna saat sudah berdiri di luar mansion tersebut .
Butuh tenaga extra untuk bisa sampai pada gerbang utama di mansion tersebut.
"Memang benar benar ruang demit"!
Umpatnya lagi sambil melangkahkan kakinya berjalan menuju gerbang besi yangenjulang tinggi di depan sana.
"Pak ,bukan kan gerbangnya".
Kata Luna kepada sala satu security yang berdiri di samping pos security tersebut.
"Baik nona".
Kata security tersebut yang memang sebelumnya sudah dapat perintah dari pak Jo lewat telpon selular yang menghubung pada pos security.
Dengan rasa penasaran Gerry yang tadinya berada di ruang tengah,kini sudah nampak berdiri di balik jendela ruang tamu ,untuk apa ,pastinyabuntuk melihat gadis cantik yang sudah membuat nya penasaran dengan tingkah konyolnya.
Senyum miring pun terlukis jelas pada wajah tampan duda tersebut.
"Trimakasih pak".
Kata Luna sambil mengangguk kan kepalanya kepada security yang sudah membukakan gerbang untuknya .
"Akhirnya aku keluar,amit amit aku masuk ke rumah ini lagi,rumah pesugihan auranya tidak kaleng kaleng".
Kata Luna sambil menatap kembali ke belakang melihat rumah termewah dari pada yang lainya.
"Dimana aku cari taxy".
Gumam nya sambil berjalan gontai mencari taxy yang bisa dia tumpangi pagi itu.
Tak berselang lama Luna pun mendapat taxy yang akan mengantarkannya ke rumahnya.
"Perumahan anggrek raya ,pak".
Kata Luna kepada supir taksi tersebut .
20 menit berlalu Luna pun telah sampai di pos satpam perumahan tersebut.
"Tunggu pak.".
Kata Luna lalu keluar dari taxy tersebut dan berjalan ke pos satpam.
"Mang,pinjam dulu 50 boleh".
Kata Luna pada mang Yudi ,satpam penjaga komplek perumahan anggrek raya tersebut.
"Ala ala tumben amat pinjam 50,tidak kurang apa neng Luna".
"Sudah cepetan mang,nanti Luna ganti seratus ,sore tapi ya".
Celetuk Luna yang tidak tahu malu pagi pagi sudah mengganggu pak satpam untuk meminjam uang.
"Ini neng,".
Kata mang Yudi sambil memberikan pecahan 50 ribuan ke pada Luna.
"Makasih mang,balik dulu yaa"!!
Kata luna setelah membayar taxy tersebut dan berjalan menuju rumahnya di blok b7 yang tak jauh dari pos satpam.
"Dari mana Luna, keluyuran sampai tidak pulang,jangan aneh aneh Luna ingat kamu sudah dilamar orang".
Ocehan Tante Melisa sudah memenuhi gendang telinga gadis cantik yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Ssst,Tante berisik masih pagi"!
Sahut Luna dengan tengil nya.
", kamu benar benar ya".
Sahut Tante Melisa sambil mengangkang spatulanya ke udara.
Ya Tante Tante matre' itu sedang memasak untuk menyambut tuan Mahendra yang akan menjemput Luna siang nanti.
Brak"!!
Pintu kamar pun ditutup Luna sedikit kasar.
Luna pun mendudukan bokongnya di atas ranjang miliknya.
Terdengar helaan nafas berat dari diri gadis cantik tersebut.
"Benarkah aku akan menikah secepat ini".
Gumam Luna yang sudah larut dengan lamunannya entah kemana.