Dieter mengulurkan tangannya hingga menyentuh pipi Thea. Sebuah pergerakan yang sangat tiba-tiba sehingga membuat wanita itu tersentak. “Dieter?” “Bagaimana mungkin aku sempat berpikir untuk mengembalikanmu pada si Derek sialan itu?” “Apa maksudnya itu?!” Thea langsung memelototinya. “Jangan pernah memikirkan hal konyol itu lagi, Dieter!” Dieter kontan langsung menarik Thea mendekat. “Tidak akan pernah,” bisiknya sebelum merengkuh Thea ke dalam pelukannya. “Aku akan menunggu, itu tidak masalah. Karena aku tahu akhirnya kamu akan bersamaku. Karena kamu adalah milikku.” Thea terhenyak sesaat sebelum akhirnya ekspresi wajahnya berubah lembut. “Aku tidak akan memprotes yang itu,” sahut Thea seraya mengangguk dalam pelukan Dieter. “Aku jadi tidak sabar memaka cincinku. Boleh aku coba du

