“Aku rasa aku mulai menyukaimu,” ucap Ikota sambil menggenggam kerah Hikaru.
“Gimana ya? Tapi aku sangat tidak suka padamu,” balas Hikaru tanpa rasa takut sedikitpun.
“Hei… sudah-sudah, kembali ke tempat masing-masing. Tiba-tiba Pak Jara datang dengan seorang perempuan dengan seragam rapi, rambut di kuncir kuda, dan senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya. Nampaknya akan ada murid baru lagi di kelas ini.
“Kalian berdua sedang apa?” tanya Jara.
Hikaru yang mengalihkan pandangan pada guru, tak ayal langsung melotot melihat siapa yang datang, begitupun dengan Bilal, jantungnya langsung berdegup kencang.
Murid baru yang datang dengan Pak Jara langsung berlari menuju Ikota dan menggigit bahunya.
“Akh… aw…” Ikota kesakitan.
“Lepaskan dia!” seru murid baru tersebut.
“Ngapaian kamu di sini?” tanya Hikaru pada murid baru yang menolongnya.
“Caramu memperkenalkan diri agak lain ya, haha…” komentar Pak Jara, dengan sedikit tawa tipis. “Sini, beri salam kepada yang lain Eiko.”
Murid baru itu adalah Eiko.
“Tidak pak! Pasti dia salah masuk.” Hikaru menyret Eiko menuju keluar, dia masih belum ingin satu sekolah dengan Eiko. “Ayo keluar…”
“Hikaru, apakah kamu kenal dengan Eiko?” tanya Pak Jara.
“Hah?” ia kebingungan.
“Ya, kita tinggal satu rumah.” Eiko justru menjelaskan dengan semangat dan dengan senyum berseri.
“Waw… keren, apakah kalian kembar?” Daren ikut berkomentar.
“Bukan begitu…” Hikaru belum siap harus menjelaskan apa pada guru dan teman-temannya.
“Dasar sok cantik, pake dikuncir segala, menyebalkan,” Naomi ikut mencemooh.
“Maksudmu sok pamer kecantikan?” tambah Amanda, “Kita tidak boleh membiarkannya!”
“Apakah kalian sepupu?” tanya guru lagi.
“Oh iya, kita dari keluarga jauh, terjadi sesuatu di dalam keluargaku.” Jawab Hikaru dengan mengiyakan dugaan Pak Jara.
“Woooo…” seisi kelas mensoraki halus.
“Eiko, maju ke depan, perkenalkan dirimu dulu.”
Eiko pun maju dengan percaya diri.
“Namaku Eiko Bukita Raya, aku tinggal bersama Hikaru, kalau kalian datang ke toko seblak Hanan, aku akan kasih kalian bonus topping paling enak,” ia memperkenalkan diri dengan sangat ceria.
“Tapi, buat kamu…” ia menjeda dan menunjuk Ikota dengan tatapan tegas, “Kamu jangan coba-coba datang ke toko, karena kami berhak menolak kedatangan mu!”
“Wooo…” semua bersorak lagi.
Berbeda dengan Hikaru yang mengucek rambutnya, masalahnya saja belum selesai, sekarang akan ditambah masalah baru dengan datangnya Eiko.
“Ya tuhan…”
“Seblak? Wah… jajanan ini memang sedang viral sekarang, dan saya termasuk penggemar berat seblak,” ucap Jara memberi apresiasi perkenalan Eiko.
“Kalau begitu kamu silahkan duduk di…” Pak Jara mencari kursi yang masih kosong, tepat disamping Bilal.
“Bolehkah aku duduk disamping Hikaru?”
“Tapi dia sudah ada teman sebangkunya…”
Yuka, teman duduk Hikaru menunduk, antara senang dan tidak, penderitaannya akan berakhir karena ada Eiko, ia tidak akan dibully lagi oleh Ikota dan gengnya.
Ikota memberikan isyarat untuk pindah pada Yuka. tanpa menunggu apa-apa, Yuka langsung berdiri dan pindah di samping Bilal.
“Ingat! Akan ada orientasi…” bisik Ikota di belakang Hikaru.
Hikaru semakin frustasi, ia mengacak rambutnya, tidak menyambut kedatangan Eiko yang kini telah duduk manis di sampingnya.
Sesaat kelas lengang, Hikaru keluar, meninggalkan Eiko, biarkan saja dia mandiri.
Eiko melihat suasana kelas, memperhatikan setiap inci meja yang kini ia miliki.
“Hei…” sapa Amanda, “Lu pasti gak lupa sama gue kan?”
“Tentu saja tidak,” gadis itu membuka tasnya dan mengeluarkan buku pelajaran milik Amanda.
“Hei… kalau tidak salah kamu tidak boleh mengerjakan PR mu oleh orang lain.” Joshua yang berada disana sedikit interupsi.
“Kalau bukan dia yang melakukannya, Lu mau ngerjain semua punya gue?” dengan mata melotot dan sewot, Amanda mengultimatum Joshua.
“Apa? Haha…” ia tertawa getir, “Sepertinya kamu memang memilih orang yang tepat.” Joshua mengingkari fakta, dan sedikit bergurau tentang aturan tugas. Joshua menyukai Amanda, hanya saja ia tidak berani karena Amanda termasuk orang yang ditakuti di kelas ini.
“Hai… payung…” Eiko melihat bilal yang ternyata ada di kelasnya. Bilal tersenyum mendapatkan panggilan spesial dari Eiko.
Eiko mendekati Bilal dan bersalaman. Amana tidak menyangka, Eiko juga mengenal Bilal.
“Ini anak cari mati apa?” namun tidak dihiraukan sama sekali.
“Aku tak menyangka kita akan satu kelas, itu berarti kita benar-benar akan sering bertemu.” Ucap Eiko, senyumnya tidak pernah luntur.
“Iya betul,” dengan senyum yang sangat mahal, Bilal membalas salaman Eiko.
“Ini benar-benar seperti dalam drama, yang awalnya kita hanya bertemu di luar dan tiba-tiba kita satu sekolah dan satu kelas, keren banget,” tambah Eiko.
Hari pertama sekolah Eiko mendapatkan pelajaran olahraga. Bersama dengan yang lain ia mengganti pakaian, pakaian yang ia sukai sebelumnya milik Hikaru, akhirnya ia pun memilikinya.
Pada saat akan memakai sepatu, tiba-tiba Naomi mendang sepatunya, tidak ada perlawanan dari Eiko, ia mengambil begitu saja, namun sepatu sebelahnya lagi Amanda yang tending.
“Sepertinya hari ini akan sangat menyenangkan,” ucap Amanda, entah itu bentuk ajakan kepada Eiko, atau bentuk ancaman.
“Betul, mari kita bersenang-senang hari ini Eiko,” tambah Naomi, lalu meninggalkan Eiko yang masih duduk hendak memakai sepatunya.
“Ada apa dengan dua cewek itu? Gak jelas banget,” gerutunya.
Dari jauh Hikaru melihat kejadian tersebut, “Hari-hari akan sangat berat untuk Eiko.” lirihnya dengan membuang napas cukup kasar.
Mereka berkumpul di lapangan basket, terbagi dua kelompok antara laki-laki dan perempuan. saling melempar bola sebagai bentuk latihan passing atas, dan cara mendrible. Semua siswa mendapatkan bola lemparan minimal satu kali.
Kali ini bola di tangan Eiko. malaikat yang baru dengan permainan ini, bukanya melempar pada teman yang lain malah memainkannya sendiri, tak ayal membuat orang lain kesal padanya sebagai murid baru.
“Woy…” Amanda mengintrupsi kesenangan Eiko. ekspresinya berubah, Eiko melempar bolanya pada Amanda dengan cemberut.
Amanda melempar lagi bola pada yang lain, namun keanehan mulai terjadi, tiba-tiba seorang siswi menyenggol Eiko dengan keras, pura-pura akan mengambil bola dari Amanda, sampai Eiko terjatuh.
Bukan ditolong, Eiko justru malah dihujai bola, beberapa kali para siswi ini melemparkan bola ke arah Eiko. Namun malaikat kecil itu tidak melawan, ia hanya melindungi kepalanya dengan tangan, sampai ia tidak tahan lagi. Sampai akhirnya pada lemparan bola terakhir terkena hidung dan berdarah.
“Hidungnya berdarah!” ucap salah satu siswa.
“Gue gak peduli.” Naomi mulai berancang-ancang akan melempar bola kepada Eiko.
“Satu, dua, siap Lu Eiko…”
Buk…
Lemparannya meleset. Seseorang menghadang bola dengan punggungnya, melindung Eiko yang tengan mengurus darahnya.
“Hikaru…” lirih Eiko.
Pemuda tampan itu berbalik badan, menatap Naomi dengan tajam.
“Hikaru… aku, aku… tidak bermaksud untuk…” Naomi tidak bisa menjelaskan apa-apa.
Hikaru menyeret Eiko keluar lapangan, ia pun tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari Naomi, ini jelas bully yang dilakukan pada Eiko.
“Hei… kalian mau kemana? Mau pamer cinta kalian ke orang satu kelas?” teriak Ikota meledek.
Hikaru kesal, membawa dan menceramahi Eiko.
“Apa kamu bodoh? Kamu gak ngerti kalau kamu sedang dikerjain sama mereka? Mereka gak mau berteman sama kamu, kamu itu orang baru, apa kamu tidak melihat kejadian seperti di film-film? Kamu sedang di bully, sadar gak sih kamu? Dasar bodoh.”
“Membully? Mengerjai? Aku? Kenapa?” pertanyaan polos itu semakin membuat Hikaru kesal.
“Kalau sakit, bilang sakit, dan kamu harus berhenti tersenyum kepada semua orang,” tambah Hikaru sambil memberikan beberapa helai tisu untuk menyumpal darah yang keluar dari hidung gadis polos itu.
“Hidup manusia sepertinya berat sekali, sering kali berdarah seperti ini.”
“Kalau kamu gak bisa ngapa-ngapain, setidaknya jangan terlibat masalah.” Hikaru menggulung tisu dan memasukan ke dua lubang hidung Eiko.
“Hei… apakah harus seperti ini? Aku jadi tidak bisa bernafas. Hah… hah…” ia bernafas dengan mulut, “Bukankah manusia akan mati kalau tidak bisa bernafas?”
“Manusia tidak semudah itu mati.” Timpal Hikaru. “Masa kamu gak ngerti.”
“Hehe… iya…”
“Pak Noru…” lirih Hikaru.
“Kalian berdua sedang apa di sini? Enak-enakan berdua dan bolos di pelajaran saya? Sini kalian, saya akan hukum kalian membereskan perpustakaan selama satu jam”
“Tapi pak… bukan begitu,” bela Hikaru.
“Jangan membantah atau hukuman kamu saya tambah satu jam!”
Hikaru diam, tapi Eiko menyahut.
“Ayo kita kerjakan bersama-sama, pasti akan lebih cepat selesainya,” sahutnya dengan tersenyum.
“Betul jadi saya tambah waktu hukuman kalian menjadi dua jam.”
“Akh semua ini gara-gara kamu.” Gerutu Hikaru.
Kini keduanya terdampar di perpustakaan, mendorong troli berisi buku yang tidak disimpan kembali ke tempat asalnya oleh pembaca. Satu persatu mereka rapikan.
“Gara-gara aku kamu dihukum lagi. Maaf.” Ucap Eiko tulus. Namun Hikaru tak menanggapi, ia masih kesal, hari pertama Eiko sekolah adalah hari terberat untuk dirinya.
Eiko mencari buku yang sesuai dengan isi hatinya. ‘Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah’ ia simpan di rak dan dibaca oleh Hikaru, pemuda itu paham , ia pun mencari buku yang lain untuk membalasnya.
‘Hidup sudah mudah, mengapa dibikin susah’ mengungkapkan isi hati Hikaru yang susah setelah adanya Eiko dalam hidupnya.
Eiko mencari buku yang lain, yang menggambarkan keadaan dirinya berjudul ‘lapar’ dengan senyum mengembang ia menunjukkan pada Hikaru.
Lalu ia mengambil buku yang lain, tentang berbagai resep makanan, ia ingin menyampaikan bahwa ia ingin memakan ini. ‘Makanan Nusantara dengan cita rasa modern’
“Dasar otak udang,” bisik pemuda tersebut, senyumnya tertahan gengsi.
“Kamu tersenyum Karu? Berarti kamu sudah memaafkan aku?” teriaknya.
“Sssttt…” Hikaru menutup mulut Eiko dengan lima jarinya. “Di perpustakaan tidak boleh berisik.”
Eiko mengangguk, seperti sebelumnya, ia tersenyum menampilkan gigi-gigi bersih dan rapi.
“Kalung mu sudah ketemu?” malaikat kecil itu mengalihkan pembahasan. “Belum ketemu ya?”
“Sudah tidak penting lagi.”