Kalung

1626 Words
Pagi yang cerah di lantai dua kamar Hikaru, ia semangat untuk sekolah hari ini. Seperti biasa ia bergaya narsis di depan cermin. “Aku memang keren,” tangannya menunjuk dengan jari seperti pistol. Perasaan ceria itu tidak berlangsung lama sampai ia menyadari ada yang hilang dari dalam dirinya. “Kalung… dimana kalungku?” ia segera memeriksa tas, saku celana, meja belajar, kasur, tong sampah, di kamarnya tidak ada. Ia tidak tahu dimana kalungnya terjatuh, segera ia memakai sepatu dan turun menuju ruangan lain, di ruang tamu pun begitu, ia mencari ke beberapa sudut ruangan, tidak ada hasilnya. Di toko, Hanan dan Eiko sedang mempersiapkan jualan, daun bawang, sayuran, beragam kerupuk ditata oleh Eiko. sedangkan Hikaru sibuk mencari kalungnya, dibawah meja, tong sampah dan tempat-tempat yang sebelumnya ia datangi. Hasilnya sama. Tidak ada. “Kamu nyari apa Karu?” tanya Hanan pelan. “Kalungku hilang, dan aku tidak tahu dimana menyimpannya.” “Sudah nanti nenek belikan lagi yang baru. Sekarang kamu sarapan dulu.” Kalimat Hanan berhasil menghentikan aktivitasnya. “Beli lagi? Tidak bisa, di dunia ini hanya ada satu. Mau beli dimana?” Hikaru berkata dengan sedikit nada tinggi. “Meskipun sama persis, tapi nilai kenangannya sangat berbeda.” “Tapi toh sekarang juga sudah hilang, buat apa dicari, nanti juga kamu lupa.” “Nenek, apakah kalau aku hilang nenek juga akan melupakan aku? Begitu?” “Kenapa kamu bicara seperti itu?” hati Hanan sedikit tersayat dengan perkataan dan nada bicara hikaru yang meninggi. “Nenek pernah bilang, meskipun kita tidak tinggal bersama, yang namanya keluarga tidak boleh dilupakan.” Tambahnya dengan nada semakin tinggi dan semakin menyayat hati Hanan. Hikaru menggebrak salah satu kursi dan pergi keluar. “Itu anak, kenapa malah membentakku? Uhuk…” hanan memegang dadanya kesakitan. “Kalung itu pemberian ibunya, jadi pantas kalau dia panik dan marah,” “Pemberian mamanya?” tanya Eiko polos. “Aduh…” hanan terjatuh sambil memegang dadanya. “Nenek, minum dan istirahat dulu.” Ucap Eiko penuh perhatian. Ia mengambil obat yang biasa Hanan minum. “Apakah sudah baikan nek?” Hanan mengangguk, “iya… nenek sudah bisa melanjutkan pekerjaan sekarang.” “Syukurlah.” Ucapnya, “ Nenek jangan sampai sakit, nanti Hikaru justru malah khawatir sama nenek,” saran Eiko. “Iya , tenang saja, jangan khawatir.” Hanan menjawab dengan penuh senyuman. “Eiko…” panggil Hanan yang melihat Eiko sedang mengerjakan soal-soal di buku Amanda yang harus ia selesaikan. “Iya nek” “Apakah kamu harus menyelesaikannya sekarang juga? Kamu juga harus beres-beres toko, jangan sampai kamu kecapean Eiko.” “Tidak Nek, aku suka mengerjakannya, ‘kan ini harus selesai hari ini,” jawabnya tanpa melihat Hanan dan fokus pada buku yang sedang ia pegang. Satu persatu pilihan di contreng, bahkan diberikan keterangan dan cara menjawabnya, sungguh Eiko sangat pintar, sayang kalau ia tidak bersekolah. “Eiko, apakah kamu juga bisa bantu Hikaru mengerjakan PRnya?” “PR Hikaru? Apakah dia tidak bisa?” “Nenek yakin anak itu sangat pintar, tapi dia terkadang malas belajar.” Hanan terkadang khawatir dengan prestasi Hikaru menurun, karena tabiatnya yang terkadang malas belajar membuat khawatir berlebih di pikiran Hanan, tapi kekhawatirannya sering kali meleset, setiap pembagian raport ia selalu menjadi yang terbaik. Termasuk disekolah sebelumnya. “Oh iya, Eiko, apakah kamu ingin bersekolah? Kalau kamu sekolah, kamu akan mendapatkan teman baru, dan mungkin juga ingatanmu akan cepat pulih juga.” Tawar Hanan. Bukan ia tidak mau mengurus dan menampung Eiko di rumahnya, hanya saja sebagai orang tua ia juga akan khawatir jika anaknya hilang. Dalam pikiran Hanan, pasti orang tua Eiko pun akan seperti itu. “Aku mau sekolah.” Eiko sangat senang ditawari sekolah, itu yang ia inginkan sejak kemarin, hanya Hikaru saja yang selalu menghalangi. Sebelum mendaftarkan diri ke sekolah, Eiko harus pergi ke kantor pencatatan sipil, dengan membawa berkas yang diberikan Keyri sebelumnya, ia sangat percaya diri akan sekolah. “Selamat siang nona, Anda ingin mengurus dokumen-dokumen untuk sekolah ya? Ini saya sudah siap, silahkan ditukar dengan dokumen yang Anda bawa,” seorang laki-laki yang terlihat sudah dewasa menghadang Eiko di pintu masuk, dan langsung bicara tanpa basa-basi tanpa koma dan langsung titik. “Ya… mengapa kamu tahu?” pertanyaan yang sangat tidak salah, mengapa orang ini tahu kalau ia hendak mengurus dokumen dan bahkan ia sendiri juga belum bicara dengan siapapun di sini. “Tempat ini ‘kan memang tempat untuk membuat dokumen,” terangnya sambil menyerahkan amplop coklat dan menunggu ditukar. “Dan satu lagi, banyak hal yang kamu tidak ketahui, namun saya sangat banyak mengetahuinya,” jelasnya dengan nada yang sangat lancar. “Tidak.” Eiko ragu, ia menyembunyikan berkasnya. “Aish… kamu tidak percaya? Lihat ini, nama dalam dokumen ini, Eiko Bukita Raya itu nama kamu kan? Apa kamu mencurigaiku? Hahaha…” ia tertawa padahal tidak ada yang lucu. “Kamu curiga sudah seperti manusia beneran saja, cepat belajar dan tak mudah percaya dengan orang lain.” “Ekh…” Eiko semakin heran. “Benar itu namaku.” “Makanya, sini, tukar dengan dokumen itu.” Dengan polosnya Eiko menukar berkasnya dengan berkas baru. “Disana semua lengkap, dokumen untuk sekolah dan dokumen untuk kamu sendiri, termasuk kartu identitas. Apakah kamu yakin akan sekolah?” “Iya…” jawabnya singkat. “Tapi…” Eiko berpikir sejenak, “Dari mana kamu tahu namaku?” tanyanya sekali lagi. “Sudah, jangan banyak tanya, yang pasti saya lebih banyak tahu daripada kamu, dan kamu selamat belajar di sekolah ya, oh iya, kamu harus waspada dengan laki-laki…” “Lho, kenapa? Kamu juga laki-laki…” “Meskipun aku laki-laki, tapi yang namanya makhluk laki-laki, ia itu seperti anak anjing, guk-guk…” laki-laki itu menirukan suara anak anjing, Eiko tidak mengerti maksudnya apa dan ia memilih keluar dari ruangan tersebut. Tak disangka, di luar gedung Keyri sudah menunggu, dengan semangat Eiko bertemu. “Keyri, kamu melihat ku baru menukar dokumen?” Keyri tersenyum menyambut Eiko. “Hei… baru saja aku bilang jangan sembarangan bertemu laki-laki,” “Hah…” Eiko dan Keyri keheranan. Ketiganya saling berpandangan canggung. “Aduh,” ia menepuk jidat, lupa kalau ia bisa melihat Keyri dan harus pura-pura tidak melihat. “Kamu jangan bicara sendiri, yo cepat pergi ke sekolah.” Ia mengalihkan pandangannya, kikuk, bingung apa yang harus ia lakukan dan akhirnya ia memilih pergi. Dia adalah seorang malaikat yang berubah menjadi manusia, makanya bisa melihat Keyri. “Kamu sepertinya suka dengan urusan manusia,” keduanya kini duduk dibangku taman. Keyri memulai pembicaraan. “Aku merasa manusia lebih misterius dari apa yang aku kira,” ungkap Eiko. “Tapi aku melihat kamu tidak ada masalah hidup dengan manusia.” “Itu karena bantuan kamu mengurus dokumen-dokumen ku sebelumnya, jadi sejauh ini aku baik-baik saja.” “Kalau kamu merasa baik, sebaiknya kamu jadi manusia saja.” “Tidak mungkin. Tapi memang sebelum menemukan caranya, tidak ada pilihan lain selain aku menjadi manusia seperti ini.” “Jadi kamu ingin kembali?” Keyri bertanya serius. “Apa maksudmu?” “Kamu bisa melihatku jelas?” Keyri semakin serius. “Apa sih maksudnya? Apa itu berarti suatu hari nanti aku tidak bisa melihatmu lagi?” “Manusia tidak bisa melihat kita itu wajar, karena kita memang berbeda, kita malaikat, dan tugas kita jelas, bukan mengurusi masalah-masalah yang dimiliki oleh manusia.” “Dan aku bukanlah manusia, Key… tapi karena aku menyelamatkan manusia, makanya aku jadi disini.” “Tidak ada yang tahu apakah kamu menyelamatkan manusia atau kamu memang ingin jadi manusia, yang tahu itu hanya diri kamu sendiri.” Keyri bicara dengan sedikit emosional. “Aku juga tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiranmu.” Keyri berdiri dan meninggalkan Eiko yang kini menjadi murung. *** Sementara itu di sekolah, Hikaru langsung mencari kalungnya ke tempat yang kemarin ia datangi, termasuk kolam renang, entah mengapa hatinya tertinggal di sana, namun ia enggan untuk menenggelamkan dirinya ke air. Ia memeriksa loker, wastafel, kamar mandi dan tempat sampah, belum juga ditemukan. Ia berlari ke kelas, berharap ada di loker kelas, namun hasilnya juga sama, tidak ada. Ia hampir putus asa. Duduk lemas, dan menyimpan kepalanya di atas meja. “s**l. Dimana kalung itu.” Gerutunya. Tenaganya tiba-tiba menghilang, seluruh tubuhnya lemah, sebagian hidupnya pergi bersama dengan kalung itu. Ia menyimpan kepalanya di atas meja, putus asa, semua bayangan tentang kalung itu seketika berkelebat indah namun sangat menyakitkan. Para wanita yang menyukainya menatap heran, Hikaru yang ceria dan penghibur begitu murung hari ini. Brak… suara gebrakan kecil bahkan tak mengagetkan Hikaru dari pikirannya tentang kalung. Ikota menyimpan sebuah botol minuman tepat di depan muka Hikaru. Namun pemuda ini sedikit tidak berminat dan membiarkan apa yang akan Ikota lakukan. “Kemarin seharusnya gue nyelametin Lu, tapi sayang sekali kelasnya akan segera dimulai, sebagai permintaan maaf, gue akan belanja dan traktir teman-teman satu kelas di kedai nenek Lu.” “Keren banget, sepertinya Lu sudah tahu bagaimana kehidupan gue, termasuk toko milik nenek.” Hikaru memuji keakuratan informasi yang dimiliki Ikota. Tak ayal orang yang dipuji tersenyum dan merasa menang. “Tapi aku tidak yakin seblaknya masih ada atau tidak buat Lu.” Ia berkata lirih dengan tatapan kosong. Hikaru benar-benar malas meladeni Ikota hari ini. Ikota menggeram, ia merasa dipermainkan, tanpa ragu ia sedikit menarik kerah seragam Hikaru. “Kalau begitu gue beliin lo permen karet, mau?” Hikaru mengikuti alur permainan Ikota, ia berdiri dan mengambil botol minuman yang sebelumnya diberikan Ikota. Mengocoknya dan ia buka tepat di wajah Ikota, sehingga minuman bersoda itu berhasil menyembur di muka Ikota. “Nih minum.” Hikaru kesal, dan sangat tidak berminat. Ikota langsung melepaskan cengkramannya. Semua yang ada di ruangan tersebut mengalihkan matanya, selama ini tidak pernah ada yang melawan Ikota dengan g**g nya. “Sekali lagi kamu melakukan ini, aku akan melakukan yang lebih dari ini. Ngerti!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD