Murid Baru

1379 Words
Eiko berseri-seri menampilkan giginya yang rapi dan satu gingsul yang menambah manis dirinya. Kakinya menggantung dan menari-nari, menendang-nendang angin. Membayangkan moment indah ia bersama Hikaru beberapa waktu yang lalu. Slab… Keyri datang. “Keyri…” panggil Eiko, “Kenapa kamu baru datang? Aku sudah lama menunggumu,” raut muka yang sebelumnya berseri-seri kini berubah merajuk. “Tapi tidak terjadi apa-apakan?” tanya Keyri menunjukkan sisi kekhawatirannya dengan nada datar. “Sedikit aneh, kekuatanku masih ada, namun tidak terlalu kuat. Dan bisa kupergunakan sewaktu-waktu,” malaikat kecil itu dengan lancar menerangkan apa yang selama ia menjadi manusia terjadi. “Apa yang kamu rasakan setelah menggunakannya? Apakah terjadi sesuatu?” Eiko berpikir sejenak, “Emm… secara fisik aku merasa lemah dan sangat mengantuk. Lalu setelah istirahat aku bisa berdiri lagi.” Keyri mengangguk saja, namun seperti ada sesuatu yang ia tahu, dan tak bisa ia katakana kepada Eiko. “Untuk sementara, jangan gunakan kekuatanmu untuk menolong manusia,” saran Keyri, Eiko hanya mengangguk, setuju saja apa yang dikatakan rekan sesama malaikat. “Ini…” Keyri menyerahkan satu bundel amplop coklat pada Eiko. “Apa ini?” ia membuka isinya, berupa berkas-berkas yang ia tidak fahami fungsinya untuk apa. “Sebagai manusia, kamu membutuhkan berbagai dokumen seperti ini, kartu identitas dan lain-lain. Dan jika ada ini sementara hidupmu akan aman.” “Oh… begitu…” ia mengangguk-ngangguk. “Tapi mengapa banyak sekali?” Keyri tidak menjawab, ia pun tidak mengerti dengan itu. “Bagaimana dengan anak itu?” Keyri malah balik mempertanyakan tentang Hikaru. “Jangan tanya dia bagaimana, setelah aku menyelamatkannya dan tinggal dengannya, hampir setiap hari aku diolok-olok sama dia, sangat menyebalkan sekali. Tapi kalau aku tahu tentangnya, mungkin aku bisa mencari tahu mengapa aku bisa menjadi seorang manusia,” terangnya. “Kalau kamu sudah menemukan jawabannya, kasih tahu aku.” Keyri tidak berminat melanjutkan pertanyaannya, seperti ada hawa panas dalam dadanya ketika mendengarkan cerita tentang Hikaru. Bagaimana mungkin ia merasakan hal seperti itu padahal ia adalah seorang malaikat? Ia mempertanyakan hal itu dalam hatinya. “Aku pergi dulu,” dan ia memilih pergi, tidak ingin rasa panas dalam hatinya semakin menjadi-jadi. “Kamu… kamu pergi lagi?” tanya Eiko tidak ingin ditinggalkan. “Aku tidak punya waktu untuk mengobrol dengan manusia,” jawabnya ketus. Keyri pun menghilang. “Apakah aku tidak salah dengar? Dia memanggil aku manusia?” pikirnya lama sekali. “Sudahlah, memang benar, saat ini aku adalah seorang manusia,” ia membenarkan perkataan Keyri, lalu pergi dan masuk ke dalam rumah. Terlihat Hanan sedang melakukan pekerjaan rumah, menyetrika beberapa pakaian termasuk seragam yang baru saja dibeli. “Apakah seragamnya harus disetrika Nek?” dengan polos, Eiko bertanya. “Nenek ingin Hikaru sekolah dengan baik, tampil rapi dan disukai banyak teman-teman dan gurunya.” Hanan bicara dengan lemah lembut, beberapa kali di bolak-balik seragam baru cucu kesayangannya. “Begitu…” tanpa berpikir panjang, Eiko kembali balik kanan meninggalkan Hanan. “Mau ke mana anak itu?” Hanan melihat tingkah Eiko yang cepat sekali pergerakannya, dan tiba-tiba sudah muncul lagi dengan membawa satu stel seragamnya. “Kamu beli seragam juga? Apa kamu mau sekolah juga?” Hanan mengerutkan dahinya, melihat seragam cantik miliki Eiko. “Kenapa Hikaru sekolah?” pertanyaan polos itu keluar lagi. “Kalau kamu mau sekolah, pasti ada jalannya nanti,” baik Hanan maupun Eiko, tidak ada yang menjawab pertanyaan satu sama lain. “Oh iya Eiko, apakah kamu suka dengan Hikaru?” tanya Hanan, tidak bermaksud apa-apa. “Hah? Suka? E… bukan begitu…” ia menjeda, ia teringat bahwa ia bukan manusia tidak mungkin menyukai Hikaru. “Bisa-bisa nenek tidak percaya kalau aku katakan aku bukan manusia,” bisiknya dalam hati. “Iya… aku suka,” jawabnya secara spontan, dan dengan senyum terbaiknya. “Wah… begitu rupanya,” tiba-tiba Hikaru ikut bergabung, mendengar percakapan antara neneknya dengan Eiko sangat menarik minatnya duduk melingkar disana. “Kamu laki-laki beruntung Karu…” ucap Hanan. “Tapi Nek, aku tidak segampang itu, tidak mudah untuk aku percaya dan menyukainya juga,” panjang lebar Hikaru membalas pernyataan Hanan. “Hei… Eiko, yang barusan itu pengakuan? Maaf ya aku harus bilang tidak bisa, memangnya kamu anggap aku apa?” tolak Hikaru. Mata Eiko melotot kesal, selalu saja ia diledeknya. “Dasar psiko.” *** Keesokan harinya, Hikaru sudah siap dengan seragam baru dan berangkat ke sekolah barunya. Hanan dan Eiko sudah menunggu di meja makan, menyambut murid baru dengan semangat baru. “Pagi sekali kamu sudah siap Karu…” sambut sang nenek. “Ia, aku tidak ingin terlambat di hari pertama sekolah,” ia melihat jam dinding, masih ada satu jam untuk melakukan sarapan dan berjalan santai menuju sekolah. “Tapi jam itu aku pukul burungnya, soalnya sejak tadi berisik dan tidak berhenti berbunyi, aku jadi kesal,” seloroh Eiko dengan kelakuan bodohnya. “Apa?” Hanan dan Hikaru melotot dan berucap bersamaan. Tak ayal membuat Hikaru tidak melanjutkan sarapannya dan langsung berlari keluar, menarik pedal gas dan melaju kencang menuju sekolah barunya. Sesampainya di sekolah, terdengar seorang guru sedang menghitung dan memberikan instruksi naik turun. “Aish,… aku beneran terlambat,” gerutu Hikaru melihat murid-murid yang juga kesiangan sedang di hukum. “Oke, aku harus bersikap biasa, huft…” ia menghembuskan napasnya, menguasai diri lalu balik kanan melangkah yakin menuju gerbang utama. “Selamat pagi pak, perkenalkan saya murid baru,” dengan sopan ia menyalami Noru, guru olahraga sekaligus guru piket yang hari ini menyambutnya. “Oh, kamu murid baru ya… sini-sini,” panggilnya sambil merangkul ramah. “Tapi kamu kesiangan, harus ikut dihukum dengan yang lain.” Bisik noru. Hikaru menghentakkan kakinya kesal, ia langsung ikut berposisi push up dengan teman-teman barunya yang lain, termasuk salah satunya Joshua, teman karib Hikaru. “Hai…” sapanya, antara meledek dan menyambut. Hikaru tak membalas senyuman Joshua, ia kesal mengapa hari pertamanya dibuka dengan hukuman. “Oke. Cukup. Jangan diulang lagi, apalagi kamu sebagai murid baru, jangan memalukan di hari pertama sudah datang terlambat. Semuanya masuk kelas!” instruksi Noru, tanpa dibantah semua bubar dengan segera. Berbeda dengan Hikaru yang belum tahu kelasnya dimana, ia melaju menuju ruang guru dan memastikan diri sebagai murid baru. “Siapa namanya tadi?” tanya guru matematika, Jara. “Hikaru Pak.” *** Suasana kelas sangat riuh, mengobrol dengan teman, mengerjakan tugas yang belum tuntas, bermake up, dan yang paling tidak aneh adalah memotret Bilal. Dengan santai dan posisi coolnya, ia tidak menolak dan tidak bergerak sama sekali tatkala para perempuan memotretnya. Dia bukan laki-laki yang sok cool dan jual mahal, namun pribadinya yang memang dingin dan tidak ingin berurusan tidak penting dengan orang-orang, terutama teman-teman satu kelasnya. tidak lupa, headphone putih di telinganya tidak pernah ia lepaskan, entah itu berbunyi music atau memang hanya memang ingin menutup telinga dari orang-orang saja. Beberapa orang masuk dengan seragam tidak beraturan, mereka dikenal sebagai trio preman di kelas ini. Ketika ketiga orang ini masuk, maka kelas akan hening sejenak, lalu riuh kembali. Tak lama setelah itu, guru matematika dengan seorang murid baru datang. Tentu saja itu adalah Hikaru. Murid perempuan langsung mesem-mesem. Bilal segera melepas headphonenya. Dan murid yang duduknya sendiri, menegang. “Ayo anak-anak, duduk yang rapi, hari ini kalian memiliki teman baru,” buka Pak Jara, sambil merangkul Hikaru yang terus tersenyum sejak masuk ke dalam kelas. “Perkenalkan dirimu.” “Hai semuanya…” Hikaru melambaikan tangan, “Aku ingin lebih keren dari Angga Yunanda, Iqbal Ramadhan, Refal Hady, Arbani Yasiz, dan Umay. Namaku Hikaru. Nama Jepang namun lahir di nusantara, ibuku Jepang dan ayahku asli nusantara. Nama lengkap ku adalah Hikaru Gandangi Dewata, nama panjangku adalah salah satu nama gunung di Nusantara, silahkan cari dimana itu, terimakasih, semoga kitab isa berteman dengan baik.” Tutupnya. Semua bertepuk tangan menyambut sang pemuda penuh pesona ini. “Ya Tuhan, terimakasih Engkau telah hadirkan kembali pemuda ganteng di kelas ini,” ucap Naomi, perempuan yang dianggap paling cantik di kelas ini. “Hei,,, kamu jangan norak deh,” Amanda menarik lengan Naomi, cukup memalukan temannya berbuat seperti itu. “Tunjukkan kelebihanmu!” Salah satu murid dari geng preman yaitu Daren memprovokasi Hikaru untuk menunjukkan bakatnya. Lalu diikuti oleh yang lainnya. “Tunjukkan… Tunjukkan… Tunjukkan…” semua berteriak seirama. “Ayo, kamu bisa apa?” Ikota ikut memprovokasi, ia adalah ketua geng preman di kelas tersebut. Hikaru termenung, memikirkan apa yang akan ia tunjukkan pada teman-teman barunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD