Bully

1111 Words
“Ku bertanya, tanpa ada yang tahu air mataku berlinang. Ku berlari, tanpa ada yang tahu hatiku tersakiti. Karena kenangan masa lalu menyesakkan hati. Karena harapan terlalu melenakan jiwa. Namun… Saat cahaya mulai bersinar di langit. Cinta lamaku yang kupendam dalam, Mulai kuteriakan kembali, Mulai berharap dia datang dan tak pergi lagi. Menetap dengan tenang, Memberikan harapan, untuk aku menghidupkan kembali jiwa yang mati.” Satu bait puisi langsung tercipta mengalir begitu saja dari mulut Hikaru, membuat para wanita terlena dan membuat para lelaki membara. Panas, saingan baru telah datang. Sejak kalimat pertama diucapkan, Bilal menutup telinga dengan headphone, dan fokus membuka buku pelajaran. “Hikaru Gandagi Dewata, hidung mancung, perut sixpack, kulit putih dan sangat ganteng adalah suami masa depanku,” Naomi membuat cuitan dalam grup kelas khusus perempuan. “Kalian dilarang ngiler dan tebar pesona kepadanya.” Tambahnya satu cuitan lagi. “Kalau tidak! Mati kalian.” Beberapa orang membaca dan mengabaikan cuitannya, baru saja datang Hikaru, masa sudah diperebutkan. Ikota, ketua geng preman memasang hati was-was, takut perempuan incarannya juga menyukai Hikaru. “Baik. Keren sekali kamu berpuisi seperti itu, tampaknya kamu sangat cocok menjadi anak senja Hikaru,” puji sang wali kelas. “Terimakasih pak.” “Baik, kamu silahkan duduk di… bersama….” Pak Jara mencari tempat duduk kosong. “Nah di sana, dengan Yuka.” “Baik.” Ia melenggan penuh percaya diri. Joshua mengangkat tangannya untuk melakukan ‘tos’ dengan sahabat karibnya. Dan dibalas senang oleh Hikaru. “Hai… aku Hikaru.” Ia menjulurkan tangan kepada Yuka, namun tidak dibalas, ia seperti orang yang ketakutan mendapatkan teman sebangku. “Baiklah kalau tidak ingin bersalaman, semoga kita berteman dengan baik.” Hikaru menepuk Pundak Yuka yang tertunduk. Untuk sementara semua fokus pada pelajaran yang disampaikan oleh Pak Jara sampai pada bel tanda istirahat berbunyi. Naomi berdiri dengan segera, mendekati Hikaru. “Apakah ini benar? Atau ini hanya mimpi?” ia bertanya pada diri sendiri, berdiri di sisi kiri Hikaru yang tengah mencatat apa yang ada dalam papan tulis. “Ya tuhan, terimakasih telah mendatangkan dia kepadaku,” ucapnya lagi, ia tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Karu. Lain lagi dengan Yura, perempuan yang tidak kalah cantik dengan Naomi, ia mengedipkan sebelah matanya dan menggoda Hikaru. Tak ayal membuat pemuda ini merinding, mengapa ada dua perempuan seperti ini lagi di kelas yang ia huni, semoga tidak lebih mengerikan dengan apa yang dilakukan Arika. Yura keluar, Ikota yang melihat apa yang dilakukan oleh Yura meradang. Ia menggebrak meja dan langsung keluar mengikuti Yura. Bukan untuk melabrak Yura, tapi ada hal lain yang harus mereka lakukan. Di samping Ikota, sang sahabat, Namato paham apa yang dimaksudkan temannya. Namato ikut berdiri, merangkul Yuka yang sudah bergetar sejak kedatangan Hikaru ke kelas ini. Di dalam kelas itu terdapat dua pasang meja kosong, meja di sebelah dirinya, dan satu lagi di sebelah Bilal. Ia yakin guru tidak akan menunjukkan tempat duduk di samping Bilal, selama ini tidak ada yang berteman dengan laki-laki dingin ini. Dan benar saja, Pak Jara mempersilakan Hikaru untuk duduk disampingnya, itu berarti akan ada kejutan besar untuk dirinya hari ini. “Hai Yuka…” Namato merangkul dirinya, “Ayo ikutan gue ke toilet!” bisiknya dengan lembut tapi sangat menusuk sampai ke ulu hati. Yuka diam saja, dan cenderung menurut pada Namato. “Ada apa?” tanya Hikaru pada Joshua yang duduk tepat di depannya setelah Yuka dan Namato pergi. “Tradisi disekolah ini, kalau ada murid baru dan duduk di sampingnya, maka teman sebangkunya akan di bully.” Joshua sedikit menerangkan. “Benarkah?” Hikaru tak menyangka, ternyata masih banyak sekolah dengan tradisi bully yang kuat. Apakah para guru tahu apa yang dilakukan oleh para muridnya ini? —- Di toilet Yuka diseret dan dimasukan ke salah satu bilik, lalu ia menguncinya dari dalam. Ia sangat ketakutan, dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Di tempat itu, tidak hanya mereka bertiga saja, beberapa murid berlalu Lalang keluar masuk menunaikan kewajibannya, namun tidak ada satupun yang berani menghentikan apa yang dilakukan geng preman saat itu juga. “Setelah sekian lama Lo gak kita apa-apain Yuka, akhirnya lo dapat teman sebangku, dan ini waktunya lo buat bersenang-senang,” ucap Namato sedikit berteriak tepat di depan pintu bilik Yuka. Ikota baru saja datang, ia tidak tahu posisi Yuka di pintu ke berapa. Namun dengan melihat Namato berdiri di depan pintu saja sudah kentara, bahwa Yuka berada di dalam sana. “Yuka dengerin gue!” Ikota memulai ceramahnya, “Kalau Lo ketahuan posisinya dimana, maka hari ini akan menjadi hari yang gak akan pernah lo lupain seumur hidup lo!” Yuka semakin bergetar, ia naik ke atas kloset duduk, untuk menyembunyikan kakinya yang terlihat dari bawah pintu. “Wah mantap sekali…” Daren ikut mendramatisir suasana menjadi lebih menakutkan. Brak… Lalu satu persatu pintu ditendang Ikota, pintu pertama kosong, tidak di kunci. “Wah lo gak ada disini!” Brak… lalu pintu kedua, sama seperti yang pertama. “Kosong juga…” Brak… Pintu ketiga tertahan, tidak terbuka, alias terkunci, dan pintu tersebut di dalamnya terdapat Yuka yang ketakutan. “Dimana Lo pengecut!” hina Ikota. “Setidaknya lu bersuara seperti kucing ketakutan,” Namato dan Daren tertawa mendengar cemoohan Ikota. Yuka menutup mulutnya ketakutan, beberapa kali memejamkan matanya, ia tidak mau nafasnya saja terdengar oleh Ikota. “Yuka dengerin gue!” Ikota melanjutkan ancamannya, “Kalau lu keluar dengan sukarela, gue bakalan ambil duit lo hari ini,” ancaman pertama masih standar, tentang malak memalak. “Kalau lo gue nemu lu di luar sana, gue bakalan ambil uang dan nyawa lu!,” kini ancamannya mulai menakutkan. Daren menumpahkan air di bawah pintu Yuka, memberi tahu kalau Ikota sedang berada tepat di depan pintu dan mengeluarkan air seninya, padahal itu hanya air biasa. Yuka semakin tertekan, apa yang harus ia lakukan? Brak… Lagi. Lagi-lagi Ikota menendang pintu. “Lu gak mau keluar?” Ikota mulai kesal. “Woy… keluar…!” “Kalau lu injak air seni gue, maka gue akan biarkan lu keluar dan ke kelas dengan aman.” Tawar Ikota. Mungkinkah Yuka harus menyerah? Dan apakah Ikota akan menepati janjinya? Jika ia menginjak dan keluar, ia aka naman, tidak akan di palak, dan tidak akan di tonjok? Yuka bergelut dengan hatinya. Perlahan Yuka menurunkan kakinya, tangannya ragu mendekati engsel pintu hendak membuka kunci. Trek… Satu kunci pertama terbuka, tinggal satu lagi. Ikota yang mendengar suara kunci terbuka sedikit menampilkan senyum kemenangan. Trek… Suara kunci kedua telah terbuka, yang artinya kini pintu sudah tidak terkunci lagi, dan Ikota bersiap untuk masuk. Namun nahas, bertepatan dengan itu seseorang merangsak masuk tanpa disangka-sangka, lalu mengunci kembali pedal pintu sebanyak dua kali. Trek… trek… “Ya ampun, gue udah gak kuat pengen boker…”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD