Ranu mencengkeram pinggul Ina, tubuhnya panas, napasnya tajam, tapi matanya tak pernah lepas dari wajah perempuan yang usianya dua kali lipat dari usianya. *** Pagi itu, udara terasa berbeda. Masih dingin, masih berkabut. Tapi bukan kabut murung seperti biasanya. Ada sesuatu yang pelan-pelan berubah di dalam hati Ina. Seperti udara setelah hujan. Bersih, tapi belum sepenuhnya tenang. Ia duduk di meja makan dengan secangkir kopi yang sudah dingin sejak sepuluh menit lalu. Rambutnya masih terurai, pipinya belum tersentuh bedak. Matanya sesekali melirik pintu depan. Entah mengapa, ia merasa Ranu akan datang, setelah pagi buta ia berpamitan untuk keluar. Dan firasatnya benar. Pukul delapan tepat, bel berbunyi. Sekali. Tidak tergesa. Tapi cukup pasti. Ina membuka pintu, dan di hadapanny

