"Lo tidur beneran kayak orang mati!" Dimas mengerjapkan matanya berkali-kali. Lalu, mengusap-usapkan kedua matanya itu. Terlihat Ardi sudah duduk di hadapannya. Dimas lalu menguap dengan tangan menutupi mulut. "Jam berapa nih?" "Dua belas siang," jawab Ardi sekenanya. Jari-jarinya mulai mengetikkan pesan singkat yang ia kirim untuk Joseph—Papanya Dimas, bahwa anaknya memang sedang bersama dengan dirinya saat ini. Mendengar itu, Dimas mengubah posisinya menjadi duduk. Tangannya bekerja dengan cepat untuk memijat pelipisnya. Kepalanya masih terasa sakit. "Lo malem-malem mabok terus malah ke sini?" Suara Ardi benar-benar menambah pusing di kepala laki-laki itu. Dimas mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Ardi. "Lo gak inget kalo lo lagi kayak gue, lo datengnya ke rumah

