Bab 20 * "Selamat. Gue dateng, Moo." Keduanya berbalik, Moody mendongak. Hati dan matanya beriak. Ingin rasanya dia berteriak menyerukan nama cowok di depannya itu. Sahabat rasa pacarnya. Aditya Abdinegara. "M-makasih mau dateng, Dit." Suaranya parau tercekat efek kejut akibat kehadiran sosok itu. Moody berdeham, menetralisir perasaannya. "Tiga serangkai aja dateng, masa gue nggak sih?" terdengar terlalu biasa di rungu Moody. Moody cukup mengangguk. "Hhh... Lega gue, lo udah sampe sini, di titik yang lo pengen. Emh, cuma maaf ya gue nggak bawa kado." Ah, andai Moody teliti dan peka, dia bisa merasakan getaran yang sangat kentara di nada suaranya. Atau Moody bisa melihat gurat kecewa di kedua maniknya. Namun Adit pikir, untuk apa gadis itu masih memelihara segala rasa perduli pa

