7. Pikiran Kotor Hestia

1829 Words
Saat Raven masuk ke kantornya, dia merasa ada yang beda dengan senyuman yang Hestia berikan. Awalnya baik-baik saaja tapi tiba-tiba Raven tidakn nyaman. “Kenapa dia menatapku seperti itu, apa ada sesuatu diwajahku?” Raven berbalik, mengambil sapu tangan kemudian menyekanya, dia pikir Hestia tengah menahan tawa karena ada sisa makanan tertinggal di bibirnya. Dia buru-buru kembali, jadi tidak memperhatikan apapun lagi. Mengingat Glen, temannya yang bodoh itu pasti tidak akan mengatakan apapun jika sesuatu di wajahnya, malah itu membuat Glen menyukainya, bagi Glen, menggodanya adalah sesuatu yang harus dilakukan. Raven kembali sebab temannya tidak kembali karena sedang menggoda seseorang. Melihat saputangannya tidak ada kotoran, jadi Raven melihat ke arah Hestia, wanita itu masih saja tersenyum. “Ada apa? Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanya Raven membuat senyum Hestia semakin melebar. Raven merinding melihat Hestia tersenyum seperti itu. “Tidak ada apa-apa, Pak. Selamat datang kembali!” jawab Hestia dengan gembira sambil mengambil iPad di atas meja. “Rapat dewan akan mulai 10 menit lagi. Ruangannya sudah siap, semua orang sudah hadir. Saya akan memberitahu mereka jika Anda sudah datang.” Raven mengangguk, kemudian masuk ke ruangannya untuk mengambil laptop tapi dia tidak menemukannya. “Anda mencari laptop Anda, Pak? Saya sudah membawahnya ke ruang rapat. Semua yang Anda butuhkan sudah siap. Bahkan laporan-laporannya juga sudah ada,” jelas Hestia membuat Raven terkejut. “Hanya Anda yang belum ada, Pak,” tambah Hestia disertai sedikit candaan. “Baiklah. Ayo pergi!” Sebelum meninggalkan kantor, mata Raven tertuju pada dokumen yang menumpuk di atas meja. “Dokumen apa itu?” tunjuk Raven. Hestia menoleh, melihat ke arah jari Raven. “Oh, itu dokumen yang harus Anda tandatangani, Pak. Saya sudah memberitahu departemen-departemen mereka bisa mendapatkan informasi terbaru setelah Anda menandatanginya. Saya sedang memilah yang mendesak yang harus Anda tandatangani dan mana yang masih perlu ditinjau.” Raven mengangguk kemudian pergi ke ruang rapat di mana semua orang tengah menunggunya seperti yang dikatakan Hestia, semuanya telah siap. Dia mengakui, jika dia terkesan dengan cara kerja Hestia. Hestia hanya mencoba untuk pamer. Kita lihat saja apa dia bisa konsisten. *** "Dia gay," ucap Hestia pada Danica, lalu meletakkan minuman di nampan. Mata Danica membelalak. "Apa? Bosmu gay?!" Danica bertanya, tidak percaya. Danica salah satu teman sekamar Hestia. Dia bekerja sebagai dealer disalah satu kasino pada malam hari. Saat siang, dia bekerja di tempat olahraga. Pacar Danica manajer tempat olahraga ini, dan mereka membutuhkan beberapa pelayan panggilan baru-baru ini. Hestiayang tengah mencari pekerjaan sampingan, pun menerima tawaran itu. Dia telah bekerja seminggu di tempat olahraga. Setelah pulang dari perusahaan dia beristirahat sejenak sebelum ke tempat olahraga bersama. Dia nyaman dengan Danica terutama karena memiliki kesamaan, berasal dari kota kecil, mereka juga pencari nafkah jadi mereka sering mengobrol dan salah satu topik pembicaraan mereka adalah Raven, bos Hestia. “Awalnya aku juga tidak percaya, tapi mereka sudah lama bekerja di perusahaan jadi kemungkinan mereka sangat mengenal boss. Jadi, aku yakin itu benar,” ucap Hestia meyakinkan Danica. “Tapi kau sudah menghabiskan waktu bersamanya ‘kan? Apa kau tidak menyadarinya?” Danica bertanya sambil duduk di sampingnya. Hestia mengelengkan kepala “Tidak, aku baru saja bekerja, dan kami tidak terlalu sering berinteraksi kecuali saat diskusi mengenai rapat. Selain itu tidak ada. Meskipun, aku baru sadar jika dia sedikit pemarah tapi dia sangat membenci sesuatu yang kacau.” “Apa hanya gossip itu yang kau punya? Itu benar-benar sesuatu. Mungkin dia memang tidak suka kotor dan juga pemarah, sombong dan tipe serius. Yang kupikirkan dia adalah pria misterius yang tampan, Tuan Pemarah tapi enak. Kau tahu apa yang mereka katakan? Tipe pendiam dan pemarah adalah tipe yang layak untuk dikejar. Dan mereka bilang mereka juga diberkahi." "Diberkahi?" tanya Hestia, tak mengerti apa yang dimaksud Danica. Danica tertawa. "Kamu tidak tahu apa artinya 'diberkahi'?" tanyanya, Hestia mengangguk. "Diberkahi artinya memiliki sesuatu yang besar. P*nis... atau p*nis yang besar." Hestia tersipu mendengar perkataan Danica. "Hei, kau jangan bicara kotor!" pekiknya membuat Danica semakin tertawa. 'Istilah apa yang baru saja aku dengar. Mungkin aku salah memilih orang yang diajak bicara?” “Aku hanya menjawab pertanyaanmu, Hes. Itu saja!” Hanya sedikit yang Hestia tahu, apalagi saat dia tidak sengaja menaruh wajahnya di antara paha sang atasannya, hal itu membuatnya kepikiran. "Sepertinya itu agak besar, saat merasakannya di pipi.” Dia menyentuh wajahnya kemudian menggelengkan kepalanya. Mencoba menghilangkan hal itu dari pikirannya. “Hentikan, Hestia. Seharusnya kau tidak memikirkan hal itu. Lupakan hal memalukan yang kau alamai. Kalau bosmu diberkahi asset yang besar kau tidak perlu memikirkan apalagi membayangkan seberapa besar aset itu. "Mereka mengatakan jika Pak Raven memiliki hubungan dengan Pak Glen, rekan yang sering bertemu dengannya. Itu mungkin benar, apalagi pria itu sering berada di kantor dan berbicara dengannya.” “Kalau memang seperti itu, sangat sia-sia wajah tampannya itu. Aku suka kalau kau bersamanya. Aku menyarankan kau merayunya bahkan hanya untuk satu malam untuk melihat ap aitu benar-benar besar.” "One night stand?" "Disebut one night stand karena hanya bercinta sekali. Tidak ada pamrih, tidak ada perasaan yang telibat. Coba saja sekali,” jawab Danica langsung, membuat mata Hestia melebar lagi. "Astaga. Apa kau tidak tahu itu? Sebenarnya kau berasal dari dunia mana sih? Apa kau tidak punya teman?” "Aku lulus sekolah Krsiten dan tidak punya teman.” Hestia tidak berbohong, itulah kebenarannya.” “Tidak ada hal yang seperti itu,” jelas Hestia membuat Danica tampak tidak percaya. “One night stand yang membuatku dan pacarku bertemu satu sama lain. Kami berdua kesepian, jadi kami memutuskan untuk mencobanya tanpa melibatkan perasaan apapun tapi kami rasa itu menyenangkan. Kami terus merindukan satu sama lain, dia bahkan merayuku.” “Huh, jadi hal seperti ini sangat biasa di New York. Tapi Pak Raven seorang Gay, bagaimana kau mencobanya?” Mata Hestia membelalak karena mengingat apa yang baru saja dipikirkan, dia merutuki dirinya. “Hestia. Apa yang kau pikir? Kau mencoba untuk merayu bosmu? Bodoh. Kau sangat bodoh. Hentikan. Bosmu itu gay, dia punya pacar! Kau seharusnya tidak memikirkan hal seperti itu. Bukan itu yang harusnya kau pikirkan, tapi kau harus pikir bagaimana mendapatkan uang, agar bisa mengirim saat ibu menelpon, kalau tidak, kau akan mendengar kata-kata menakutkan lagi.” Hestia berkata pada dirinya sendiri. Untung saja dia sudah memiliki pekerjaan, dan dia bersyukur para pelanggan di gym memberinya tip, itu sangat membantunya. “Ya, terserah deh. Mau itu bosku gay atau tidak yang penting dia atasan yang baik. Selama dia baik padaku, aku tidak punya masalah dengannya, aku hanya berharap pekerjaanku tidak saling berbenturan,” tegasnya pada Danica. “Wait, bicara soal pekerjaan sampingan. Apa kau masih ingin pekerjaan sampingan? Aku punya teman yang membutuhkan pendamping untuk orang tua—” Hestia menampar Danica, dia menatapnya dengan tajam membuat wanita itu tertawa sambil mengelengkan kepala. “s**t. Dengarin dulu, dong. Ini bukan pekerjaan menjadi wanita seperti yang kau pikirkan, ini hanya pendamping. Menemani mereka saat pergi ke toko atau bermain golf, atau saat mengadakan pesta. Mereka orang baik, jadi jangan khawatir.” 'Wow. Ternyata ada pekerjaan seperti itu.” “Kau bilang tidak apa-apa selama aku tidak mengalami masalah kan?” "Aku akan menjagamu. Aku janji, semuanya akan baik-baik saja." *** Hestia menguap sambil melihat jadwal. Dia sangat lelah karena bekerja semalam. Selain bekerja di gym dia juga mengambil job lain yang direkomendasikan Danica. Ternyata partime job yang ditawarkan Danica tidak terlalu sulit hanya jadi pendamping klien. Klien sering kali menginginkan mereka agar menemani ke mana pun mereka pergi. Kebanyakan dari mereka adalah orang tua yang memiliki anak, cucu yang sibuk jadi mereka membayar seseorang untuk menemani mereka walaupun hanya sebentar. Beberapa dari mereka bahkan masih menyangkal jika mereka membutuhkan pengasuh atau asisten rumah tangga, jadi mereka akan menyewa asisten pribadi paruh waktu atau pendamping sebagai gantinya. Klien ketiga Hestia tadi malam mengadakan nonton Bersama dengan teman-teman di club house, karena itu Hestia baru pulang dini hari. Klien pertama meminta untuk menemani bermain golf, sedangkan klien kedua memintanya menemani berbelanja. Dan yang ketiga adalah seorang wanita yang baru saja mengadakan pesta dan menonton film tahun 70-an bersama teman-temannya yang kaya raya. Hestia tidak habis pikir, orang kaya benar-benar memiliki banyak cara untuk menghibur dirinya sendiri. Saat keluarga tidak ada waktu, mereka bisa menyewa seseorang untuk menemani mereka. Berbeda hal jika miskin, saat satu orang pergi semua orang pasti pergi. Saat satu orang berpesta, semua orang pasti akan hadir walaupun tidak saling mengenal asal bJika satu orang mengadakan pesta, seluruh barrio akan hadir meskipun Anda tidak mengenal mereka, hanya untuk ikut berpesta. Kadang-kadang, meskipun Anda tidak ingin ditemani, mereka bersikeras untuk ikut, hanya untuk menikmati makanan gratis. Tapi dia tidak mengeluh tentang pekerjaannya semalam. Ia bahkan menikmatinya, terutama karena ia menerima tip yang besar. Dia membutuhkannya, terutama karena ibunya menelepon lagi untuk meminta uang. Tapi karena pekerjaan itu membuatnya kelelahan dan hanya tidur 3 jam. “Hestia, apa kau baik-baik saja?” “Astaga!” pekiknya yang baru menyadari jika Raven berada di hadapannya. Dia segera berdiri. “Maaf, Pak!” ucapnya sambil membekap mulut dengan tangannya. “Kau kelihatan pucat. Apa kau baik-baik saja?” “Iya. Saya baik-baik saja, Pak. Hanya kurang tidur karena menonton K-drama terbaru tapi saya baik-baik saja, Pak.” kilahnya sambil berdiri, memberikan senyuman lebar pada Raven. Raven menatapnya dari atas ke bawah. "Pulanglah." "Maaf?" tanya Hestia, bingung. "A-apa Pak Raven marah karena aku lelah, makanya aku disuruh pulang?” "Pak, saya baik-baik saja. Saya bisa bekerja hari ini. Ini hanya kelelahan biasa!” Raven menggelengkan kepala. "Tidak, pulang dan istirahat. Aku juga mau pulang. Aku akan terbang ke Shanghai 2 jam lagi. Glen akan ikut denganku." 'Tunggu, mereka punya kencan? Bagaimana dengan jadwal pertemuannya hari ini?” "Pak? Bagaimana meeting Anda hari ini?" "Bukannya saya sudah mengirim pesan agar membatalkannya? Apa kau belum membacanya?” tanya Raven dengan kesal, membuat Hestia cepat-cepat mengambil ponselnya. Dia belum membaca pesan karena dia sedang sibuk mengatur jadwal. "Maaf, Pak. Oke, sudah dicatat. Kapan Anda akan kembali, Pak? Supaya saya bisa mengatur jadwal baru.” "Saya akan kembali besok sore, jadi jadwalkan ulang semua meeting pada hari Jumat." 'Dia begitu tinggi dan perkasa. Sepertinya negara lain hanya berada di seberang jalan. "Dicatat, Pak. Saya akan mengirimkan jadwal terbaru Anda." Raven mengangguk, dia masuk ke ruang kerjanya. Namun beberapa saat Raven keluar sambil membawa sesuatu. "Pulang, kerjakan di rumahmu," titah Raven. Hestia hanya mengangguk. “Bisakah kau membantuku?” "Tentu, Pak! Apa itu?" “Tolong carikan agen pembersih. Aku ingin kondiumku dibersihkan hari ini. Ini alamat kondiumku, saya tidak suka dengan agen kebersihan kemarin jadi aku ingin dibersihkan lagi.” Raven menyerahkan uang $300. “Ini uangnya, kau urus saja.” Mata Hestia membelalak saat melihat uang itu. "300$ untuk bersih-bersih, Pak?" Raven mengangguk. "Ya, saya harus pergi." Setelah Raven pergi, Hestia segera mencari agen pembersih. Tapi tidak ada yang tersedia hari ini. Jadi, dia menghela napas dan melihat uangnya. Kemudian senyumnya melebar. 'Bodoh, kau butuh uang, kan? Kenapa kau tidak membersihkannya sendiri?’ Tiga ratus dollar. Uang yang mudah, dia hanya perlu membersihkan. Sekarang dia tersenyum lebar. "Dia mungkin tidak akan marah," gumamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD