BAB 11

1059 Words
"Zamrud itu cantik sekali, Dante," gumam Sofia. Tangannya yang mengenakan cincin berlian kini menyentuh lengan Dante dengan gerakan penuh damba. "Aku tidak pernah melihat perhiasan yang seperti itu. Warnanya sangat dalam, hampir terlihat seperti memiliki kehidupan di dalamnya." Dante hanya menyipitkan mata, menatap batu permata itu dengan ekspresi menilai yang dingin. "Itu pusaka keluarga yang hilang bertahun-tahun lalu. Nilai sejarahnya jauh melampaui harga batunya sendiri." "Hadirin sekalian," suara pelelang menggema, penuh wibawa. "Kita mulai penawaran untuk The Heart of Oakhaven pada angka lima juta dolar." Keheningan sesaat menyelimuti ruangan, sebelum akhirnya beberapa papan penawar mulai terangkat. Harga merangkak naik dengan cepat. Enam juta, tujuh juta, hingga menyentuh angka sepuluh juta dolar dalam waktu kurang dari tiga menit. Bagi para elit di ruangan ini, ini adalah tentang Nama Baik. Namun bagi Elena, ini adalah tentang sesuatu yang telah dicuri darinya. Elena menoleh ke arah Dante. "Itu milik keluargaku, Dante." Dante tidak menoleh. Ia tetap menatap lurus ke depan dengan sikap angkuh. "Milik keluargamu yang sudah tidak ada lagi. Sekarang benda itu adalah barang dagangan. Siapa pun yang memiliki uang paling banyak, dialah pemilik barunya." "Kau harus membelinya," desak Elena. Suaranya sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena gejolak yang meluap di dadanya. "Kontrak kita... kau bilang kau akan mengamankan aset keluargaku. Itu adalah salah satu aset terpenting kami." Dante akhirnya menoleh, menatap Elena dengan pandangan meremehkan. "Kontrak itu untuk perusahaan dan properti yang masih memiliki nilai produktif, bukan untuk perhiasan kuno yang hanya akan berakhir di brankas. Aku tidak akan membuang sepuluh juta dolar lebih hanya untuk nostalgia yang tidak berguna." Sofia terkekeh pelan di samping Dante. "Dengar itu, Elena. Dante adalah pria yang praktis. Kenapa dia harus menebus barang yang sudah pernah dibuang oleh keluargamu sendiri?" Elena tidak mendengar ejekan Sofia. Matanya kembali terpaku pada zamrud itu. Kilau hijaunya seolah memanggilnya, memintanya untuk membawanya pulang. Rasa kehilangan yang amat sangat merayap naik dari perutnya menuju kerongkongan. Ia merasa jika kalung itu jatuh ke tangan orang lain, bagian dari jiwanya akan ikut mati malam ini. Angka penawaran menyentuh dua belas juta dolar. Pelelang mulai menghitung. "Dua belas juta dolar, sekali! Dua belas juta dolar, dua kali!" Tanpa berpikir panjang, sebelum akalnya sempat memberikan peringatan, tangan Elena bergerak. Ia meraih papan penawar yang terletak di atas meja mereka dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Lima belas juta dolar!" seru Elena. Seluruh aula mendadak senyap. Ribuan pasang mata kini tertuju pada meja VIP nomor satu. Dante tersentak, rahangnya mengeras seketika. Ia menyambar pergelangan tangan Elena dan menekannya ke bawah dengan kasar. "Apa yang kau lakukan?" geram Dante. Suaranya rendah dan penuh kemarahan. "Kau tidak punya otoritas untuk mengeluarkan uang sebanyak itu." Elena menarik tangannya dari cengkeraman Dante. Ia menatap suaminya dengan tatapan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya—sebuah tatapan perlawanan. "Kau tidak akan membelinya, jadi aku yang akan melakukannya. Gunakan dana talangan keluargaku. Potong dari apa pun, tapi aku tidak akan membiarkan kalung itu pergi." "Elena, kau gila! Itu uang untuk menyelamatkan perusahaan ayahmu!" Sofia memekik, wajahnya memerah karena terkejut. "Diam, Sofia," potong Elena tajam. Pelelang di atas panggung tampak ragu sejenak, melihat ketegangan di meja Valerius, namun profesinya menuntutnya untuk terus bergerak. "Lima belas juta dolar dari Nyonya Valerius. Apakah ada penawaran lebih tinggi?" Dante menatap Elena dengan kebencian yang nyata. "Kau baru saja membuat kekacauan di keuangan ayahmu, Elena. Jangan harap aku akan menambalnya kembali. Setelah ini, kau akan menanggung konsekuensinya secara pribadi." "Aku tidak peduli," jawab Elena pendek. Napasnya masih memburu. Matanya kembali menatap kalung itu. Baginya, kalung itu adalah sejarah keluarganya yang harus ia pertahankan. Sebagaimana ia harus menikah kontrak dengan Dante Valerius untuk mempertahankan bisnis keluarganya. Aula masih sunyi. Tidak ada yang berani menentang tawaran keluarga Valerius, terutama setelah melihat drama kecil yang terjadi di meja utama. Mereka semua menganggap itu hanya tingkah manja seorang istri yang ingin pamer. "Lima belas juta dolar, sekali!" pelelang mengangkat palunya. Elena merasa sedikit lega. Ia bisa melihat zamrud itu seolah bersinar lebih terang padanya. "Lima belas juta dolar, dua kali!" Dante menyandarkan punggungnya, melipat tangan di d**a dengan ekspresi dingin. Ia sudah menyerah, membiarkan Elena melakukan kesalahan finansial terbesarnya agar ia punya alasan lebih kuat untuk menekan wanita itu nantinya. Sofia hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan geram, tidak terima jika Elena mendapatkan perhatian sebesar ini. "Lima belas juta dolar, ti—" "Dua puluh juta dolar." Sebuah suara tenang dan renta namun penuh otoritas memotong hitungan terakhir sang pelelang. Suara itu berasal dari barisan belakang yang agak gelap. Elena tersentak dan menoleh ke belakang, begitupun dengan Dante yang langsung menegakkan duduknya. Suara itu berasal dari barisan belakang yang diisi sepasang suami istri paruh baya. Tuan dan Nyonya Sanjaya. Salah satu konglomerat di distrik Velmora yang terkenal sebagai pasangan yang menjadi relationship goalsnya distrik Velmora. Tuan Sanjaya yang berusia 60 tahun lebih terkenal sangat mencintai istrinya walaupun mereka tidak memiliki anak kandung. Sepertinya Tuan Sanjaya menawar idengan harga tinggi karena istrinya menginginkannya. Bahkan ketika semua mata tertuju pada mereka, mereka tidak sungkan untuk saling menautkan tangannya. Suasana di ruangan mendadak hening. Belum ada yang berani membuka suara kembali. Angka dua puluh juta dolar sangatlah tinggi. Semuanya yang hadir di dalam ruangan itu mulai berpikir ulang jika ingin menawar lebih dari angka tersebut. Pemimpin lelang pun menyadari keheningan di ruangan itu beberapa saat sebelu akhirnya tersadar. Pelelang akhirnya mengangkat palunya kembali, tangannya kini benar-benar gemetar. "Dua puluh juta dolar, sekali! Apakah ada tawaran lebih tinggi dari keluarga Valerius?" Elena mencengkeram lengan kursinya kuat-kuat. Ia menatap Dante dengan penuh permohonan. Namun, Dante membuang mukanya seolah tidak menaruh minat pada Elena. Dante adalah seorang pebisnis yang penuh perhitungan angka. Menambah tawaran di atas dua puluh juta dolar untuk sepotong kalung adalah tindakan bunuh diri secara finansial di tengah pengawasan dewan direksi. "Dua puluh juta dolar, dua kali!" ucap Pemimpin Lelang seolah menjadi alarm. “Dante…” rintih Elena. “Kumohon kali ini.” nada Elena masih memelas. “Menyerahlah Elena.” desis Sofia tajam. “Kau tahu seberapa besar angka dua puluh juta dolar itu?” Elena tidak menghiraukan perkataan Sofia. Ia masih menatap Dante dengan penuh permohonan. Dante menatap Elena dengan tatapan tajam, sedangkan Pemimpin lelang mulai melirik ke arah meja keluarga Valerius yang sedari tadi ribut sendiri. “Duduklah dengan tenang, Elena.” desis Dante tajam. “Jangan membuat keributan, dan jangan membuat malu keluarga Valerius” tambahnya. “Tapi—” Elena masih memohon saat Pemimpin lelang mulai membuka mulutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD