“Ketika keperdulian datang tanpa permisi, apa mungkin cinta juga akan tumbuh tanpa kompromi?”
Aleena berjalan menyusuri lorong-lorong kampus yang masih terasa sepi, kesalnya hari ini Aleena ada kuliah pagi jam 7 mau tidak mau Aleena harus datang lebih pagi.
Aleena mengotak-ngatik ponselnya ada beberapa line yang tidak dia balas karena malas.Tak ada satupun orang yang ada dikelas ini, mungkin mereka akan datang pas jam 7. Aleena menatap layar ponselnya menunjukan tanggal dan bulan hari ini. Aleena menghela nafasnya lalu menatap awan dibalik jendela ruangan itu, dia tersenyum. Hari ini adalah tanggal dan bulan dimana dua tahun lalu dia ditembak oleh seorang cowok yang sangat Aleena sukai bahkan cintai dan dia juga yang membuat Aleena berhenti sejenak untuk membersihkan luka yang ada dihatinya.
***
“Al, lo sakit?” tanya Belva seraya menatap Aleena dengan lekat
Zoya menyentuh kening Aleena “gak panas, tapi muka lo pucet”
Pagi tadi Aleena memang merasakan maag nya kambuh, dia tidak sarapan dan kemarin-kemarin porsi makannya berkurang entah kenapa, sepertinya dia mencoba untuk berdiet lagi.
“maag gue kambuh tadi, sakit banget” jawab Aleena
“yaudah, kita klinik aja yah?” ajak Belva menggandeng tangan Aleena
Aleena menggeleng pelan “gak usah, gue mau ke perpus minjem buku”
Akhirnya pun mereka berjalan ke arah perpus, Aleena tampak memegangi perutnya, rasa sakitnya malah makin bertambah perutnya seperti ditusuk-tusuk. Ketika Aleena sedang berjalan beberapa langkah lagi sampai ke depan perpus tiba-tiba dia tumbang begitu saja matanya seketika gelap.
“Aleena!” teriak Belva dan Zoya yang kaget karena melihat Aleena tiba-tiba terjatuh
Mereka pun berlutut dengan memegangi kepala dan tangan Aleena, semua yang berada didepan perpustakaan hendak mengerubuni Aleena.
“duh gimana ini, Al bangun Al” kata Zoya menepuk-nepuk pipi Aleena
Dari arah kerubunan tiba-tiba terlihat Banez dan Saga lalu mereka menerobos ke dalam kerubunan dan berlutut di depan Aleena.
“dia kenapa?” tanya Saga yang saat itu wajahnya terlihat sangat panik membuat mereka yang disana memperhatikan Saga
“tadi dia ngeluh sakit maag trus pinsan”
Tanpa berkata apapun lagi, Saga langsung membawa Aleena menerobos kerubunan tersebut dan membawa Aleena ke dalam klinik yang jaraknya cukup jauh dari perpus.
“kalian ke kelas aja, gue yang jagain dia” ucap Saga
Banez, Belva dan Zoya hanya membulatkan bola matanya mendengar apa yang dibicarakan Saga. Mereka tampak tidak menyangka bahwa Saga seperduli ini dengan Aleena. Belva dan Zoya pun mengangguk mereka kembali ke kelas karena ada kuliah, Banez pun begitu, Saga meminta Banez untuk menandatangani absen Saga.
Saga menatap paras cantik cewek yang sedang tertidur dengan polos di depannya kini, entah kenapa dia begitu panik ketika melihat Aleena terkapar di jalanan seperti tadi, nalurinya berkata bahwa dia harus menolong Aleena. Apa mungkin Saga mulai perduli dengan Aleena?
Aleena mengerjapkan matanya, dia meringis memegangi perutnya saat itu. Dia menoleh ke arah kanannya matanya bertemu dengan mata Saga, terlihat sekali Aleena terkejut saat itu juga.
“kak Saga?”
“masih sakit? Mana yang sakit bilang sama gue”
Aleena yang mendengar hal itu langsung membulatkan bola matanya terkejut, mengapa Saga terlihat begitu peduli padanya.
“perut gue sakit kak”
Aleena pun terbangun dan duduk dibantu oleh Saga.
“ini makan dulu habis itu minum obat trus balik” kata Saga menyodorkan satu bungkus roti, air mineral dan obat
“tapi, kak gue masih ada kelas”
“gue bilang balik”
Aleena mengangguk pelan, entah kenapa dia sangat menurut pada Saga seolah dia tidak pernah bisa menolak apa perkataan Saga. Jangan bilang Aleena sudah baper dengan Saga, apa artinya pertahanan Aleena runtuh seketika?
***
“perlu ke dokter?” tanya Saga yang saat ini sedang menyetir untuk mengantar Aleena pulang
Aleena menggeleng dan menoleh ke arah Saga “gak usah kak, mau istirahat dirumah aja”
Saga mengangguk pelan lalu kembali fokus menyetir, tidak ada pembicaraan lagi sehabis itu sampai mereka sampai di rumah Aleena.
Sesampai dirumah Aleena, Saga membantunya turun dari mobil dan memapah Aleena sampai ke depan rumahnya, tiba-tiba langkah Aleena terhenti menatap seorang cowok yang tengah duduk di kursi depan rumahnya.
“Marco?” kata Aleena heran
Marco pun berdiri lalu menoleh dan menghampiri Aleena “Aleena, kamu kenapa? Kok pucet?”
“maag aku kambuh tadi pas dikampus”
“ya ampun pasti kamu telat makan lagi” gumam Marco seraya menarik tangan Aleena.
Saga yang saat itu hanya menampilkan wajah datarnya tidak terlalu menatap ke arah Marco yang tersenyum padanya.
“kak makasih yah udah nganter pulang” kata Aleena tersenyum
Saga hanya mengangguk lalu memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya. Dari kaca mobilnya terlihat sekali Marco menggandeng Aleena masuk ke dalam rumah dengan sangat lembut. Di sepanjang perjalanan Saga memikirkan siapa yang Aleena sebut Marco tersebut. Saga mengacak-ngacak rambutnya, dia kesal karena terus memikirkan hal tersebut. Saga kesal karena saat ini dia kembali telah perduli dengan seorang cewek dan itu membuat hidupnya malah tidak nyaman.
“kamu ngapain ke rumah aku?” tanya Aleena pada Marco
Marco tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam papper bag “nih buat kamu”
Aleena menerimanya lalu membukanya, itu adalah pajangan berbentuk panda yang sangat lucu. Aleena tersenyum bahagia “makasih yah masih inget aja kesukaan aku”
“yang tadi pacar baru kamu?”
Aleena mengerutkan dahinya tidak menjawab
“aku gak mau kamu salah pilih lagi, jangan sampai kamu sakit hati lagi”
“semoga aja engga gitu lagi yah”
Marco menghela nafasnya “pasti kalo kamu punya pacar kita bakal jarang ketemu lagi kaya dulu”
“coco, jangan mulai deh” kata Aleena seraya menyipitkan matanya menatap Marco
Marco memang selalu seperti itu jika mengetahui Aleena mempunyai cowok baru. Aleena kadang merasa risih karna mereka sudah tidak ada hubungan lagi, namun Marco terlalu baik.
***
Malam ini, Aleena tengah menuruni tangga, rumah terasa sangat sepi, Aleena berjalan menuju dapur untuk mengambil jus dikulkas tiba-tiba ketika dia teriak melihat yang terjadi di dapur tesebut.
“AAK!”
Aleena benar-benar terkejut melihat kucing kesayangannya terkapar sepertinya karena Mochi telah memakan sesuatu, dia pun sangat panik dia harus membawa kucingnya ke dokter hewan. Aleena pun merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan menelepon seseorang.
“Kak! Kak tolongin kak! Gue harus ke dokter kaak please ke rumah gue” kata Aleena terisak melihat Mochi kucingnya saat ini.
“duh sabar yah mochi sayang sabar” gumam Aleena mengelus lembut kucingnya
Saga yang sedang bermain ps spontan melempar stik ps tersebut ke sembarang tempat, lalu dia mengambil kunci mobil diatas nakas. Saga melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, dia semakin khawatir ketika Aleena menghubunginya tadi.
“lo kenapa lagi sih” gumam Saga mengacak-ngacak rambutnya
***
Saga membulatkan bola matanya melihat Aleena sedang menangis dan terduduk dilantai dengan memeluk seekor kucing. Saga mengacak-ngacak rambutnya frustasi, dia benar-benar tampak emosi saat ini pada Aleena.
“ELO!” teriak Saga sembari melotot
“kak ayoo kak anterin gue ke dokter hewan, gue gak mau mochi kenapa-kenapa” kata Aleena terlihat panik
“elo nyuruh gue kesini karena kucing? Hah?” bentak Saga
Aleena mengangguk pelan lalu dengan cepat meninggalkan Saga ke parkiran “ayo kak cepet”
Saga berdecak kesal, dia tidak tahu lagi ingin memarahi Aleena seperti apa, Aleena benar-benar membuat Saga marah kali ini, Aleena tidak tahu bahwa Saga sebegitu khawatirnya ketika mendapatkan telepon dari Aleena.
***
“gak apa-apa kok, sepertinya hanya keracunan makanan saja, dia akan segera membaik” ucap dokter hewan yang menangani Mochi, kucing Aleena berwarna putih tersebut.
Aleena menghela nafasnya lalu dia mengelus-ngelus Mochi dengan lembut “syukur deh, ya ampun mochi jangan makan sembarangan lagi yah”
Saga yang melihat hal tersebut hanya bersandar di tembok dengan melipatkan kedua tangannya didadanya. Saga dan Aleena keluar dari klinik dokter hewan tersebut dan hendak pulang.
“makasih yah kak, udah anter gue ke sini, sumpah tadi tuh gue panik banget dan gak tau harus minta bantuan siapa, yang ada dikepala gue cuma elo, jadi yah gue telepon elo deh” kata Aleena tersenyum pada Saga
Saga tidak menggubris perkataan Aleena sama sekali dia bahkan tidak menoleh.
Aleena pun kembali mengelus kucing yang berada dipelukannya “mochi sayang, maafin mami yaah udah jarang jagain kamu makan. Soalnya mami sibuk” gumam Aleena
Saga yang mendengar hal itu menyipitkan matanya lalu berkata “gila yah lo?”
Aleena tertawa pelan “Mochi mau gak punya papi kaya dia?” kata Aleena sembari memperlihatkan wajah Mochi ke Saga. Saga bergidik geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu masuk duluan ke dalam mobil. Aleena yang melihat hal itu hanya tertawa karena menggoda Saga itu sangat menyenangkan.
***
Ketika sesampainya dirumah Aleena menyimpan Mochi ke dalam kandangnya lalu membuat minuman untuk Saga yang berada di depan rumahnya.
Saga pun meminumnya lalu berdiri “udah kan ngerepotin gue nya? Gue balik”
Saga pun melangkahkan kakinya namun tangannya dicegah oleh Aleena sehingga Saga berhenti melangkah dan menaikan sebelah alisnya.
“kakak, khawati yah sama gue? Cie mulai perduli” goda Aleena sembari tersenyum menatap wajah Saga yang masih memasang wajah datarnya.
Saga pun tak ingin kalah untuk menggoda Aleena, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Aleena, Saga semakin dekat sampai Aleena mundur seketika dan tidak menyadari akan jatuh karena anak tangga di belakanganya, namun punggungnya ditahan oleh Saga “eehhh” kata Aleena kaget menyadari dirinya yang akan jatuh namun di tahan oleh Saga.
Aleena tampak pucat melihat matanya menatap mata Saga, ditatapnya lekat-lekat. Aleena benar-benar tidak sanggup jika Saga menatapnya sepeerti ini.
“kalo gue khawatir, apa lo baper?” tanya Saga membalas menggoda Aleena
Saat itu juga Aleena mendorong tubuh Saga menjauh, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali “pulang gih kak, udah malem!!! Bye” kata Aleena seraya masuk ke dalam rumahnya. Aleena bersandar dibalik pintu dan menutup wajahnya yang senyum-senyum sendiri dan jantungnya berdegup dengan kencang pipinya memerah seperti tomat.
Ketika keperdulian datang tanpa permisi, apa mungkin cinta juga akan tumbuh tanpa kompromi?