“Mungkin dia bukanlah yang pertama membuat d**a ini terasa berdebar dengan kencang, namun saat ini mengapa rasanya lebih dari sekedar jatuh cinta”
Aleena merebahkan tubuhnya di kasur yang dilapisi sprei bermotif bunga sakura yang indah. Dia tampak menatap langit-langit kamarnya.
“hmm besok jadi gak yah? kok kak Saga gak nge chat gue sih. Besok tuh kita kemana, gue harus pake baju apa kan semua harus dibicarakan dulu” Aleena bergumam sendiri
Aleena mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas lalu dia membuka aplikasi line.
Saganteng
Kak Saga.. besok kita jadi nge date ya!
Gak
Ih, kok kaka gak tau terimakasih sih, masa ngedate sama gue aja gak mau
Males
Yaudah, kalo gak mau gue bakalan bilang tante Rika kalo waktu itu kaka berantem
Ydh bsk jd
Yess! Nanti kaka jemput gue jam berapa?
6
Oke kaak. Jam 6 sore aku udah siap yah
6 pagi
Jam 6 pagi? Gak terlalu pagi kak? Kita mau
ngedate apa mau upacara bendera? Upacara aja jam 7 kak
Ydh klo gkmau.
Yaudah iyaiya...
Saga menatap layar ponselnya sembari menyunggingkan senyuman manisnya, lalu dia kembali memetik gitar kesayangannya.
“Sagaa.. Sagaa mana anak saya!” terdengan teriakan dari lantai bawah membuat Saga segera keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan cepat ketika sampai pada anak tangga terbawah, Saga menghentikan langkahnya
“mbak, gak perlu teriak-teriak” ucap Rika kepada Amaris
Saga yang melihat hal itu menghampiri kedua wanita tersebut.
“mau apa mama kesini?”
“sayang, kok ngomongnya gitu sih? Mama minta maaf karna kemarin udah bentak kamu”
“langsung aja mama mau apa kesini” tanya Saga penasaran
Amaris tersenyum menatap anaknya yang tampan ini “kamu mau kan jadi artis di management mama?”
Amaris memang mempunyai management artis yang sangat terkenal di ibu kota, dia telah melahirkan banyak artis terkenal saat ini dari managementnya, tidak lain Amaris sering meminta Saga untuk menjadi artis karena wajah tampan Saga, namun Saga bersih keras untuk menolaknya karna itu sama sekali bukan sesuatu hal yang Saga mau.
“Saga udah pernah bilang gak mau” katanya menolak dengan tegas
Amaris mengelus pundak anaknya tersebut “Saga, kamu itu berpontensi untuk menjadi artis. Kenapa kamu susah sekali sih untuk menuruti mama?”
“mending mama pulang” usir Saga
Amaris terlihat kesal namun, dia sangat menahan emosinya dia tidak mau gegabah dengan perbuatannya pada Saga. Saga itu anak yang cukup keras dan sangat susah ditentukan kemauannya.
***
Selesai menunaikan shalat subuh Aleena segera mandi lalu memilih baju yang akan dia kenakan. Aleena mengobrak-abrik baju yang dia punya dilemari berwarna putih dikamarnya lalu dia mengacak-ngacak rambutnya gusar dan menempelkan telunjuknya ke bibirnya dan berfikir.
“coba yah gue bingung, baru kali ini gue diajak ngedate sepagi ini dan gue harus pake baju apa?”
Aleena pun akhirnya memilih dress dengan belahan sabrina berwarna baby pink lalu pun duduk dimeja rias dan memoles wajahnya dengan make up sederhana tidak berlebihan itulah ciri khas Aleena, walau tanpa make up dia sudah terlihat cantik. Lalu Aleena menutupi wajahnya dengan tangannya.
“aakk kok gue deg-deg an sih?” gumamnya sembari menggigit bibir bawahnya karna tidak kuat untuk tersenyum
Drttt! Ponsel Aleena bergetar, lalu dia menatap di layar pop up nya dan terlihat line dari Saga
Saganteng : Keluar
Aleena pun langsung mengambil slingbag berwarna dusty pink lalu memakai flatshoes berwarna senada dan langsung keluar dari kamarnya.
Aleena keluar rumahnya dan tersenyum pada Saga yang saat itu sedang bersandar di mobilnya dengan melipatkan kedua tangannya didada. Saga tertegun melihat penampilan Aleena, dia memperhatikan Aleena dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu mengusap kepalanya.
“lo!!” gumamnya
Aleena tersenyum semanis mungkin “kenapa? Gue cantik yah kak?” sembari mengedip-ngedipkan matanya.
Saga memajukan langkahnya tepat di depan Aleena lalu memegang pundak Aleena, Aleena gugup bukan main pipinya terasa memanas.
Aleena masih memasang senyuman khas nya lalu tiba-tiba Saga membalikan tubuhnya.
“ganti baju”
Seketika Aleena membuka mulutnya terkejut, mengapa Saga malah memintanya untuk berganti baju. Aleena membalikan tubuhnya lagi “kok disuruh ganti baju? Gue sejam loh milih bajunya!”
Aleena pun memperhatikan Saga dari atas ke bawah lalu berbalik dan berdecak kesal. Akhirnya, dia menuruti Saga untuk mengganti bajunya dengan stelan olahraga tidak lupa dia memakai sepatu kets dan menguncir rambutnya. Sepanjang perjalanan Aleena hanya diam dan cemberut menatap lurus ke depan. Saga yang menyadari hal itu sesekali melirik ke arah Aleena lalu menyunggingkan senyumannya, Aleena terlihat sangat menggemaskan.
“buruan!” teriak Saga yang saat ini sudah berada dipinggir lapangan dan melakukan pemanasan
Aleena berdecak kesal menghampiri Saga dengan malas “nge date nih ngedate ngedate!!!” kata Aleena dengan meninggikan suaranya.
“sekali-kali olahraga biar bisa ngecilin setidaknya...” ucap Saga
Aleena membulatkan matanya lalu memandangi dirinya dari bawah sampai ke atas.
“pipi lo” lanjut Saga lalu berlari meninggalkan Aleena yang masih dipinggir lapangan dengan menyentuh pipinya
Saat ini Aleena dan Saga berada di sebuah lapangan yang sering digunakan untuk olahraga. Mereka pun akhirnya berlari mengelilingi lapangan, tadinya Aleena menolak namun Saga tetap memaksanya. Walau dia tampak kewalahan menyetarakan kecepatan lari Saga.
“stop kak! Capek banget gue!” kata Aleena terengah-engah dan membungkuk memegangi lututnya yang sudah tidak kuat berlari lagi
Saga menoleh ke arah Aleena “baru 2 putaran udah kaya gitu! Cepetan gak usah manja” kata Saga lalu kembali berlari. Aleena benar-benar sudah tidak kuat, hal yang paling dia benci adalah berlari.
Menurut Aleena, berlari itu benar-benar melelahkan.
“awh!” Aleena mengaduh kesakitan, tiba-tiba dirinya terjatuh
“kak Sagaa! Sakit!” teriak Aleena. Saat itu Saga hanya menoleh ke arahnya lalu kembali berlari dan tidak menggubrisnya
“alesan” gumam Saga
Saga pun berlari kembali mengitari lapangan, namun sesekali dia melirik ke arah Aleena. Ternyata Aleena masih saja terduduk di lapangan dengan memegangi kakinya, akhirnya pun Saga dengan cepat berlari ke arah Aleena dan berlutut didepannya.
“lo beneran?” tanya Saga terlihat panik
Aleena memegangi pergelangan kakinya lalu menatap Saga dengan air mata di pipinya “beneran lah” kata Aleena
“sumpah sakit kak, gue gak bisa jalan”
Tanpa pikir panjang, Saga pun segera menggendong Aleena dengan menumpukan tangan kanan di punggungnya dan tangan kiri di belakang dengkul kakinya. Aleena terbelalak menatap Saga yang seperti ini, dengan cepat dia melingkarkan tangannya di leher Saga. Dia bisa mencium harum tubuh Saga walau dia sedang keringatan seperti ini. Terlihat sekali cucuran keringat dari pipi Saga membuat Saga semakin sexy. Saga pun berjalan dengan menggendong Aleena sampai ke depan mobilnya lalu menurunkan Aleena, dia masih tampak terdiam dan menatap Saga. Jantungnya terasa berdegup kencang.
“jangan baper, gue cuma nolongin lo” gumam Saga sembari membukakan pintu mobil untuk Aleena
Aleena pun tersadar lalu mencubit pipinya “awh”
“ih siapa juga yang baper!” teriak Aleena yang melihat Saga sudah akan memasuki mobilnya.
***
“pokoknya, kita harus nge date ulang! Dan jangan olahraga!” kata Aleena yang saat ini sudah duduk dan merebahkan kakinya di sofa studio foto Saga
Saga sedang mengolesi minyak urut pada pergelangan kaki Aleena sembari mengurutnya pelan.
“kak ih, Rabu gue libur kuliah, kita nge date yah?” kata Aleena namun tak digubris oleh Saga
Saga pun menyudahi pijatannya lalu beranjak ke dapur untuk membuat sarapan. Aleena menuruti Saga dengan berjalan pincang ke arah dapur, Saga yang melihat hal itu langsung mendudukan Aleena dikursi bar yang berada di depan meja dapur.
“diem”
Dari sini Aleena dapat melihat Saga sedang memasak sesuatu, dia menumpukan kedua tangannya di dagunya melihat Saga dengan telaten memasak, Saga sangat tampan bahkan keren dia mempunyai postur tubuhnya yang sangat tinggi membuat cewek-cewek ingin berada tepat disebelahnya.
“nih makan” tidak lama kemudian Saga menyodorkan sepiring potongan kentang rebus dengan omelette
Aleena menepukan kedua tanganya ketika Saga menyodorkan makananya, lalu dengan lahap dia memakannya. Saga yang melihat hal itu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, Aleena bahkan bukan tipe cewek yang jaim ketika sedang makan, itu malah membuat Aleena semakin menggemaskan
“umur lo berapa?” tanya Saga ditengah-tengah makannya
Aleena mengerutkan dahinya dan menatap Saga “tahun ini 21”
Saga tertawa pelan lalu membersihkan sisa makanan di sudut bibir Aleena “umur 21 tingkah anak tk” gumam Saga
Aleena yang menyadari hal itu hanya bisa terdiam dengan pipi yang memerah, dia benar-benar dibuat blushing oleh perlakuan Saga. Kencan pertama yang membuat Aleena kesal menjadi kencan yang membuat Aleena merasa sangat istimewa karena pagi ini Saga begitu manis kepadanya.
Mungkin dia bukanlah yang pertama membuat d**a ini terasa berdebar dengan kencang, namun saat ini mengapa rasanya lebih dari sekedar jatuh cinta.