Part 7. Pengganggu Perasaan

1617 Words
“sekarang, gue nggak akan menolak jika cinta itu datang kembali. Tapi, tolong biarkan semuanya berjalan sampai akhir. Jangan pergi disaat cerita baru dimulai” Saga sedang menuju perjalanan ke studio foto milik dirinya yang tidak jauh dari kampus, tiba-tiba ponselnya bergetar lalu Saga membukanya. Alien Hai kak Saga... Saga tidak membalasnya dia hanya membaca dan menyimpan ponselnya kembali tidak lama ponselnya kembali bergetar. Alien Kak kok di read doang? Emang gue koran? Kak jangan lupa shalat yah, biar belajar jadi imam yang baik buat gue nanti hihi Kak Saga hari ini gue belajar make up sama Zoya Gue kan pakai pinsil alis, masa alis gue malah kaya shinchan hufty Saga membaca semua pesan yang diberikan Aleena kepadanya melalui layar pop up ponselnya tanpa membukanya, dia menggelengkan kepalanya, namun tetap tertawa pelan melihat pesan menggemaskan dari Aliennya ini. Saat ini di studio foto milik Saga sudah ada Kairan, Azzam dan Banez mereka sedang bersantai. Studio foto yang dimiliki Saga ini dari luarnya seperti rumah biasa pada umumnya, terdapat halamannya juga. Saga memang menyulap rumah ini menjadi studio foto pribadi miliknya. “eh Ga, kok gue perhatiin lo sekarang tambah deket aja sama Aleena” gumam Azzam Banez memperhatikan Saga “hmm bener, lo lagi pdkt yah? Gue denger dari cewek gue sih Aleena tuh anaknya baik kok cocok lah sama lo” “Alien?” gumam Saga sembari mengotak-atik kamera nya “wah cantik-cantik lo panggil alien, kalo nggak mau buat gue aja deh” ucap Kairan lalu nyengir Saga segera melemparkan bantal kepada Kairan. “wes ada yang marah nih” ejek Kairan *** Malam ini Saga berniat untuk bertemu dengan seseorang untuk menyelesaikan suatu hal. Dia tampak menunggu diluar mobil sembari memainkan ponselnya. “lo dateng juga” ucap seorang cowok yang memakai jaket kulit berwarna coklat tua lalu tersenyum menyeringai Saga membuang muka “nggak usah basa-basi” “gue nggak suka lo masih deketin Amber” Saga terkekeh “kayanya lo salah” “nggak usah banyak omong lo!” kata seorang cowok tersebut dan langsung memukul wajah Saga. Saga tidak bisa mengontrol dirinya, terasa perih disudut bibirnya yang berdarah. Alhasil dia dan seorang cowok tersebut bernama Reinhard adu jotos. Untuk kekuatan jauh lebih kuat Saga dibanding Reinhard, dia tampak sudah tersungkur di aspal jalan. Tiba-tiba beberapa gerombolan datang untuk membantu Reinhard. “pengecut lo!” kata Saga yang melihat beberapa orang menghampiri, Reinhard pun hanya tertawa. Beberapa orang tersebut memukuli Saga tiada ampun dia merasa kewalahan karna harus melayani pukulan demi pukulan. *** Disisi lain, Aleena sedang berada di perjalanan menuju rumah Belva dia tidak menggunakan mobil karna malas menyetir alhasil dia menggunakan jasa ojek online. Melihat ada keributan diujung jalan, dan rasanya dia mengenali mobil tersebut akhirnya Aleena menghentikan perjalananya. “pak disini aja, ini uangnya” kata Aleena dan segera berlari menuju keributan tersebut dan terlihat Saga sedang dipukuli, wajahnya sudah babak belur. “STOP!!!!! GUE UDAH TELEPON POLISI DAN MEREKA LAGI JALAN KESINI, KALO KALIAN MASIH MUKULIN DIA GUE YAKIN KALIAN BAKAL DI TANGKEP” teriak Aleena dengan suara super kencangnya. Mendengar hal itu Reinhard dan beberapa temannya dengan cepat kabur dari tempat tersebut. Terlihat Saga terduduk di aspal dengan wajah yang babak belur. “Kak Saga ya ampun kak, kaka kenapa bisa kaya gini sih kak” kata Aleena sangat panik. “gguee gaakkpapahh” ucap Saga terbata-bata “ayo kita pulang” kata Aleena yang memapah Saga ke mobilnya Aleena mendudukan Saga dijok penumpang dan saat ini Aleena yang akan menyetir. “kok, lo disitu?” tanya Saga sembari memegangi perutnya yang sakit “ya dengan keadaan kaya gini memang kaka mau nyetir? Engga kan?” “lo bisa nyetir mobil gue?” Aleena tampak bingung dan nyengir “mudah-mudahan bisa” Ini adalah kali pertama Aleena menyetir mobil sport yang sangat mewah. Saga mengacak-ngacak rambutnya gusar “hati-hati, nggue gak mau mobil gue lecet gara-gara lo” “astaga kak! nggak usah mikirin mobilnya mikirin tuh bonyok!” Aleena pun melajukan mobil Saga dengan penuh hati-hati. Dengan adu mulut dengan Saga beberapa saat, akhirnya mereka pun sepakat untuk pulang ke studi foto milik Saga. Sesampainya di tempat tujuan Aleena kembali memapah Saga. “sumpah, lo nggak boleh nyetir dengan mobil gue lagi” ucap Saga Aleena hanya tertawa pelan. “mana kuncinya?” tanya Aleena “di saku kanan jaket gue” Aleena pun merogoh saku jaket Saga dengan tangan kirinya sedangkan tangan kananya menyangga tubuh Saga karna dia lemas, ketika saat itu juga mata mereka saling bertatapan Aleena merasa getaran itu kembali hadir. Mereka pun masuk ke dalam rumah “ada kamar di pintu ke 3” ucap Saga Aleena pun membawa Saga ke kamar tersebut dan menidurkannya di kasur. “kak, ada kotak obat nggak?” tanya Aleena “ada di laci deket tv” “asshhh pelan-pelan” Saga meringis ketika Aleena mencoba mengoleskan obat merah pada bekas pukulan di wajah Saga “ngapain sih berantem kaya gitu, jadi bonyok gini kan. Gantengnya ilang tau” kata Aleena keceplosan lalu segera merapatkan bibirnya. “maksudnya tuh emh bukan gitu kak, hmm pokoknya jangan ribut lagi” lanjut Aleena yang masih mengoleskan obat merah Tiba-tiba Saga menggenggam pergelangan tangan Aleena, Aleena pun terdiam dan menatap ke arah Saga begitupun dengan Saga “Thank’s” gumam Saga Aleena mengangguk pelan “udah selesai, kakak tiduran aja istirahat, gue mau bikin teh dulu” Aleena pun membuat teh untuk Saga, ketika mengaduk-ngaduk teh tersebut Aleena sempat tersenyum dan memegangi pergelangan t anganya yang disentuh Saga. “nih kak” kata Aleena memberikan teh manis hangat untuk Saga Saga pun meminumnya dan kembali tertidur Saga begitu terlihat pucat. Aleena pun menyentuh kening Saga “kok jadi panas sih kak ya ampun, kita ke dokter aja yah kak. Kaka jadi demam gini juga.” “gue emang lagi nggak enak badan hari ini” “yaudah kita ke dokter” “nggak usah” Aleena makin bingung harus melakukan apa akhirnya dia kembali ke dapur dan membawa air di wadah lalu mengompres dahi Saga, Aleena tampak sangat khawatir melihat Saga seperti ini. Mata Saga terasa panas dan berat sekali, dia menggigil. “duh, gue nggak mungkin pergi” Akhirnya, Aleena membuat alasan ke mamanya untuk menginap dirumah Belva karena, jika Aleena mengatakan dia berduaan dengan cowok seperti ini sangat tidak mungkin. Beberapa saat kemudian ternyata Saga telah tertidur. Aleena tersenyum “sekarang, nggue gak akan menolak jika cinta itu datang kembali. Tapi, tolong biarkan semuanya berjalan sampai akhir. Jangan pergi disaat cerita baru dimulai” gumam Aleena pelan sembari mengelus lembut dahi Saga. *** Saga mengerjapkan matanya pagi ini dia terbangun dengan kepala yang sedikit pusing, dia memegang dahinya terdapat handuk basah. Dan Saga pun menoleh ke samping ternyata ada Aleena yang tertidur dengan duduk diatas karpet dan kepalanya menyandar ke tempat tidur. Saga pun tersenyum melihatnya. Tiba-tiba Aleena pun terbangun dan menguap “huaaaah” dia terkejut karena Saga sudah bangun terlebih dahulu lalu menutup mulutnya dengan tangannya “kakak udah bangun?” “lo nggak balik?” “gimana mau balik, kakak tuh semalem badannya panas banget gue nggak tega lah ninggalin kakak sendiri” Saga pun bangkit dari tempat tidurnya. “mau kemana?” “lo nggak denger suara bel?” kata Saga lalu hendak keluar dari kamarnya Aleena berdecak kesal “sakit aja masih jutek” Saga membuka pintu lalu dia menatap seseorang yang ada dihadapanya saat ini “ya ampun Ga, kamu nggak apa-apa kan? maafin aku Ga, aku nggak tau kalo Reinhard senekat ini sama kamu” kata Amber seraya memeluk Saga Saga hanya diam tidak menjawab. “siapaa kaa...” kata Aleena mendadak menghentikan langkahnya melihat Saga dan Amber sedang berpelukan Saga pun melepaskan pelukannya “mending lo pergi” “Aku nggak mau pergi, aku mau ngerawat kamu. Loh kok ada dia?” heran Amber melihat Aleena Aleena tersenyum “kenapa? Masalah?” “kaliaan?” kata Amber terbata-bata “pulang” usir Saga “aku mau ngomong sama kamu Ga, berdua aja” kata Amber sembari mendelik ke arah Aleena Aleena melipatkan kedua tangannya di dadanya “yaudah sih tinggal ngomong” kata Aleena seraya pergi dari tempat itu lalu berjalan ke dapur “dari pada gue mikirin tuh si ember bocor mending gue bikin bubur ah buat kak Saga” Aleena pun membuat bubur dengan persediaan bahan makanan di dapur tersebut Aleena tampak penasaran apa yang dibicarakan oleh mereka, dari arah dapur masih bisa terlihat mereka berdua sedang mengobrol. Tiba-tiba Amber terlihat memeluk Saga, namun Saga nampaknya diam. Aleena yang melihat hal itu rasanya hatinya memanas dan mengapa jantungnya seperti melemah. “Awh!” Aleena teriak dengan kencang karena sembari melamun dia memegang panci yang sangat panas Mendengar teriakan Aleena, Saga pun melepaskan pelukan Amber “mending lo balik!” ucap Saga lalu berlari ke arah dapur. Terlihat Aleena sedang mengaduh kesakitan karena, telapak tangannya memerah Saga pun langsung menghampiri dan memegang tangan kanan Aleena yang memerah dan meniupnya “jangan pernah melihat hal yang menyakiti diri sendiri” gumam Saga Aleena tampak tidak mengerti apa yang Saga katakan, tangannya benar-benar kesakitan Saga tengah mengoleskan obat oles ke telapak tangan Aleena. “kak” “hmm” “kak” “hmm” “kaka” “apa?” kali ini Saga menjawabnya dan menatap Aleena Aleena menggeleng pelan. “kakak, gue kan udah nyelametin kaka kemarin. Nah sebagai ucapan terimakasih kakak, minggu besok ngedate sama gue yah?” pinta Aleena dengan wajah puppy eyes nya “enggak” “sekali aja kak, yayayyay?” rengek Aleena “gimana nanti” jawab Saga “fix, gue anggap ini fix” Saga tidak menggubrisnya dia tetap dengan lembut mengoleskan obat luka ke telapak tangan Aleena, membuat Aleena mesem-mesem sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD