Hari pertama pertemuan itu terjadi di ruang rapat lantai dua puluh dua gedung kaca milik grup keluarga Sintia. Ruangan luas dengan meja panjang berwarna hitam, layar presentasi menyala, dan jajaran direksi sudah duduk rapi. Nalendra masuk terakhir. Langkahnya terhenti sesaat ketika melihat sosok yang berdiri di depan layar. Amanda. Bukan Amanda yang dulu ia kenal, yang mengenakan kemeja sederhana, rambut diikat seadanya, dan senyum lembut penuh pengertian. Perempuan di hadapannya kini mengenakan setelan abu-abu elegan, rambut panjangnya terurai rapi, wajahnya tenang dengan tatapan tajam penuh perhitungan. Profesional. Berwibawa. Jauh. Amanda menoleh perlahan saat mendengar pintu terbuka. Mata mereka bertemu. Hanya sepersekian detik. Namun cukup untuk membuat napas Nalendra tercekat

