Sesampainya di Medan, Amanda tidak memberi waktu bagi dirinya sendiri untuk larut dalam kelelahan atau perasaan. Ia langsung bergerak cepat, menemui notaris, menghubungi pengacara keluarga, dan memastikan seluruh dokumen penjualan tanah itu bersih dari sengketa. Tanah warisan yang selama bertahun-tahun diperebutkan kerabat kini resmi berpindah tangan. Semua tanda tangan rampung dalam dua hari. Pada hari ketiga, pembayaran akhirnya masuk. Lima ratus miliar. Angka itu terpampang di layar ponselnya, dingin dan tanpa emosi. Jumlah yang cukup untuk mengubah hidup banyak orang, tapi bagi Amanda, uang itu terasa seperti harga dari kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga. Ponselnya bergetar tanpa henti. Nalendra Tersayang. Nama itu membuat dadanya sesak. Ia menatap layar beberapa detik te

