Tak terasa waktu telah berlalu selama 3 tahun ruka di masa SMP-nya, tanpa memiliki teman yang dapat dia ajak berbagai.
"Yo nak"suara yang nampak familiar bagi ruka.
"Pak guru! "Ruka agak terkejut melihat gurunya.
"Akan aku traktir makan! "Pak guru bersandar di bahu ruka.
Akhirnya mereka berjalan menuju sebuah restoran keluarga yang tidak jauh dari sekolah.
"Ayo makan saja! "Pak guru memakan ramen yang dia pesan.
Ruka menundukkan kepala dan gemetaran dengan perasaan bercampur aduk.
"Pak guru! "Ruka gemetaran.
Pak guru nampak bingung melihat ruka, "jang sedih "katanya.
"Jangan sedih katamu... Kenapa kita makan di kedai nenekku huh! "Ruka dengan penuh amarah melihat neneknya membuat ramen.
"Disini harganya murah masalah buatmu,kau pikir gaji guru besar huh! "Wajah malas pak guru melihat ruka.
Ruka makin kesal dan melihat kakeknya tersenyum sambil memberikan celemek.
"Hari ini aku libur kakek! "Ruka mencoba berlari namun terhenti karena kepalanya di cengkram.
Kakek ruka tetap tersenyum dan memasang celemek ke tubuhnya.
"Dasar, (ramai juga hari ini) "ruka dengan wajah bodoh melihat para pelanggan.
Ruka mulai melayani pelanggan dengan ramah, termasuk semua pelanggan yang nampak amat dekat dengannya.
"Dia mirip sekali dengan ayahnya"pak guru dengan tenang meminum alkoholnya.
Nenek ruka tersenyum dan menuangkan alkoholnya ke dalam gelas.
"Ini Gratis silahkan dinikmati! "Nenek ruka tersenyum kepada pak guru.
Pak guru teringat akan kenangan kebersamaan dia dengan ayah ruka saat masih muda.
Karena kondisi kakek ruka yang muda kelelahan, ruka mengantikan kakeknya memasak pesanan.
"Pesan nomor 5 telah siap "ruka tersenyun senang.
"Baik"terlihat tangan kecil mengangkut pesanan.
Ruka mulai memasak lagi namun teringat, "kenapa kau ada disini woi! "Ruka terkejut melihat freya.
"Huh, hidup ini berat kawan tak kerja tak makan"freya dengan logat keren melihat ruka.
"Bodoh, sejak kapan kau butuh makan! "Ruka menunjuk freya yang meratapi hidupnya.
"Dia sudah membantu kedai selama seminggu saat kamu bersekolah"kakek ruka tersenyum melihat freya, "dan paling menguntungkan dia tidak perlu di gaji "terlihat senyuman jahat terampil di wajahnya.
Ruka dengan wajah agak geli melihat kakek dan neneknya, "kejamnya "ruka gemetaran.
Akhirnya waktu berlalu tak terasa sudah malam hari, kedai yang telah ditutup sekitar jam 8 malam khusus hari senin.
Di ruang tamu nenek ruka menyentuh kakinya yang terlihat amat letih, karena kesibukan hari ini.
Ruka melihat kaki neneknya dan menyentuhnya dengan sangat lembut, terlihat cahaya muncul dari tangan ruka.
Saat cahaya menghilang kaki neneknya mulai merasa enakkan, dan seluruh tubuh neneknya terasa bugar kembali.
"Sihir penyembuh "freya agak terkejut melihat ruka.
"Sihir penyembuh katanya, cebol bisa guyonan juga hahahah"Ruka tertawa terbahak-bahak.
"Tarik kembali kata-katamu huh"freya menarik kerah baju ruka.
"Tidak akan bodoh! "Ruka mengejek freya.
Ruka dan freya mulai dipisahkan dengan neneknya, nenek ruka berdiri dan tersenyum manis.
"Mau nenek buat kan apa"katanya.
"Buatkan ya, naikan gaji aku selama bekerja! "Ruka dengan wajah keren.
Seperti biasa nenek ruka tersenyum manis, "dalam mimpimu"nenek ruka berjalan ke dapur.
"Tch"ruka berdecak malas.
Freya melihat tangan kiri ruka yang terbuat dari lengan buatannya.
"Sulit banget digerakan tangan kiri ini! "Ruka mencoba memakai sumpit.
"Jangan pilih-pilih masih mendingan aku buatkan lengan palsu yang dapat bergerak "freya menahan amarahnya.
Freya menunjuk ke lengan kiri ruka ,"woi kenapa kau tidak menggunakan sihir penyembuhan itu, kepada dirimu sendiri jika sudah di tingkat lanjut sihir itu dapat menumbuhkan lenganmu lagi"kata freya dengan nada malas.
Ruka melihat lengan kirinya, "bukan nya enggak mau, sebenarnya aku tidak bisa"kata ruka.
Freya terkejut mendengar perkataan ruka, "sudah aku bilang ini bukan sihir, kemampuan ini aku dapatkan saat aku dilahirkan bodoh! "Ruka dengan nada mengejek melihat freya.
Freya menahan amarah nya,"Aneh bukan, aku mendapatkan kekuatan ini namun tidak bisa digunakan pada diri sendiri "ruka tersenyum sambil mencoba menggunakan sumpit dengan tangan kirinya.
"Dan juga kau bilang ini sihir penyembuh lihat ini"ruka mematahkan sumpit dengan tangan kirinya.
Terlihat sebuah cahaya muncul di sumpit, sumpit mulai menyambung dan kembali seperti semula bahkan terlihat seperti baru.
"Lihat, ini bukan sihir penyembuh "ruka dengan nada malas.
Freya dengan kagum melihat ruka, namun saat freya mencoba mengatakan sesuatu yang nampak dipahaminya.
"Kekuatanku tidak bisa membuat seseorang menjadi muda lagi, lagipula bukannya menjadi tua sebuah kenikmatan bagi mahluk hidup iya kan nenek"ruka melihat neneknya yang memasak di dapur.
Neneknya mengacungkan jempolnya ke arah ruka dan freya di belakangnya.
Freya terkejut dan menundukkan kepalanya, dia hanya diam saja dan tetap beharap emily menjadi muda lagi.
Waktu berlalu di malam hari freya melihat cahaya bulan menyinari rumah ini.
"Apa aku mengganggu "terdengar suara di samping freya.
"Emily, tidak sama sekali "freya duduk agak bergeser ke kiri.
Emily duduk dan freya sambil melihat bulan malam yang amat terang.
"Menjadi tua adalah kenikmatan bagi mahluk hidup ya"freya menundukkan kepalanya.
"Dia benar-benar mirip seperti mendiang ayahku "emily tersenyum manis.
Freya memeluk kakinya sambil menutup wajahnya, "ya reiji mirip sekali dengan nya, yang membedakan hanya sifatnya saja bikin kesal saja! "freya mengigit kukunya menahan amarahnya.
"Hahahah, walaupun sudah 80 tahun anda tetap sama seperti dulu ya freya"emily tertawa kecil.
Freya melihat ke arah emily, "aku sudah berubah dasar!"freya menggembungkan pipinya sambil memalingkan wajah.
Saat freya melihat ke arah emily lagi dia terkejut karena emily bersujud, "emily apa yang kau lakukan hentikan! "Freya panik dan merasa canggung.
"Kumohon lindungi cucuku, dia memang ceroboh dan tidak sopan namun dia anak yang baik"emily dengan wajah masih berada di lantai.
Freya terdiam dan dia menampilkan senyuman kecil, "baik aku bersumpah dengan nyawaku"freya menyentuh dadanya.
Emily mulai mengangkat kepalanya lagi dan duduk bersama freya sambil melihat bulan.
"(Reiji Nampaknya semangat dan tekad mu, telah di wariskan kepada cicit mu )"freya teringat akan reiji saat masa-masa dia menggunakannya dalam pertarungan.
Bersambung.